
Abian mengambil salah satu amplop yang berisikan uang dengan wajah yang terkejut. Dia tidak menyangka uang yang ada di dalam amplop tersebut begitu banyak, hingga membuatnya tersenyum miris saat menyadari tenyata Alena sudah menyiapkan semuanya untuk melarikan diri.
"Sial!" ia melempar begitu saja amplop tersebut keatas meja. Abian menyesal karena tidak mengetahui apa saja yang dilakukan Alena selama ini, hingga tidak menyadari jika wanita itu sudah merencanakan kepergiannya, mungkin sejak awal mereka menikah. Karena uang yang dia hitung lumayan banyak, belum dari uang yang ada di ATM, mungkin jumlahnya sama seperti yang selama ini Abian berikan.
"Dompet Alena..." Abian segera mencari dompet Alena di dalam tas saat memikirkan kartu ATM. Setelah menemukannya, ia pun membuka isi di dalamnya untuk mencari petunjuk apa pun itu.
Namun pandangan matanya langsung tertuju pada foto yang ada di dalam dompet tersebut, foto dirinya dan Alena saat mereka liburan di Bali. Foto yang sudah di gunting sedemikian rupa, karena sebenarnya bukan hanya ada mereka berdua di dalam foto tersebut. Ada Alana di samping kanannya, juga ada Aluna dan Alona.
Abian mengambil foto tersebut, melihat bagaimana wajah Alena yang tersenyum tulus menatapnya. Ia baru menyadari Alena selama ini selalu menatapnya dengan penuh cinta, meskipun dengan sembunyi-sembunyi dan tanpa disadari olehnya.
"Sebenarnya sejak kapan kau jatuh cinta padaku?" tanyanya pada diri sendiri. Jika mengingat bagaimana Alena yang nekat menjebaknya untuk tidur bersama, bahkan sampai tega menyakiti perasaan saudara kembarnya sendiri, maka sudah dapat dipastikan Alena mencintainya sejak lama.
Abian membalik foto tersebut dimana ada nama Alena dan dirinya tertulis disana. Ia menaruh foto itu kembali untuk mencari petunjuk, namun yang didapatkannya lagi-lagi membuat Abian terkejut. Sebuah foto masa kecil dirinya dengan Alana, sama seperti yang ada di dalam album foto miliknya.
"Kenapa Alena bisa memiliki foto ini?" Abian tak mengerti kenapa bisa Alena menyimpan foto kebersamaan dirinya dengan Alana. Belum selesai kebingungannya, dia kembali dibuat terkejut oleh sebuah tulisan dimana ada namanya dan Alena di balik foto tersebut, sama seperti foto sebelumnya. Padahal yang ada di dalam foto itu Alana dan dirinya, tapi kenapa Alena menulis nama Bian dan Alena. "Apa mungkin...."
Dengan cepat Abian mengambil ponsel miliknya untuk menghubungi seseorang yang kemarin ditugaskan untuk menyelidiki Alena dan Alana. Namun belum sempat menghubungi orang tersebut, sebuah panggilan dari Ben masuk ke ponselnya.
"Su-sudah Tuan," jawab Ben dengan gugup dari balik teleponnya.
"Bagus! Katakan siapa orangnya? Orang yang sudah berani membawa Alena?" geram Abian.
"Mereka.. mereka..."
"Katakan cepat! Siapa mereka?"
"Mereka keluarga Arbeto dan Mateo, lebih tepatnya Tuan B dan Tuan A..."
"What?"
Seketika itu juga detak jantungnya seakan terhenti, tangannya bahkan sampai mencengkeram erat ponsel miliknya, dengan wajah panik dan ketakutan. Bukan takut pada Boy Arbeto dan Agam Mateo yang diketahuinya sebagai sepupu Alena. Tapi takut pada sesuatu yang akan didapatnya, yaitu tidak akan bisa menemukan keberadaan Alena lagi.
Karena Boy dan juga Agam pasti akan menyembunyikan Alena, setelah tahu apa yang selama ini dilakukannya pada wanita itu. Dan Abian tidak akan bisa melawan keduanya, meskipun ia mengerahkan semua anak buahnya. Dan mengetahui semua kenyataan itu, membuat rasa takut kehilangan Alena tiba-tiba muncul begitu saja. Sebuah rasa yang seharusnya tidak ada di dalam hatinya, mengingat betapa Abian membenci Alena.