Bad Wedding

Bad Wedding
Part 87



Deg.


Jantung Alena terasa berhenti berdetak saat mendengar perkataan Abian, kalau pria itu tenyata sudah mengetahui dirinya adalah Al. Tapi jika memang Abian sudah mengetahuinya, kenapa saat di perusahaan Gold pria itu memanggil Alana dengan Al? Karena yang ia ketahui, Abian pada saat itu mengenalnya sebagai Alana.


Dan semua kebingungan yang dirasakan Alena hanya memiliki satu jawaban, yaitu pada saat mereka bertemu di perusahaan Gold, Abian sebenarnya sudah mengetahui dirinya adalah Alena bukan Alana. Dan tujuan pria itu berpura-pura tidak mengenalnya, hanya untuk membuat Alena lengah sehingga bisa menemukan keberadaannya.


"Aku sangat menyesal sudah menyakitimu Alena, menyakiti wanita yang sangat aku cintai," Abian terisak dengan tubuh meluruh kebawah, berlutut di depan wanitanya tanpa peduli dengan harga dirinya sebagai seorang pria.


"Kenapa baru sekarang Bian, kenapa?" hanya kata itu yang mampu terucap dari bibirnya dengan linangan air mata. "Kenapa lama sekali bagimu untuk mengenaliku?"


"Karena aku bodoh! Aku bodoh tidak bisa mengenali cintaku."


"Ya, kau memang bodoh dan aku membencimu sangat membencimu." Teriak Alena sambil terisak. "Tahukah kau? Disini sakit," ia menunjuk dadanya yang terasa sesak. "Demi bisa bersamamu. Setiap hari, setiap malam yang aku lewati penuh dengan air mata."


"Maaf..." hanya itu yang bisa Abian ucapkan. Sungguh ia sangat menyesal sudah menyakiti jiwa dan raga istrinya.


"Pergilah! Aku tidak ingin melihatmu," Alena hendak menutup pintu.


Namun dengan cepat Abian menahan pintu tersebut lalu berdiri. "Hukum aku Alena, tapi aku mohon beri aku kesempatan."


Alena menggelengkan kepalanya dengan senyum penuh luka, air mata bahkan terus mengalir di kedua pipinya sebagai luapan emosi yang tertahan selama bertahun-tahun lamanya.


Melihat bagaimana Alena menangis tentu saja membuat Abian sakit, ia kembali memeluk wanitanya dengan erat. "Aku mohon jangan menangis!"


"Pergilah Abian!"


"Aku—"


"Mommy.. Mom..."


Baik Alena maupun Abian terdiam saat mendengar suara tangis anak kecil dari dalam ruangan.


"Anakku..." Abian yang teringat dengan anaknya hendak masuk kedalam.


"Berani kau masuk, aku akan sangat membencimu!" ancam Alena yang mampu membuat Abian menghentikan langkahnya.


"Al aku hanya ingin melihat anakku."


"Anakmu?" Alena tertawa sinis sembari mengusap air matanya. "Keluar Abian! Atau aku akan memanggil pihak keamanan untuk mengusirmu!"


"Oke aku akan keluar," putus Abian pada akhirnya. Karena tidak mungkin memaksakan kehendak untuk masuk ke dalam melihat putranya. Bagi Abian sudah cukup hari ini bisa memeluk wanita nya dan meminta maaf, karena jika dipaksakan ia takut Alena akan melarikan diri lagi. "Aku akan tetap berada di luar, menunggu sampai kau memaafkan aku."


Alena tidak menggubris perkataan Abian, dengan cepat ia menutup pintu apartemen dan menguncinya lalu masuk ke dalam kamar untuk melihat keadaan putranya.


"Mommy disini sayang," Alena menggendong Bian yang terlihat menangis di atas tempat tidur, berusaha menenangkannya meskipun hatinya sendiri sedang tidak baik karena kedatangan Abian. "Kenapa baru sekarang kau mengetahui semuanya? Kenapa baru sekarang setelah semuanya terlambat? Bahkan setelah mengetahui aku adalah Al, kau tetap memilih Alana bahkan akan menikahinya."


Ya, kenyataan itulah yang membuat Alena kembali terluka. Karena Abian akan menikah dengan Alana, meskipun pria itu tahu saudara kembarnya bukan lah Al. Dan semua yang tadi diucapkan Abian, bahwa dia adalah wanita yang sangat dicintai pria itu hanyalah sebuah kepalsuan belaka. Karena sejatinya dari dulu hingga saat ini, posisinya hanyalah sebagai cinta pertama yang tidak memiliki arti apa pun di hidup seorang Abian Atmajaya.