
Bangun dari tidurnya, pertama kali yang dilihat Alena adalah wajah tampan Abian yang masih tertidur lelap. Di pandangi wajah tersebut dengan menahan sesak yang ada di dalam dada, karena mungkin ini terakhir kalinya ia bisa menatap wajah pria yang sangat dicintainya itu, sekaligus pria yang sudah menorehkan luka terdalam di hatinya.
"Kau harus bahagia Bian! Karena mulai detik ini aku melepasmu," gumamnya dengan lirih sambil menutup mulut dengan kedua tangan, karena tidak ingin sampai pria itu terbangun mendengar suara tangisnya. "Kau harus kuat Alena, kau harus bisa melepas cintamu jika ingin melihat Abian bahagia. Lagipula kau tidak sendirian, sebagian dari Abian ada di dalam tubuhmu." Alena mengusap perutnya yang masih datar, lalu memberanikan diri mengusap wajah Abian untuk yang terakhir kali.
Setelah mengucapkan kata perpisahan, dengan perlahan Alena menyingkirkan tangan Abian yang entah sejak kapan memeluk pinggangnya dengan erat. Turun dari atas tempat tidur lalu masuk ke dalam bathroom untuk membersihkan diri.
Sejauh ini semuanya berjalan dengan lancar, karena saat Alena keluar dari kamar dengan membawa hand bag berisikan berkas penting dan uang miliknya, Abian masih tertidur dengan lelap. Bahkan pria itu masih tertidur, saat dirinya dengan di bantu Bi Yanti menyiapkan sarapan pagi.
"Non kenapa Tuan belum juga keluar kamar?" tanya Bi Yanti dengan bingung, karena tidak biasanya tuan nya itu bangun kesiangan.
"Abian masih tidur, jadi lebih baik kita berangkat saja!" bujuk Alena.
"Tapi Non, apa tidak apa-apa kita pergi sekarang?" tanya Bi Yanti dengan ragu, karena belum mendapatkan ijin dari tuan Abian untuk membawa nona Alena pergi bersamanya.
"Tidak apa-apa Bi, jika kita menunggu Abian kita pasti kesiangan untuk belanja." Alena mencoba menyakinkan pelayannya.
Bi Yanti terdiam karena bingung harus bagaimana, menatap jam yang ada di atas dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan lebih. Jika dia menunggu lebih lama lagi, benar apa yang dikatakan nona Alena mereka akan kesiangan dan pastinya akan terlambat untuk menyiapkan makan siang.
Sementara Alena yang duduk di kursi makan, mencoba untuk bersikap tenang meskipun sangat gugup, dan takut jika tiba-tiba saja Abian terbangun dan merusak rencananya.
"Baiklah Non, kita berangkat sekarang." Bi Yanti pun berjalan sembari mengambil dompet yang berisikan uang dari tuan Abian juga daftar belanjaan.
Tak ingin membuang waktu, Alena pun berjalan mengikuti Bi Yanti dengan jantung yang berdetak dengan cepat. Langkahnya terhenti saat melewati kamar pribadinya, menatap pintu tertutup itu dimana ada pria yang paling dicintainya masih tertidur dengan lelap.
"Aku pergi Bian," gumamnya dalam hati dengan menahan air mata yang hampir terjatuh, menatap seluruh isi ruangan di mana selama beberapa bulan ini menjadi tempat tinggalnya.
Alena menarik napas panjang, menguatkan hatinya untuk pergi dari rumah Abian Atmajaya.
"Kalian mau kemana?" tanya salah seorang pengawal yang berjaga di depan pintu.
"Kami akan pergi belanja kebutuhan rumah," Bi Yanti yang menjawab.
"Silahkan! Tapi Nona tidak diperbolehkan ikut! Anda dilarang keluar dari rumah ini!"
"Tapi aku sudah mendapatkan ijin dari Abian untuk keluar," bohong Alena.
Membuat dua orang pengawal dan juga Bi Yanti sedikit terkejut.
"Kalau begitu kami akan bertanya dulu," salah seorang dari mereka hendak masuk ke dalam.
"Silahkan saja, tapi jangan salahkan aku kalau kalian terkena amarah Tuan Abian. Karena tadi dia berpesan tidak ingin di ganggu!" Alena berharap kedua orang pengawal itu mempercayai ucapannya.
"Bagaimana?" tanya salah satu pengawal, pada pengawal lainnya dengan wajah yang bingung.
"Ada apa ini?"
Alena dan ketiga orang yang berdiri di depan pintu masuk, terkejut mendengar suara tersebut.