Bad Wedding

Bad Wedding
Part 116



Keesokan harinya.


"Selamat pagi sayang..."


Alena yang masih mengantuk, perlahan membuka kedua matanya.


"Selamat pagi juga," ucapnya dengan tersenyum lalu kembali menutup kedua matanya. Namun itu hanya sesaat, karena kedua matanya kembali terbuka dengan lebar saat menyadari sosok pria yang berbaring di sampingnya. "Abian apa yang kau? Ah...." Alena berteriak saat tersadar posisinya yang tengah memeluk tubuh kekar Abian Atmajaya.


"Kenapa kau terkejut?" Abian mendudukkan tubuhnya sembari bersandar pada headboard, menatap lekat wajah istrinya yang terlihat tetap cantik meskipun baru terbangun dari tidurnya.


"Dimana Bian?" Alena balik bertanya tanpa mempedulikan pertanyaan Abian, matanya menatap seluruh ruang kamar mencari keberadaan putranya.


"Dia sedang tidur di kamarnya."


"Tidur di kamarnya?" Alena mengerutkan keningnya dengan wajah yang bingung, karena seingatnya tadi malam mereka tidur bertiga.


"Tadi malam aku memindahkan Bian ke kamarnya," ucap Abian dengan tertawa, saat melihat wajah Alena yang kebingungan.


"Apa? Jadi tadi malam kau dan aku—"


"Ya, kita tidur berdua. Apa kau lupa memelukku dengan begitu erat," Abian sengaja menggoda Alena, menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.


"Abian lepas! Kau itu keterlaluan sekali, memindahkan Bian ke dalam kamarnya! Apa kau lupa putra kita sampai menangis karena ingin tidur bersama ke-dua orang tua nya," Alena benar-benar marah dengan apa yang dilakukan suaminya.


"Alena aku hanya—"


"Keluar Abian!"


"Tapi Alena aku...."


"Mommy.. Daddy..." Bian berlari masuk ke dalam kamar lalu naik ke atas tempat tidur.


"Bian..." Alena menatap putranya dengan bingung, karena anak nya sudah terlihat segar dan wangi dengan pakaian yang rapih.


"Pagi-pagi sekali Bian sudah bangun, aku memandikannya lalu kita menyiapkan sarapan pagi," Abian mengacak-acak rambut putranya dengan gemas. "Tadi itu aku hanya bercanda, lagi pula mana tega aku memindahkan putra kita ke kamarnya." ucap Abian kembali sembari beranjak dari tempat tidur.


"Abian..."


"Cepat bersihkan dirimu! Kalau tidak, kita akan terlambat ke kantor." Abian mengendong putranya hendak keluar dari dalam kamar.


"Abian tunggu!"


Langkah kaki Abian terhenti, diam berdiri di tempatnya tanpa menengok kebelakang.


"Aku minta maaf, karena sudah berprasangka buruk."


"Lupakan saja, itu hanya masalah sepele." Abian kembali melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar, menyisakan Alena yang masih terdiam di atas tempat tidur dengan perasaan bersalah, karena sudah menuduh Abian yang tidak-tidak.


Setelah selesai membersihkan diri, dan sarapan pagi. Abian dan Alena berangkat ke kantor setelah sebelumnya menitipkan Bian pada Ibu Ayuning.


Ya, begitulah kehidupan Abian dan Alena setiap harinya. Abian yang terus berjuang untuk meluluhkan hati Alena melalui putranya, dan Alena yang sekuat hati menahan perasaannya yang mulai goyah karena semua perlakuan romantis dan manis yang dilakukan Abian Atmajaya.


Dan bukan hanya bersikap romantis saja, tapi Abian pun sangat posesif sampai membuat Alena menghela napas berulangkali. Pria itu bahkan memberikan aturan yang tidak masuk di akal, dengan melarang karyawan pria berhubungan langsung dengannya. Dan jangan lupakan dua orang pengawal yang selalu menjaganya kemana pun jika Abian sedang ada pekerjaan di luar.


Tidak ketinggalan, setiap harinya Abian pun akan tidur di dalam kamarnya, entah dengan berbagai alasan yang membuatnya mau tidak mau menerima pria itu tidur satu ranjang bersama dirinya dan Bian.