
"Tapi Nona..." pengawal itu ragu karena pria yang menghalangi jalan mereka tidak bergeser sedikitpun dari tempatnya.
"Aku bilang cepat jalan!" sentak Alena dengan air mata yang menetes dikedua pipinya. Sungguh dia tidak sanggup melihat Abian dipukuli seperti itu.
Pengawal yang duduk di samping temannya yang mengemudi, memilih keluar dari mobil untuk membantu kedua rekannya untuk menyingkirkan orang tersebut. Hingga terjadilah perkelahian tidak seimbang tiga lawan satu yang membuat Abian kalah, hingga mobil yang ditumpangi Alena bisa berjalan kembali.
"Tidak Alena..." Abian tidak mau menyerah, mengejar mobil yang ditumpangi istrinya sembari memukul jendela mobil tersebut. "Aku mohon jangan pergi lagi..."
Alena hanya bisa menangis melihat wajah Abian, yang terlihat memohon dengan air mata yang menetes di kedua sudut mata pria nya.
"Tidak sekarang Abian, aku hanya akan bertemu denganmu di hari pernikahan kalian!" Alena menatap kebelakang, dimana Abian masih terlihat berlari mengejar mobilnya.
"Alena..." teriak Abian dengan sesak yang menghimpit di dada. Sekali lagi dia kehilangan Alena, kehilangan wanita yang sangat ia rindukan. "Alena...."
Sementara itu Ben yang melihat apa yang terjadi pada tuannya melalui layar CCTV yang ada, langsung berlari menghampiri tuan Abian karena takut pria itu melakukan tindakan nekat.
"Tuan..."
"Dia sudah pergi."
Ben menghela napas kasar, menarik tuan Abian yang duduk di jalanan dengan pakaian yang berantakan dan luka di sudut bibir. "Anda jangan khawatir Tuan, setidaknya kita tahu Nona Alena bersama putra kalian sudah ada di Jakarta."
"Putraku..." Abian menatap Ben dengan kedua mata yang berbinar. "Kau lihat juga kan? Kau lihat putraku?"
"Ya Tuan." Ben kini merasa sangat lega setelah mengetahui anak Abian dengan Alena dalam keadaan sehat, karena dia sempat berpikir yang tidak-tidak dengan keberadaan anak tersebut.
Mendengar jawaban Ben yang mengamini anaknya itu seorang laki-laki, membuat Abian kembali bersemangat mencari Alena dan putranya.
"Kirim orang-orang kita untuk menyelidiki mansion Ricardo, dan cari tahu semua tempat tinggal yang dimiliki keluarga Arbeto dan Mateo! Aku yakin Alena pasti ada di salah satu tempat tersebut."
"Jika Alena tinggal di sana, pasti Alana sudah mengabariku."
"Anda benar Tuan."
"Cepatlah jangan diam saja! Perintahkan semua orang-orang kita!" ucap Abian dengan bersemangat, sembari berjalan cepat menuju mobil.
"Baik Tuan," Ben pun ikut bersemangat untuk menjalankan perintah tuan Abian.
"Tunggu dulu!" Abian menghentikan langkahnya dengan mendadak hingga membuat Ben yang berjalan dibelakang menabraknya.
"Ada apa Tuan?"
"Ben bagaimana kau tahu kalau yang tadi Alena?" Abian merasa kesal karena asisten pribadinya itu dapat mengenali Alena, sedangkan dirinya selalu salah mengenali wanitanya itu karena ke empat putri Antoni kembar identik.
Ben tertawa sembari menggelengkan kepala, tadinya ia pikir tuan Abian akan bertanya sesuatu yang penting, tapi ternyata hanya sebuah pertanyaan yang sangat mudah untuk dijawab.
"Anda tidak lihat tadi? Rambut wanita itu panjang, sedangkan rambut Nona Alana saat ini pendek. Lagi pula di jam seperti ini Nona Alana pasti sedang sibuk dengan semua pasiennya. Sedangkan Nona Aluna dan Alona mereka ada di Singapore, kalaupun keduanya ada di Jakarta tidak mungkin pergi dengan pengawalan yang begitu ketat seperti tadi."
"Benar juga, kenapa aku tidak berpikir sampai kesana." gumam Abian dalam hati.
"Anda sendiri kenapa yakin kalau tadi itu Nona Alena?" Ben balik bertanya.
"Karena hatiku yang mengatakannya," Abian kembali berjalan menuju mobil, meninggalkan Ben yang masih berdiri ditempatnya.
"Cih, dia bilang apa? Hatinya yang mengatakan? Sejak kapan hatinya itu bisa membedakan ke empat Al?" gerutu Ben dalam hati, berjalan menyusul tuan Abian yang sudah masuk ke dalam mobil.