
"Tapi Bian ingin ikut ke..." ia menatap Daddy nya untuk bertanya kemana mereka akan pergi.
"Bali," sahut Abian dengan tertawa.
"No Bian, weekend ini kita ada acara di mansion utama," bohong Alena. Karena kenyataannya di mansion utama tidak ada acara apa pun.
"Tapi Mom..." Bian menundukkan kepalanya.
"Ayolah sayang, sekali saja. Kita belum pernah berlibur bersama, lagi pula apa kau tidak kasihan pada putra kita."
"Sayang.. sayang..." gerutu Alena namun hanya dalam hati. Karena ia tidak bisa bersikap kasar pada Abian di depan putranya. "Kalau Bian ingin pergi ke Bali bersama Dad, Mom tidak akan melarang."
"Benalkah Mom?" tanya Bian dengan mengangkat kepalanya.
Abian yang juga mendengar perkataan Alena ikut merasa bahagia, karena rencananya untuk bisa lebih dekat dengan istrinya akan segera tercapai melalui liburan mereka.
"Ya sayang, kau dan Daddy bisa pergi berdua ke Bali."
"What? Tapi Ale..." Abian yang hendak protes langsung terdiam saat melihat tatapan Alena yang memberikan kode bahwa ada Bian diantara mereka. Itu artinya baik ia dan Alena tidak boleh melanjutkan perdebatan mereka.
Namun bukan Abian Atmajaya namanya jika menyerah hanya karena satu rencananya yang gagal, ia pun masih memiliki seribu cara agar bisa berdekatan dengan Alena. Seperti yang saat ini tengah ia lakukan dengan menghasut putranya untuk meminta tidur bersama di satu kamar. Karena kemarin dirinya tidak diijinkan masuk ke dalam kamar Alena, dan dengan terpaksa tidur di kamar yang sama dengan putranya.
"Mom kita tidul beltiga ya, Daddy, Bian, dan Mommy," pinta Bian dengan merajuk.
Alena yang sejak tadi menolak keinginan putranya untuk tidur bersama, mulai kewalahan saat putranya mulai menangis.
"Bian kan sudah besar, tidur sama Daddy saja oke," bujuknya sembari menatap dengan kesal pada Abian yang terlihat diam saja tanpa mau membantunya membujuk putra mereka.
Alena menghela napasnya. "Abian bujuk putramu!" pinta Alena, karena tidak ingin tidur di satu kamar yang sama terlebih lagi di satu ranjang yang sama dengan Abian Atmajaya. Ia takut terjadi hal yang tidak-tidak meskipun mereka tidur bertiga.
Abian beranjak dari tempat duduknya, menggendong Bian lalu menatap Alena. "Kau lihat Nak, Mommy mu tidak mau tidur bersama kita. Dia tidak sayang pada kita berdua."
"Abian!" sentak Alena tanpa sadar karena begitu kesal dengan apa yang dilakukan pria itu, bukannya membantu membujuk tapi justru menghasut putranya.
Bian yang mendengar sentakan Mommy nya semakin menangis dengan kencang. Alena yang tidak tega melihat putranya menangis, akhirnya mengikuti apa yang diinginkan Bian.
Dan disinilah mereka berada, tidur di satu ranjang yang sama dengan posisi Bian yang berada di tengah-tengah keduanya.
"Sayang kau sudah tidur?"
"Tutup mulutmu Abian Atmajaya!" umpat Alena dengan mata yang terpejam, berusaha untuk tidur meskipun itu terasa begitu sulit.
Bagaimana bisa ia tertidur dengan nyenyak, disaat posisi mereka yang tidur bersama layaknya sebuah keluarga yang harmonis. Sebuah impian dirinya di masa lalu saat Bian masih dalam kandungan.
"Terima kasih sayang."
"Untuk apalagi?"
"Sudah mengijinkan aku tidur di ranjangmu," ucap Abian dengan tatapan mata lurus menatap langit-langit kamar.
"Aku terpaksa, lagi pula hanya untuk satu malam. Sekarang tidurlah dan jangan banyak bicara!" Alena memilih memunggungi Abian dan putra mereka.
"Siapa bilang hanya satu malam?" gumam Abian dalam hati, memiringkan tubuhnya untuk menatap Alena meksipun yang terlihat hanya punggung wanita tersebut. "Aku mencintaimu Alena Atmajaya," ucapnya dengan tersenyum penuh arti.