
Sementara itu di lantai yang sama namun di sudut yang berbeda di pusat perbelanjaan tersebut, tampak seorang pria tengah menatap pada sosok yang berjalan dengan pengawalan yang ketat di sekitarnya. Awalnya pria itu tidak begitu peduli pada sosok tersebut, mengingat sudah sering dirinya melihat orang penting seperti pengusaha, petinggi pemerintahan, yang berjalan dengan dikelilingi oleh para pengawal pribadi.
Namun sosok yang dilihatnya saat ini, membuatnya benar-benar terkejut sampai mengusap kedua matanya hanya untuk memastikan apa benar yang dilihatnya saat ini.
"Tuan.. Tuan lihatlah!" Ben menunjuk pada sosok wanita yang tengah berjalan menuju lift. Ya, pria yang terkejut itu adalah Ben, yang tengah menemani tuan Abian untuk melihat shop Gold yang ada di pusat perbelanjaan tersebut.
Abian menatap kearah yang ditunjuk oleh Ben, lalu menghela napasnya dengan kasar saat melihat tak ada apapun di sana, yang ada hanyalah beberapa orang yang tengah menuggu di depan pintu lift.
"Ck.. berhentilah bermain-main Ben, kita sedang bekerja." Abian yang hendak berlalu dari tempat tersebut, merasakan tangannya ditahan oleh asisten pribadinya itu. "Apa yang kau lakukan?"
"No-Nona..."
"Nona...?" Abian bingung dengan apa yang terjadi pada Ben, karena asisten pribadinya itu seperti tengah melihat hantu.
"I-itu Nona Alena!" tunjuk Ben.
Mendengar nama Alena disebut, Abian langsung menatap pada arah yang ditunjuk oleh asisten pribadinya itu. Awalnya dia kesulitan untuk melihat sosok yang dikelilingi oleh beberapa pria berjas hitam, namun saat satu persatu orang tersebut masuk ke dalam lift, Abian pun bisa melihat dengan jelas sosok wanita yang sangat dirindukannya itu.
"Alena...." tanpa sadar Abian berteriak dengan keras sembari berlari menuju tempat dimana Alena berada.
"Alena tunggu!" Abian kembali berteriak saat melihat Alena yang masuk ke dalam lift bersama dengan anak kecil disisinya. "Anakku apa dia anakku," Abian berlari semakin kencang tanpa peduli orang-orang mengumpatnya karena tanpa sengaja ia tabrak, bahkan Abian tidak sadar berlari dengan air mata yang menetes dari ke-dua sudut matanya, karena begitu bahagia saat melihat Alena, dan sosok kecil yang sangat dirindukannya selama bertahun-tahun. "Aku tidak boleh kehilangan mereka lagi, tidak boleh!"
Sementara itu Alena yang sudah berada di dalam lift, menatap pada pintu yang masih terbuka karena ada beberapa orang yang masuk ke dalam.
"Alena Ricardo...."
Deg.
Mendengar namanya dipanggil oleh suara yang sangat ia kenali siapa pemiliknya, membuat jantung Alena berdetak dengan cepat. Apalagi saat kedua matanya menatap pada sosok yang tengah berlari kearahnya seperti orang kesetanan.
"A-Abian..." Alena yang terkejut melihat sosok pria yang sangat dirindukannya itu, sekaligus sosok yang paling ingin ia hindari, langsung menyuruh pengawal untuk menutup pintu lift. Sungguh Alena belum siap bertemu Abian, terlebih saat ini ada Bian bersamanya.
"Tidak kau tidak boleh pergi Alena..." Abian memukul pintu Lift dengan tangan, dan kedua kakinya saat melihat sosok yang sangat dirindukannya itu kembali menghilang di balik pintu lift.
"Tuan, cepatlah kita kejar mereka!" Ben menarik tuan Abian yang terlihat masih shock di depan pintu lift.
Abian yang tersadar kembali berlari menuju eskalator untuk mengejar Alena dan anaknya, atau kata yang lebih tepat putranya. Karena Abian tadi sempat melihat gaya potongan rambut laki-laki pada sosok mungil yang ada di samping Alena.