
"Bi..."
"Ya sayang.. (Ya, Mom..)" ucap Abian dan Bian bersamaan, menatap pada wanita cantik yang tengah berkutat di ruang makan, sedang menyiapkan makan malam untuk mereka.
Sementara Alena hanya bisa menghela napasnya dengan lelah, menatap kedua pria yang menyahut panggilannya secara bersamaan. Entah sudah berapa kali kejadian itu terulang, karena ia yang melupakan bahwa di apartemennya kini bukan hanya ada dirinya dan juga Bian saja, karena sejak kemarin malam Abian sudah tinggal bersama mereka.
Ya, setelah perdebatan mereka akhirnya Alena mau mengikuti permintaan Abian untuk tinggal bersama selama satu bulan, dan di sinilah mereka berada sekarang, di ruangan yang sama seperti sebuah keluarga pada umumnya. Abian yang menemani putra mereka bermain Lego, dan dirinya yang sedang menyiapkan makan malam.
"Ada apa sayang?" Abian mendekat pada Alena saat wanita itu hanya diam saja setelah memangil dirinya atau mungkin memanggil putra mereka.
"Abian aku itu memanggil putraku, dan satu lagi jangan panggil aku sayang!" ketus Alena dengan kesal. Bisa-bisanya pria itu memanggilnya dengan kata sayang, sementara hubungan mereka masih dingin.
"Oh.. aku kira kau memanggilku," dengan santai Abian duduk di kursi makan. Menatap Alena yang dengan cekatan menyiapkan makan malam untuk mereka. Di saat itu lah ada perasaan bersalah yang menyesakkan hati, saat mengingat bagaimana kekejamannya dulu yang tidak pernah mau memakan masakan yang dibuat Alena, bahkan dulu dirinya sempat melempar makanan yang sudah disiapkan oleh istrinya itu dengan tanpa perasaan. "Aku akan tetap memanggilmu sayang, kau suka ataupun tidak!" ucapnya lagi sembari menatap intens wajah Alena.
"Ck.. terserah kau saja," Alena hendak kembali menuju dapur, namun langkah kakinya terhenti saat lengannya di tahan Abian.
"Terima kasih sayang."
"Untuk?" tanya Alena dengan tak mengerti. Karena sejak tadi ia tidak melakukan apa pun kecuali menyiapkan makan malam untuk mereka.
"Kau tidak perlu berterima kasih, dengan memakan masakan yang kubuat itu sudah cukup bagiku." Alena bergegas menuju dapur setelah menyindir perbuatan Abian dulu yang tidak pernah mau memakan masakan yang dibuatnya.
"Ale..." Abian yang ingin menyusul Alena, terhenti saat melihat Bian yang berlari kearahnya.
"Daddy apa seperti ini?" Bian menunjukkan Lego yang telah dibuatnya.
"Wah.. kau hebat jagoan," Abian mengacak-acak dengan gemas rambut putranya. Ia bahagia memiliki putra yang begitu pintar di usianya yang terbilang masih sangat kecil, meskipun Bian terlihat diam dan tidak banyak bicara tapi putranya itu bisa dengan cepat menerima kehadirannya. "Sekarang kau duduk dengan tenang, kita makan malam," ucapnya sembari menggendong Bian untuk duduk di kursi makan.
Alena pun ikut bergabung dengan kedua pria nya, dan mereka pun makan malam dengan keheningan. Karena tidak ada satu orang pun yang berbicara saat makan malam berlangsung.
"Weekend ini kita pergi ke Bali," ucap Abian setelah selesai menyantap makan malamnya.
"Kenapa mendadak sekali?" Alena yang terkejut bahkan hampir menyemburkan air minum yang ada di mulutnya.
"Sayang.. ini tidak mendadak."
"Ck..." Alena berdecak dengan kesal, bisa-bisanya pria itu mengatakan tidak mendadak sedangkan hari Sabtu hanya tinggal dua hari lagi. "Tapi kami tidak bisa ikut, ya kan sayang?" ucapnya sembari menatap Bian.