
"Tidak mungkin Alana ada dua kan?" gumamnya dengan tertawa sinis. Namun tawa itu langsung menghilang saat ia menyadari sesuatu, dan merangkai kejadian yang dialaminya sejak kemarin bersama Alana. Dimana wanita itu bersikeras tidak mengenalnya, bahkan menangis saat ia sentuh tadi." Sial!" umpatnya dengan kasar sembari menekan tombol lift.
Begitu pintu terbuka, Sky segera berlari keluar untuk mencari wanitanya. Ia mencari ke segala arah bahkan sampai mencari ke luar gedung perkantoran hanya untuk memastikan kecurigaannya.
"Dimana dia?" Sky terus mencari dengan perasaan yang kalut. Jika memang dugaan benar, Alana ada dua yang artinya memiliki kembaran. Maka ia merasa sangat bersalah pada wanita yang dipanggil Abian dengan nama Ale.
Sementara itu ditempat yang berbeda, Abian yang membawa Alena ke atas rooftop gedung perusahaannya kini tengah memeluk wanitanya yang sejak tadi menangis dengan terisak.
"Maaf sudah membuatmu menangis," Abian mengusap punggung Alena yang terlihat naik turun.
"Lepas Abian!" Alena kembali berontak untuk kesekian kalinya. Sejak ia dibawa ke atas rooftop entah sudah berapa kali dirinya memberontak.
"Aku tidak akan melepasmu, sebelum kau memaafkanku."
"Kau selalu meminta maaf, tapi kembali mengulangi kesalahan mu dengan menyakitiku lagi dan lagi. Bagaimana bisa kau menuduhku memiliki hubungan dengan Sky?" Alena menatap tajam pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu meskipun tiga tahun lamanya mereka hidup terpisah. "Tahu kah kau Abian, dari dulu sampai detik ini aku hanya menjalin hubungan dengan satu pria. Hanya denganmu Abian Atmajaya, bahkan sejak aku mengenal apa itu cinta." Alena kembali menangis saat mengingat luka hatinya yang tidak pernah di anggap oleh Abian. Oleh pria yang sangat dicintainya.
"Ale..." Abian kembali memeluk wanitanya dengan erat, ikut menangis dengan rasa penyesalan yang teramat dalam saat mengingat kekejamannya dulu memperlakukan Alena. "Maaf.." hanya itu yang bisa ia ucapkan, walaupun tahu semua kata maafnya tidak akan bisa menyembuhkan luka di hati wanitanya.
"Apa salahku Abian? Apa salahku pada kalian? Kenapa kalian memperlakukanku tidak baik. Kau, Sky..." ia tidak bisa meneruskan perkataannya saat mengingat apa yang sudah dilakukan Sky tadi. Alena merasa jijik saat bibir pria itu menyentuh kulitnya, bahkan meninggalkan bekas di tubuhnya.
Tangan Abian terkepal erat saat mendengar rintihan kesedihan Alena, ia pun masih tidak terima dengan apa yang diperbuat Sky. Kalau saja tadi tidak dihalangi Alena, pasti temannya itu sudah habis ditangannya.
"Aku akan memberikan perhitungan lagi dengannya," Abian melepaskan Alena. Tujuannya saat ini hanya satu, membuat Sky berlutut meminta maaf pada wanitanya yang sudah dibuat menangis.
"Kau mau kemana?" melihat sorot kemarahan di mata Abian, membuat Alena ketakutan. Ia takut kedua pria itu kembali bertarung.
"Aku akan mengembalikan kehormatanmu, dengan membuat si brengsek itu berlutut meminta maaf." Abian melangkahkan kakinya dengan lebar.
"Jangan Abian," Alena mengejar suaminya dengan tergesa-gesa. "Aku mohon jangan!" ucapnya setelah berhasil menyusul.
"Dengar Ale! Aku ingin si brengsek itu membayar apa yang sudah dilakukannya."
"Dia sudah mendapatkannya, bukankah kau sudah membuatnya babak belur."
"Tapi itu belum cukup, aku ingin dia meminta maaf padamu."
"Tidak perlu..." Alena menundukkan kepalanya.
"Kenapa? Kenapa sejak tadi kau selalu melarangku?"
"Karena aku takut kau terluka," teriak Alena dengan emosi.
Kenapa Abian tidak pernah mengerti dirinya. Ia sanggup menanggung semua luka yang diberikan pria itu, tapi tidak akan pernah bisa jika melihat orang yang dicintainya itu terluka. Bodoh memang, tapi itulah Alena, wanita yang sangat mencintai Abian Atmajaya dengan semua kesakitan di dalamnya.