
"Karena apa?" Alena menatap pada Alex yang terdiam.
"Nona Alana meminta Anda untuk datang di hari pernikahannya."
"Apa?" Alena menatap tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Kau jangan bercanda Alex!" Alena yakin, saudara kembarnya itu tidak akan bersikap kejam seperti itu dengan memintanya datang di hari pernikahan mereka.
"Aku tidak bercanda," Alex mengambil sebuah amplop dari saku jas nya, lalu memberikannya pada Alena. "Tuan B memberikan surat itu pada saat aku ke Jakarta, untuk mengurus perceraian mu. Beliau mengatakan surat itu dari Nona Alana, yang meminta secara khusus untuk kau datang di hari pernikahannya."
Alena menatap amplop yang ada di tangannya, lalu membukanya dengan perlahan.
...Dear Alena....
...Sudah lama sekali rasanya aku tidak bertemu denganmu. Tiga tahun kau menghilang tanpa kabar berita, bahkan aku tidak tahu sama sekali dimana keberadaanmu....
...Apa kau tahu Alena? Aku sangat terkejut mengetahui apa yang terjadi diantara kau dan Abian. Apalagi saat mengetahui kalian memutuskan untuk bercerai....
...Entah apakah aku harus merasa sedih atau bahagia mendengar kabar perceraian kalian, tapi satu yang pasti, aku ingin meminta maaf atas semua yang terjadi di antara kita. Walaupun semua yang telah terjadi bukan hanya aku yang melakukan kesalahan, kau juga melakukan kesalahan dengan tidur bersama Abian, padahal kau tahu jelas Abian calon suamiku....
...Tapi yang sudah terjadi anggaplah hanya sebagai masa lalu yang harus kita tutup rapat, dan sekarang bolehkah aku mendapatkan kebahagiaan yang sempat kau ambil? Ya, aku akan menikah dengan Abian, meskipun tahu apa yang kulakukan akan membuatmu terluka....
...Alana....
Alena menutup surat yang sudah dibacanya dengan tersenyum. "Apa kau tahu kapan Alana dan Abian akan menikah?" tanya Alena.
"Dua Minggu setelah putusan perceraian kalian, tepatnya tanggal dua puluh lima bulan ini, dan pernikahan itu akan diselenggarakan secara tertutup mengingat Tuan Antoni dan Nyonya Daisy yang tidak merestui pernikahan tersebut."
Alena tersenyum miris mengetahui pernikahan Alana dan Abian yang tidak direstui kedua orangtuanya, sama seperti dulu saat dirinya menikah dengan Abian yang tidak direstui oleh kedua belah pihak keluarga. Sungguh miris sekali kehidupan yang dijalani Alena dan Alana, bagaikan roda yang berputar mereka merasakan apa yang pernah dialami satu dan lainnya, bahkan mereka menikah dengan pria yang sama.
"Baiklah kita akan ke Jakarta," putus Alena pada akhirnya. Karena kerjasama dengan pihak Gold berdekatan dengan tanggal pernikahan Alana dan Abian.
Ya, Alena memutuskan untuk hadir dalam pernikahan saudara kembar dengan mantan suaminya itu. Karena ia ingin melihat kebahagiaan di wajah Alana, terutama Abian. Alena tidak bisa membayangkan betapa bahagianya pria itu, yang akhirnya bisa bersatu dengan wanita yang sangat dicintainya.
"Apa kau yakin?" tanya Alex.
"Tentu saja, bukankah tadi kau mengatakan sudah cukup bagiku bersembunyi dari semua orang. Lagi pula sudah tidak ada lagi yang perlu aku takutkan, Abian tidak akan menyakitiku lagi karena dia akan mendapatkan kebahagiaannya. Lagi pula ada kau di sisiku, dan aku percaya kau akan selalu melindungiku dan Bian."
"Ya, aku akan selalu menjaga kalian," ucap Alex dengan sepenuh hati. "Bahkan sampai menyakiti hati seorang wanita demi terus menjaga kau dan Bian. Karena bagiku menjalani sebuah tugas adalah nomer satu, tidak ada yang lain apalagi yang berkaitan dengan perasaan." gumamnya dalam hati namun tidak terlalu yakin, karena setelah berpisah dengan Kaylin yang ia yakini tidak pernah mencintai wanita itu, Alex justru merasa sangat kehilangan sosok Kaylin yang membawa warna tersendiri di dalam hidupnya.