Bad Wedding

Bad Wedding
Part 73



Setelah sampai di Bandar Udara Internasional New York, Lapangan Anderson. Alena keluar dari dalam mobil dengan menggendong Bian, menatap sekitarnya dengan perasaan tak menentu.


"Kau kenapa?" tanya Alex saat melihat wajah Alena yang terlihat cemas.


"Tidak apa-apa," Alena memeluk Bian yang tertidur di dalam gendongannya. "Aku hanya merasa takut keputusanku pulang ke Jakarta salah..."


Alex menghela napasnya dengan panjang. "Dengar Alena! Cepat atau lambat kau pasti kembali ke Jakarta. Seandainya hari ini kita tidak jadi berangkat, akan ada hari lainnya yang pasti akan membawamu pulang." Bukan tanpa alasan Alex mengatakan hal tersebut, karena ia tahu Abian Atmajaya pasti akan melakukan berbagai cara untuk menemukan Alena, seperti yang sedang dilakukan pria itu saat ini dengan mengumumkan pernikahannya dengan Alana.


"Apa maksudmu?" Alena mengerutkan keningnya dengan bingung. Karena perkataan Alex seolah-olah dia harus kembali ke Jakarta meskipun bukan inginnya.


"Sudah lupakan apa yang aku katakan tadi," Alex mengalihkan pembicaraan mereka. Karena ia tidak bisa berbohong untuk yang kesekian kalinya pada Alena, pada wanita yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.


Andai saja Alex tidak bekerja dibawah pimpinan Boy Arbeto, maka sudah dari kemarin ia memberitahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi saat ini Alex tidak punya pilihan selain mengikuti skenario yang ada, karena tuan nya sendiri pun tidak lagi bisa menutup akses bagi Abian Atmajaya untuk menemukan Alena Ricardo.


"Tapi Alex..." Alena yang ingin bertanya pada pengawal pribadinya itu, tidak jadi bersuara saat mendengar ponsel milik Alexander yang berbunyi.


"Kau masuklah lebih dulu! Nanti aku akan menyusul."


Alena pun mau tidak mau masuk lebih dulu bersama Bian, meninggalkan Alex yang tengah berbicara dengan seseorang melalui sambungan ponsel.


"Kami sudah berada di Bandara."


Boy terdiam setelah mendengar jawaban dari Alex.


"Tuan..." Alex ragu ingin mengatakan sesuatu, tapi dia harus memastikan lagi apakah tuannya benar-benar yakin tidak akan menghalangi Abian bertemu Alena. "Apa Anda yakin melakukan semua ini?"


Boy yang tengah berada di ruang kerjanya, menatap pada bangunan tinggi yang berada di seberang gedung kantor miliknya. "Aku harus menepati janji, karena bajingan itu sudah membuktikan ketulusan dan kemampuannya selama tiga tahun ini. Lagi pula apa kau lupa? Alena pasti datang ke Jakarta, dengan cara yang tidak kita duga sama sekali," jelasnya panjang lebar.


Alex mengerti dengan apa yang dimaksud Tuan Boy Arbeto, yaitu tentang kejadian beberapa hari yang lalu yang berkaitan dengan perusahaan Gold, yang tanpa di duga atasannya termasuk dirinya. Itu sebabnya tadi Alex mengatakan pada Alena cepat atau lambat, dan mau tidak mau wanita itu pasti akan kembali ke Jakarta. Karena takdir pun sepertinya memberikan jalan bagi Alena untuk kembali.


"Kau jaga mereka! Setelah sampai di Jakarta segera hubungi aku!"


"Baik Tuan." Alex menutup sambungan ponselnya setelah terdengar nada yang terputus. Ia segera masuk menyusul Alena dan Bian.


Sementara itu Boy yang sudah duduk di kursi kerjanya, tengah mengingat kembali kejadian tiga tahun yang lalu. Dimana Abian Atmajaya yang nekat datang ke mansion utama maupun ke kantornya.


Bajingan itu bahkan tidak takut mati hanya untuk bisa bertemu Alena, Abian terus mendatanginya tanpa peduli dipukuli sampai harus keluar masuk rumah sakit, dan bukan hanya itu saja yang dilakukan bajingan itu. Dari yang ia dengarnya, Abian Atmajaya juga mendapatkan pukulan yang begitu hebat hingga membuat pria itu tak sadarkan diri selama dua hari, saat nekat pergi ke Singapore untuk meminta maaf pada Uncle Antoni dan Aunty Daisy.