Bad Wedding

Bad Wedding
Part 38



"Aku bertanya, kau ikut kemana?" Abian mengulangi pertanyaannya tanpa menjawab pertanyaan Alena.


"Oh.. itu, besok aku ikut belanja dengan Bi Yanti," jawab Alena dengan tersenyum. Menutupi kegugupannya dengan jantung yang berdetak dengan cepat.


"Siapa yang mengijinkanmu? Sudah kukatakan kau tidak boleh keluar dari rumah ini!"


"Tapi Abian, aku hanya ingin menemani Bi Yanti belanja bulanan."


"Iya Tuan, Non hanya ingin menemani Bibi belanja," jelas Bi Yanti.


"Aku tidak bertanya padamu!" Abian berkata dengan tegas, matanya menatap tajam pada pelayannya hingga membuat bi Yanti menundukkan kepala. "Dan kau! Cepat buatkan minuman untukku," ucapnya sambil berlalu dari ruangan tersebut.


"Tunggu Abian!" Alena menahan tangan suaminya. Namun di detik berikutnya ia lepaskan, saat mata tajam pria itu menatap tangannya yang sudah lancang menyentuh lengan berotot tersebut. "Aku mohon ijinkan aku pergi, lagi pula aku ikut belanja hanya ingin membantu Bi Yanti," pinta Alena. Karena tidak ingin rencana yang sudah ditunggu-tunggunya sejak beberapa hari yang lalu, hancur berantakan apalagi sampai gagal.


"Aku bilang tidak, ya tidak!" ucap Abian dengan tegas.


"Tapi..." belum sempat menyelesaikan ucapannya, pria itu sudah lebih dulu pergi ke ruang kerjanya.


"Ya Tuhan bagaimana ini? Aku tidak sanggup jika harus tetap tinggal di rumah ini lebih lama lagi," gumamnya dalam hati dengan perasaan sedih.


"Non jangan bersedih! Nanti Bibi coba bicara lagi dengan Tuan supaya mengijinkan Nona ikut," ucap Bi Yanti mencoba menghibur Nona nya.


"Serius Bi?" tanya Alena tak percaya, yang dijawab anggukan kepala oleh pelayannya. "Apa Bibi tidak takut dimarahi lagi seperti tadi?"


"Ya ampun terima kasih Bi," Alena memeluk pelayannya.


"Sudah Non, lebih baik sekarang Nona buatkan susu coklat untuk Tuan."


Alena menganggukkan kepalanya, membuat minuman untuk Abian lalu membawanya ke ruang kerja pria itu. Dan seperti yang sudah-sudah, Alena akan duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan tersebut sampai suaminya itu menghabiskan minuman yang dibuatnya.


Sementara itu Abian yang tengah fokus pada pekerjaannya, sesekali menatap pada Alena yang duduk di atas sofa tepat dihadapannya. Selama beberapa hari ini mencuri pandang wajah Alena, entah mengapa untuk kali ini terasa berbeda. Ada sesuatu yang sulit di ungkapkan dengan kata-kata, ada kesedihan yang menyesakkan tapi dia sendiri tidak tahu apa yang membuatnya sedih. Seperti ada sesuatu yang akan hilang, tapi Abian tidak tahu itu apa. Dan rasa itu terus bergemuruh di dalam hatinya setiap kali melihat wajah Alena.


"Apa ada yang kau butuhkan?" tanya Alena saat menyadari Abian menatapnya.


"Tidak ada," jawab Abian dengan ketus saat tersadar dari lamunannya, berusaha untuk kembali fokus pada pekerjaan.


Alena pun kembali diam, menatap sekeliling ruang kerja tersebut terutama rak buku yang ada di pojok ruangan. Merasa bosan hanya duduk diam di atas sofa, dia pun memberanikan diri berjalan menuju rak tersebut, melihat satu persatu koleksi buku milik Abian, sampai padangan matanya tertuju pada satu buah album foto yang berada di rak paling atas.


"Kau itu lancang sekali! Mengambil barang milik orang tanpa ijin!"


Alena yang di sentak sampai terkejut dan tanpa sengaja menjatuhkan album foto tersebut.


"Maaf aku tidak bermaksud untuk lancang," Alena menunduk untuk mengambil album foto yang terjatuh.


"Tidak bermaksud kau bilang? Tapi yang aku lihat memang sudah menjadi hobimu mengambil sesuatu dari orang lain tanpa ijin," sindir Abian dengan tersenyum sinis.