
Pagi hari tepat pukul sembilan, Alena sudah bersiap dengan pakaian rapih. Rencananya hari ini ia akan datang ke perusahaan Gold, karena mendadak tuan Sky menghubungi dan memintanya untuk datang.
Alena pun menyanggupi karena kebetulan ia pun akan pergi ke mansion utama, untuk mencari Alex yang sejak kemarin menghilang seperti di telan bumi. Alena ingin meminta penjelasan pada pengawal pribadinya itu, tentang perceraiannya yang ternyata belum diurus sama sekali bahkan berkasnya belum masuk ke pengadilan.
Ia pun ingin bertemu sepupunya untuk menanyakan kenapa sampai detik ini, pria itu belum mengirimkan pelayan yang dimintanya untuk menjaga Bian. Karena jujur Alena kewalahan dengan putranya yang super aktif, ditambah Alex yang tidak membantunya, karena pria itu menghilang tanpa kabar berita.
"Bian sudah siap?" Alena menatap putranya yang sudah berpakaian rapih, dengan tangan yang memegang mainan mobil-mobilan.
Bian yang ditanya hanya menganggukkan kepala, dengan bibir yang sesekali menguap menahan kantuk.
Melihat putranya yang masih mengantuk, Alena sebenarnya tidak tega. Tapi ia tidak punya pilihan selain membawa Bian, karena tidak mungkin putranya itu ditinggal sendirian di apartemen.
Saat tengah melamun, ponselnya bergetar menampilkan sebuah nama, Alana Ricardo. Ya, kemarin mereka sempat bertukar nomor ponsel. Dan tentu saja itu sangat berguna bagi Alena. Ia yang kebingungan pergi menggunakan apa, karena Alex yang tidak bisa dihubungi sejak kemarin. Akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan Alana untuk mengantarnya pergi.
"Ale, aku sudah sampai di tempat parkir." ucap Alana setelah sambungan ponselnya terhubung.
"Oke, aku turun sekarang." Alena menutup sambungan ponselnya, lalu membawa Bian keluar dengan terburu-buru karena tidak ingin membuat Alana lama menunggu.
Alena pikir pria itu sudah pulang, setelah penolakan yang dilakukannya selama dua kali. Tapi ternyata Abian masih berada di luar apartemen dengan pakaian yang sama, menunjukkan pria itu semalaman tidak pulang.
"Mommy..." Bian menatap Mom nya dengan bingung, karena diam saja tak bergerak sama sekali. Menatap seorang yang duduk di samping pintu. "Mom..." ia memanggil lebih keras.
Hingga membuat Alena tersadar dari lamunannya, begitu pun dengan Abian yang terbangun dari tidurnya saat mendengar suara anak kecil.
"Alena..." dengan segera Abian bangun meski sedikit sempoyongan karena terlalu lama dalam posisi duduk. Matanya menatap Alena, lalu berganti menatap sosok kecil yang sejak kemarin ingin ia lihat, atau lebih tepatnya ingin ia lihat sejak mengetahui keberadaan anak tersebut. Sosok anak kecil laki-laki yang begitu lucu dan tampan, yang begitu mirip dengannya. Kedua mata, hidung, rambut, semua yang ada di wajah anak itu sama persis dengannya, namun dalam versi yang berbeda. "Putraku..." baru saja Abian hendak mendekat, namun Alena dengan cepat menyembunyikan putranya dibelakang.
"Kenapa kau masih disini?"
"Aku sudah katakan tidak akan pergi sampai kau mau memaafkan aku," ucap Abian tanpa mengalihkan tatapannya pada sang putra yang ingin sekali ia peluk.
Alena menghela napas panjang, jujur ia merasa kasihan apalagi saat melihat penampilan Abian yang terlihat lelah dan kusut. Tidak bisa ia bayangkan seorang Abian Atmajaya yang begitu kejam, yang pernah menghukumnya berdiri di halaman rumah mereka dulu. Kini bermalam di luar pintu apartemennya.