
Aluna hanya diam tidak berani menjawab pertanyaan Boy Arbeto, saat sepupunya itu mulai mengintimidasi.
"Katakan Aluna apa yang kau ketahui? Atau mungkin kau ingin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi tentang kejadian beberapa bulan yang lalu?" sindir Boy dengan penuh penekanan di setiap katanya.
Deg.
Jantung Aluna seakan berhenti berdetak, bahkan untuk menelan salivanya saja dia tidak mampu. Tubuhnya bergetar karena ketakutan, takut sepupunya sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Katakan Aluna Ricardo, apa yang terjadi sebenarnya pada malam itu? Bagaimana bisa Alena tidur bersama.., siapa A?"
Agam lagi-lagi menghela napasnya. "Abian Atmajaya."
"Ya, Biawak." (sebutan Abian dari para pengagum nya di Bad Wedding 😂)
"Abian B," Alena kembali meralat ucapan Boy.
"Ck.. bagiku sama saja," ucap Boy dengan acuh, lalu menatap kembali pada Aluna. "Mau sampai kapan kau diam?" hardik Boy dengan kesal, karena sejak tadi adik sepupunya itu hanya diam tak menjelaskan apapun.
"Aku..." Aluna memberanikan diri menatap Alena, namun yang ditatap justru menggelengkan kepala.
"A lebih baik kita paketkan Aluna ke Singapore, biar Uncle Ricardo yang—"
"Aku akan mengatakan yang sebenarnya," potong Aluna dengan cepat.
"Kau yang diam Ale!" Boy balik membentak Alena. Namun bukannya takut, wanita itu justru tertawa sinis.
"Kau tidak berhak mencari tahu apa pun B! Kau tidak berhak ikut campur dengan urusan kami!"
"Aku tidak berhak?" kini Boy yang tertawa keras sembari menatap Alena dengan tajam, menatap sepupunya yang sudah berubah menjadi bodoh hanya karena cinta. "Kalau begitu aku akan mengembalikan kau pada nya!"
"Jangan B!" Aluna menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Sementara Agam hanya bisa menghela napas sambil menatap Alena, menatap sepupunya yang terlihat menunduk sambil menangis.
"Biarkan Aluna mengatakan apa yang sebenarnya terjadi? Sebelum semuanya bertambah rumit!" pinta Agam dengan suara serendah mungkin, agar Alena tidak merasa tertekan.
"Untuk apa A? Apakah dengan mengetahui kebenarannya, semua akan berubah?" tanya Alena dengan tersenyum miris. "Tidak akan mengubah apa pun A, tidak akan pernah.." Alena kembali menangis dalam diam, menahan isak tangis nya agar tak keluar dari bibirnya.
"Meskipun tidak merubah apa pun, tapi setidaknya mereka semua harus tahu kebenaranya Ale." Aluna berjalan mendekat pada saudara kembarnya. "Dulu aku berjanji tidak akan mengatakan apa pun. Tapi sekarang aku harus mengatakan yang sebenarnya, meskipun kau akan membenciku seumur hidup, dan tidak mau bertemu lagi denganku," Aluna menggenggam tangan Alena.
Sedangkan Alena tetap menggelengkan kepalanya, dengan tatapan memohon agar Aluna tidak mengatakan apa pun. Tapi Aluna justru membalasnya dengan sebuah senyuman.
"Semua masalah ini bermula dariku..." Aluna menarik napas panjang, mengingat kembali kejadian beberapa tahun yang lalu. Sebuah kejadian dimana kesalahpahaman itu bermula, yang membuat Alena menjadi sosok yang salah di mata semua orang karena sudah merebut kekasih saudara kembarnya sendiri. "Semua masalah ini berawal dari kejadian beberapa tahun yang lalu, disaat keluarga Atmajaya datang ke mansion kami..."
Baik Boy dan juga Agam saling menatap dengan raut wajah yang bingung, mereka benar-benar tidak tahu permasalahan yang terjadi pada Alena, Alana, dan Abian, tenyata sudah terjadi sejak lama. Bukan dari malam penjebakan itu terjadi, dimana Alena dan Abian ditemukan tidur bersama di dalam apartemen milik pria itu.