Bad Wedding

Bad Wedding
Part 98



"A-apa maksudmu? Bukankah kau yang menawarkan kerjasama..." perkataan Alena terhenti saat tiba-tiba saja Sky ingin mencium bibirnya. Dengan cepat ia menghindar hingga ciuman tersebut hanya mendarat di pipinya. "Kau brengsek! Lepaskan aku!" Alena menendang tepat pada bagian milik pria itu, hingga ia bisa terbebas dan segera berlari menuju pintu keluar.


"****!" umpat Sky sembari meringis menahan sakit pada miliknya. "Kau tidak bisa pergi dari sini!" dengan cepat ia menarik Alana menjauh dari pintu, lalu menguncinya agar wanita itu tidak bisa keluar.


"Kau gila! Cepat buka pintunya!" teriak Alena sembari menjauh dari Sky. Kini ia benar-benar merasa takut, dan tak tahu harus melakukan apa untuk bisa keluar dari ruangan tersebut.


Melihat wajah Alana yang ketakutan, justru membuatnya semakin bersemangat untuk memiliki wanita tersebut. Meski yang dilakukannya saat ini salah karena memaksa, tidak seperti malam itu yang dilakukan atas keinginan keduanya secara sadar. Tapi Sky tidak peduli, yang penting saat ini dirinya bisa memiliki kembali wanitanya.


"Isi berapapun yang kau inginkan, dan sebagai gantinya temani aku seperti malam itu," ucap Sky setelah mengambil cek kosong dari laci meja kerjanya.


"Aku tidak mau! Dan harus kau ingat, aku bukan wanita ******!" Alena menampar Sky dengan keras, hingga membuat pria itu marah.


"Rupanya kau ingin bermain kasar?" ucap Sky dengan seringai tipis dibibirnya. Menarik wanita itu, dan menahan tubuh yang yang sejak tadi membuat gairahnya terbakar dengan ke-dua tangan kekarnya. "Aku tahu kau tidak memerlukan uang, bukankah yang kau butuhkan hanya sebuah kehangatan? Jadi mari kita lakukan," Sky mengecup pipi Alana, lalu perlahan turun ke leher jenjang wanitanya dengan memberikan sedikit tanda disana.


"Tuan Sky aku mohon jangan seperti ini," Alena menggelengkan kepalanya dengan raut wajah memohon menahan tangis. Sungguh ia tidak mau disentuh oleh pria asing terlebih dengan pria yang tidak dicintainya, bahkan dirinya merasa sangat jijik saat Sky melabuhkan kecupan dilehernya.


Tok..tok.


Mendengar suara pintu ruangan diketuk, Sky menghentikan tindakannya yang ingin menyusur lebih dalam pada leher jenjang wanitanya. Sedangkan Alena langsung berteriak meminta tolong, sembari berusaha membebaskan dirinya dari pelukan pria brengsek itu.


"Ben.." Alena hapal betul suara tersebut. Meskipun sudah tiga tahun mereka tidak bertemu, tapi Alena yakin itu suara asisten pribadi suaminya. Dan jika Ben ada di sini, maka kemungkinan besar Abian pun ada di tempat yang sama.


"Ben tolong aku!" ia kembali berteriak meminta tolong, sedangkan Sky justru tertawa terbahak-bahak.


"Sudah aku katakan ruangan ini kedap suara, jadi percuma kau berteriak meminta—" Sky terdiam saat melihat wanitanya menangis terisak. "Hei, jangan menangis!" ia mengusap air mata di pipi wanitanya dengan sedikit gusar.


Sky tidak menyangka Alana akan menolaknya dengan keras, bahkan sampai menangis seperti itu hanya karena tidak ingin disentuh olehnya. Padahal dulu wanita itu dengan suka rela memberikan tubuhnya tanpa paksaan sedikitpun.


Argh...


Ia berteriak frustasi, membebaskan Alana dari rengkuhannya karena tidak ingin membuat wanita itu semakin menangis.


"****! Sebenarnya apa yang salah denganku? Kenapa semua wanita dari keluarga mereka selalu menolak?" gumamnya dalam hati, menatap tajam Alana yang bergerak menjauh sampai ke sudut ruangan.


Sedangkan di ruangan lainnya, dengan gelisah Abian menunggu asisten pribadinya yang tengah mencari tahu apakah Alena sudah menandatangani berkas kerjasamanya atau belum. Karena entah mengapa sejak tadi perasaannya tidak enak, ia merasa ada sesuatu yang buruk akan terjadi dengan orang terdekatnya.