
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua puluh dua jam, dengan waktu transit yang memakan waktu tiga empat jam an, Alex, Alena bersama putranya akhirnya sampai di Jakarta. Dengan disambut beberapa anak buah Alexandre, mereka pun segera menuju apartemen milik Boy Arbeto.
Untuk tempat tinggal sebenarnya Mom Daisy melarang Alena tinggal di apartemen sepupunya itu, mengingat mereka memiliki mansion keluarga yang letaknya tidak jauh dari mansion utama. Tapi Alena bersikukuh tidak mau tinggal di mansion keluarga mereka, mengingat sewaktu-waktu Alana bisa saja datang ke mansion tersebut. Meskipun kemungkinan itu kecil, mengingat sejak pindah ke Jakarta Alana lebih memilih tinggal di apartemennya sendiri.
"Kau istirahatlah! Dan besok aku usahakan kemari setelah semua urusan selesai," ucap Alex sembari keluar dari dalam kamar setelah menidurkan Bian di atas ranjang.
Alena menjawab dengan anggukan kepala.
"Jika kau ingin pergi keluar, bawa pengawal bersamamu!" ia sudah menempatkan anak buahnya untuk berjaga di depan pintu apartemen, karena Alex tidak bisa menjaga Alena secara langsung. Dia harus pergi ke mansion utama untuk bertemu dengan atasannya, yang mengatakan ada tugas penting yang ingin dibicarakan.
"Oke," Alena tersenyum, menatap punggung Alexander yang menghilang di balik pintu.
Kini ia sendirian di ruangan tersebut, menatap seluruh sudut ruang apartemen dengan perasaan berkecamuk di dalam dada. Dulu tiga tahun yang lalu, ia sempat tinggal di apartemen ini saat melarikan diri dari suaminya. Dan kini Alena kembali ke tempat ini bersama putranya, putra yang tiga tahun lalu masih berada di dalam kandungannya.
"Abian Atmajaya tahukah kau, aku dan anak kita ada di Jakarta? Di kota yang sama denganmu," gumam Alena sembari menyentuh dadanya yang berdetak dengan cepat hanya karena mengingat sosok suaminya. "Tidak Alena, lupakan Abian! Sebentar lagi dia akan menikah dengan Alana," ingatnya pada diri sendiri.
Sementara itu Abian yang sedang berkutat di ruang kerja, menghentikan jari-jemarinya yang berada di atas laptop saat mendengar laporan dari Ben tentang pertemuan mereka dengan sosok yang bernama Albi. Sosok yang sudah mencuri perhatiannya sejak pertama kali melihat hasil karya-karya yang di ciptakan wanita itu. Design yang menurutnya begitu unik, simpel namun tetap terlihat elegan, dan tentunya menarik.
Sudah lama sebenarnya Abian tertarik untuk mengajak kerjasama Albi, namun maju mundur karena mendengar kabar dari banyak kompetitor nya yang ditolak saat mengajak wanita itu untuk bekerjasama. Selain itu Abian juga tidak mengetahui data apa pun tentang sosok Albi. Sosok itu begitu misterius, karena hanya hasil karya nya saja yang terlihat dan sangat terkenal, namun sosok nya tidak pernah muncul sama sekali di depan umum.
Semua orang hanya mengetahui sosok Albi adalah seorang wanita, dan jelas itu menjadi pertimbangan yang cukup penting bagi Abian saat mengambil keputusan untuk menawarkan kerjasama. Karena dia tidak mau bekerja dengan sosok yang tidak ia ketahui dengan jelas identitasnya. Namun karena melihat Albi yang begitu berkompeten, mau tidak mau Abian pun menawarkan kerjasama dengan wanita itu dengan harapan penjualan Gold meningkat.
"Jadi Nona Albi sudah sampai di Jakarta?"
"Ya Tuan, mereka sudah mengkonfirmasi untuk pertemuan lusa nanti."
Abian menganggukkan kepalanya dengan kening berkerut. "Menurutmu apa yang membuat Albi mau bekerja sama dengan kita? Bahkan dia sampai mau datang ke Jakarta."