
Mendengar pertanyaan Sekar, membuat Ayuning seperti di tarik kembali pada kejadian beberapa bulan yang lalu. Di saat suaminya begitu marah saat mengetahui Abian meniduri Alena, hingga membuat suaminya itu memukuli putranya sampai tak berdaya.
"Karena wanita itu hubungan suami dan putraku memburuk, Abian bahkan di usir dari rumah. Dan kenapa aku menyetujui Alana bersama Abian, karena wanita itu dulu pernah menyelamatkan aku. Dia pernah menyumbangkan darahnya, saat aku kecelakaan. Selain itu Alana juga pernah menyelamatkan Abian yang hampir tenggelam, kalau tidak ada Alana entah bagaimana nasib putraku." Ayuning menghela napasnya dengan panjang, mengingat kejadian saat Abian berusia dua belas tahun.
Saat itu keluarga Atmajaya berkunjung ke mansion keluarga Ricardo, dimana sang pemilik mansion adalah teman baik suaminya. Di sana mereka berkenalan dengan seluruh keluarga Ricardo yang ternyata memiliki empat anak perempuan kembar. Selain wajah mereka sangat mirip, ke empatnya pun memiliki nama awalan yang sama yaitu Al. Bahkan saat mereka berkunjung, ke empat anak perempuan itu memakai dress dengan model dan warna yang sama, sehingga dirinya dan seluruh keluarganya bingung siapa yang bernama Alana, Alena, Aluna, dan Alona.
Dan saat mereka berkumpul di ruang tengah membicarakan berbagai topik seputar bisnis dan keluarga, semua orang dibuat terkejut saat mendengar suara teriakan Tia yang meminta tolong karena kakaknya terjatuh ke kolam renang. Ya, dulu Abian tidak bisa berenang meskipun ada kolam renang di belakang rumah mereka. Jadi saat mendengar putranya jatuh ke kolam renang, mereka pun segera lari ke halaman belakang mansion keluarga Ricardo. Untung saja saat mereka sampai, Abian sudah berada di atas karena di tolong Alana.
"Alana tenyata wanita yang sangat baik," ucap Sekar setelah mendengar penjelasan Ibu Ayuning.
"Ya, tidak seperti adiknya yang selalu membuat masalah," Ayuning menghela napasnya kasar. "Sudah jangan membicarakan mereka lagi, sekarang katakan kapan kalian akan menikah?" tanya Ayuning dengan bersemangat.
"Eh.. itu.. secepatnya," Sekar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Baguslah, karena Ibu sudah tidak sabar memiliki cucu."
Ke-dua orang itu pun berbincang dengan seru, membahas pekerjaan dan segala keperluan pernikahan. Ayuning bahkan sangat antusias membahas gaun pengantin yang akan dikenakan Sekar, bahkan Ayuning sudah mempersiapkan tempat berbulan madu untuk Sekar dan Abian, karena dia sangat menginginkan seorang cucu untuk meneruskan keturunan Atmajaya.
Sementara itu Alena yang berada di dalam kamarnya, tengah memakan sarapan pagi yang dibawa bi Yanti ke dalam kamar. Ya, pelayannya itu ternyata merasa kasihan karena mengetahui dirinya belum sarapan, bi Yanti juga melihat pertengkaran antara dirinya dengan Sekar dan Ibu Ayuning.
"Alena kau harus kuat! Tinggal beberapa hari lagi," dia memakan makanannya dengan berderai air mata, hingga membuat rasa makanan yang ditelannya terasa hambar. Jika saja Alena tidak mengingat tengah berbadan dua, sudah dapat dipastikan makanan itu tidak akan masuk ke dalam tenggorokannya.
...Alena tahu kenapa Daddy memberikan nama Alena?...
...Kenapa Dad?...
...Karena Alena memiliki arti gadis cantik, dan setiap orang yang memiliki nama Alena tergolong percaya diri, cenderung memimpin dengan berwibawa dan selalu mencari petualangan. Ia sangat tertarik dengan kehidupan dan memiliki sifat mandiri, dan semua sifat itu terbukti ada padamu. Dad yakin kelak kau akan menjadi wanita yang tangguh....
"Dad aku tidak setangguh itu," Alena terisak kembali saat teringat semua perkataan Daddy nya.