Bad Wedding

Bad Wedding
Part 57



Sementara itu di mansion utama. Aluna menatap kepergian mobil yang ditumpangi Alena dengan menangis. Bagaimana tidak menangis setelah mengetahui apa saja yang dialami oleh saudara kembarnya selama ini.


Ya, tadi sebelum berangkat Alena sempat menceritakan semua yang di alaminya, setelah Aluna memaksa dengan mengancam akan memberitahu kedua orang tua mereka. Dan apa yang keluar dari mulut Alena membuatnya tercengang, bahwa selama ini Abian tidak hanya melukai fisik saudara kembar, tapi juga melukai batinnya hingga membuat Alena yang dulu tangguh kini menjadi wanita yang rapuh.


Sungguh Aluna merasa sangat bersalah, terlebih saat mengetahui Alena tengah hamil. Rasa bersalah itu menjadi berkali lipat, hingga membuatnya begitu marah dan membenci Abian.


"Abian Atmaja kau harus merasakan penderitaan yang lebih dari apa yang dirasakan Alena," dengan linangan air mata, Aluna menghubungi nomer sepupunya. "B kau dimana?"


"Kau tidak perlu tahu aku dimana."


"Aku harus tahu, karena aku ingin bertemu langsung dengan bajingan itu!" geramnya dengan penuh emosi. "Dia sudah melukai Alena, dia sudah menyakiti saudara kembar ku," teriak Aluna dengan terisak.


Boy yang berada di markas tim Delta, mencengkram erat ponsel ditangannya saat mendengar tangis Aluna. Jangankan Aluna, Boy yang ikut mendengar apa yang diceritakan Alena melalui kamera CCTV pun ikut menangis.


"B kau dengar aku!" teriak Aluna saat tak mendengar jawaban dari sepupunya.


"Ikutlah dengan pengawal yang ada di mansion, mereka akan membawamu kemari."


Aluna langsung menutup ponselnya, lalu meminta pada pengawal untuk membawanya ketempat Boy Arbeto.


"Akan aku pastikan tidak hanya fisikmu saja yang terluka, tapi batinmu juga. Setelah kau mengetahui siapa sebenarnya Alena," gumamnya sembari masuk ke dalam mobil.


*


*


"Aku harap kau akan baik-baik saja Bian, begitupun dengan aku dan anak kita," gumam Alena sembari mengusap perutnya.


"Nona Anda kenapa?" tanya Alex. Karena sejak tadi ia melihat dari kaca spion nona Alena menangis. Pemandangan yang menurutnya sangat langka, karena selama ini ia bekerja pada keluarga besar Arbeto, Mateo, tidak pernah sekalipun Alex melihat para keturunan wanita tersebut rapuh seperti nona Alena. Entah apa yang dialami wanita itu, tapi yang jelas Alena Ricardo terlihat hancur baik dari dalam maupun luar.


"Aku tidak apa-apa," jawab Alena dengan singkat.


"Apa Anda membutuhkan sesuatu?"


Alena mengusap air matanya dengan kening yang berkerut. "Aku ingin membeli susu dan beberapa cemilan, bisa kita berhenti di supermarket terdekat?"


"Tentu saja," jawab Alex. Ia terus menatap wajah Alena meski hanya melalui kaca spion.


"Oh ya, kau akan membawaku kemana?" Karena setahu Alena, Boy mengatakan akan memberikan tempat yang aman dan nyaman, terutama jauh dari jangkauan Abian dan keluarganya.


"Nanti Anda juga akan tahu."


Alena menganggukkan kepalanya, meskipun tahu Alex mungkin tak melihatnya. Karena pria itu duduk di kursi depan sementara dirinya duduk di kursi belakang. Tapi yang tidak diketahui Alena, Alex melihat apa yang dilakukan wanita itu. Karena memang sejak tadi dia menatap Alena tanpa sedetikpun melepaskan tatapannya.