
"Jadi bagaimana?" tanya Sky saat melihat wanita itu hanya diam saja atas penawaran yang diberikannya, atau kata yang lebih tepat penawaran yang diberikan Abian.
"Aku tidak bisa mengambil keputusan secepat itu, karena banyak yang harus aku pertimbangkan termasuk rencana ku yang akan kembali tinggal di luar negeri."
"Jadi selama ini dia tinggal di luar negeri? Ah.. kenapa juga aku mempedulikannya," gumam Sky dalam hati sembari memijat kepalanya yang terasa pusing, karena keinginannya yang ingin menyentuh Alana.
"Tuan Anda baik-baik saja?" tanya Alena dengan cemas, karena tiba-tiba saja tuan Sky memijat kepalanya dengan helaan napas yang terdengar cukup berat.
Mendengar suara wanitanya yang terlihat cemas, entah mengapa ada desiran hangat yang merambat ke dalam hatinya. Ia tidak menyangka wanita yang selalu ketus berbicara dengannya dulu, kini terlihat begitu penuh perhatian.
"Aku baik-baik saja. Oh ya, kembali ke topik pembicaraan tadi, kita tidak bisa menunggu lama. Jadi kami harap sekarang juga Anda bisa mengambil keputusan. Lagi pula, apalagi yang perlu Anda pertimbangkan? Bukankah penawaran yang kami berikan cukup tinggi?"
"Ya, penawaran yang perusahaan Anda berikan memang tinggi. Tapi..."
"Tapi apa?" Sky menatap Alana yang terlihat bingung, pandangan matanya turun pada bibir yang begitu menggairahkan saat wanita itu mengigit bibir bawahnya. Ingin sekali ia mengecup kembali manisnya bibir tersebut, yang pernah mendesah nikmat menyebut namanya.
"Em.. baiklah, aku setuju." Alena pun memutuskan untuk menandatangani penawaran tersebut, karena melihat besar nominal yang akan didapatkannya. Bukan karena Alena kekurangan uang, atau keluarga besarnya tidak mau memberikan uang untuk biaya hidupnya.
Tapi Alena sudah memutuskan mandiri sejak memiliki Bian, dan untuk memberikan masa depan yang bagus bagi putranya ia membutuhkan dana yang tidak sedikit. Dan dengan bekerja di Gold, otomatis ia mempunyai dua keuntungan. Keuntungan pertama untuk masa depan putranya dan keuntungan kedua untuk kemajuan karirnya.
"Good," Sky memeriksa berkas yang sudah ditandatangani Alana. "Welcome to the Gold." ia berjalan menghampiri Alana, mengulurkan tangannya untuk menyambut wanita itu yang sudah resmi masuk kedalam perusahaan Gold.
"Karena urusan pekerjaan sudah selesai, sekarang kita bahas masalah pribadi kita," Sky menarik tangan Alana hingga wanita itu jatuh dalam pelukannya.
"Tuan apa yang Anda lakukan?" Alena memberontak agar terbebas dari pelukan Sky.
"Aku hanya ingin mengulang kisah kita dulu," Sky menghirup aroma rambut Alana yang terasa memabukkan tanpa melepaskan pelukannya.
"Kisah kita apanya? Kau jangan kurang ajar! Atau aku akan teriak," hardik Alena saat merasakan pipinya hendak dicium oleh tuan Sky.
"Teriak saja, asal kau tahu ruangan ini kedap suara." Sky semakin tidak bisa mengendalikan dirinya saat Alana terus memberontak didalam pelukannya, membuat tubuhnya terasa panas saat bergesekan dengan tubuh wanitanya meskipun terhalang oleh pakaian.
"Kau brengsek!" umpat Alena, sungguh ia menyesal sudah menandatangani kerjasama dengan pemilik perusahaan yang ternyata seorang pria mesum. "Lepaskan aku tuan Sky!" Alena kembali berteriak sembari meronta.
"Diamlah! Aku hanya ingin mengulang malam panas kita, baru setelah itu kau bebas bersama pria manapun termasuk Abian Atmajaya," ucapnya dengan berbohong. Karena sebenarnya ia tidak bisa melihat wanita yang pernah disentuh olehnya dimiliki pria lain.
"Abian Atmajaya, kau mengenalnya?" tanya Alena dengan terkejut.
Sky tertawa terbahak-bahak, menatap wajah Alana dengan senyum yang mengejek. "Tentu saja aku mengenalnya, dan aku tahu kau memiliki hubungan dengannya bukan? Itu sebabnya Abian memberikan penawaran yang sangat tinggi untukmu!"