Bad Wedding

Bad Wedding
Part 89



Sementara itu Alena yang yang berada di dalam apartemen, tengah berjalan mondar-mandir di ruangan menunggu kedatangan Alex, karena sudah lebih dari satu jam pengawal pribadinya itu belum juga kembali. Padahal biasanya Alex akan datang secepat kilat, saat dirinya dalam kesulitan. Karena sudah tidak sabar, bercampur rasa takut saat mengetahui Abian masih berada di depan pintunya, Alena pun berinisiatif menghubungi Alex.


"Kenapa tidak diangkat?" gerutunya.


Karena kesal dan lelah berjalan bolak-balik di ruangan tersebut, Alena pun memilih duduk di atas sofa.


"Mom..." Bian berjalan mendekat, memberikan mobil mainnya pada sang Ibu.


"Bian ingin mommy ikut bermain?" tanya Alena dengan tersenyum.


Bian menganggukkan kepala. "Uncle Alex nana?"


Alena tertawa mendengar celotehan putranya yang terkadang berbicara dengan jelas, namun terkadang tidak jelas. Sangat menggemaskan bukan.


"Uncle Alex sedang bekerja, Bian main sama Mommy saja oke."


Bian kembali menganggukkan kepala, menarik tangan Mommy nya untuk duduk di bawah menemaninya bermain mobil-mobilan.


Dengan senang hati Alena pun menemani putranya bermain, tertawa sembari sesekali mengerjai Bian sampai anaknya itu menangis lalu tertawa kembali. Hanya di saat-saat seperti ini lah Alena bisa melupakan semua permasalahan dalam hidupnya, bermain bersama putranya hingga tak terasa waktu bergulir dengan cepat. Sampai terdengar suara bel pintu yang menggangu kesenangan ibu dan anak tersebut.


Tadinya Alena tidak mau menggubris, karena menyangka itu semua kerjaan Abian yang ingin masuk kembali ke apartemennya. Namun saat mendengar suara wanita yang sangat di kenalinya, Alena pun segera berlari menuju pintu untuk memastikan pendengarannya tidak salah.


"Alana..." ia menutup mulut dengan kedua tangannya, karena terkejut saat mengetahui tebakannya benar. Diluar sana saudara kembarnya tengah berteriak memanggil namanya.


"Alena buka pintunya! Aku tahu kau mendengar ku." teriak Alana dengan tidak sabaran.


"Alena aku mohon buka pintunya! Apa kau tidak merindukanku?"


Alena yang bingung harus melakukan apa, memilih mengabaikan keberadaan saudara kembarnya. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena Alana yang tidak mau menyerah dan terus berteriak, membuat Alena mau tidak mau membuka pintu untuk saudara kembarnya itu.


Cklek.


"Alena... " Alana langsung memeluk adiknya dengan perasaan haru, air mata bahkan menetes tanpa ia sadari karena tidak menyangka bisa bertemu kembali dengan saudara kembarnya. "Aku sangat merindukanmu," ucapnya dengan lirih.


"Aku juga," Alena membalas pelukan saudara kembarnya. Ya, semarah apa pun dirinya pada Alana, tetap saja tidak bisa membuat rasa sayang diantara mereka menghilang.


"Kenapa hanya aku yang tidak bisa menemuimu? Aluna, Mom, Daddy..." Alana tidak bisa berkata-kata, meskipun sebenarnya ada Alona juga yang tidak diperbolehkan menemui Alena. "Sebenci itu kah kau padaku?"


"Tidak bukan itu, hanya saja .."


"Kau jahat!"


"Maaf Al..." ucap Alena dengan sangat menyesal.


"Kau jangan meminta maaf, aku lah yang seharusnya meminta maaf padamu." Alana mengurai pelukannya, mengusap air mata di kedua pipi Alena dan pipinya sendiri. "Boleh aku masuk? Ada banyak hal yang ingin ku sampaikan."


Alena terdiam sesaat, matanya menatap pada Abian yang sejak tadi berdiri dibelakang Alana. Bukanya dia tidak tahu, sejak tadi pria itu memperhatikan apa yang terjadi dengan raut wajah tak terbaca. Entah apa yang ada di dalam pikiran Abian. Apakah pria itu menyesal sudah membuat hubungan antara dua bersaudara pecah, atau justru pria itu bangga karena pernah menjadi rebutan diantara mereka.