Bad Wedding

Bad Wedding
Part 76



"Karena dia tahu bekerjasama dengan Gold akan menguntungkan bagi karirnya."


"Ya kau benar," Abian setuju dengan apa yang dikatakan Ben, karena nama Gold yang sangat terkenal pasti akan membuat nama Albi lebih naik lagi.


"Apa Anda akan turun langsung menemui Nona Albi?" Ben tetap bertanya meskipun sudah tahu jawabannya.


Abian menggelengkan kepala. "Biarkan Sky yang menghandle seperti biasa."


"Baik Tuan," Ben sudah menduganya kalau tuan Abian tidak akan mau datang, apalagi pertemuan tersebut dengan seorang wanita. Tuannya itu pasti akan memilih melakukan hal lainnya yang lebih penting, dan seperti biasa tuan Sky Dwight yang akan menghandle semuanya.


Mengingat nama Sky Dwight entah mengapa selalu membuat Ben tidak habis pikir, pria yang terkenal sebagai pembisnis muda, handal, dan disegani oleh para kompetitornya itu menjadi satu-satunya orang yang menolong tuan Abian dengan mengajak kerjasama membangun Gold, hanya karena mengetahui bisnis keluarga Atmajaya yang dibuat bangkrut oleh keluarga Arbeto.


Ketika ditanya apakah pria itu membantu mereka karena memiliki dendam dengan keluarga Arbeto, tuan Sky hanya menjawab sambil tertawa bahwa dua kali hatinya dipatahkan oleh para wanita dari keluarga besar Arbeto dan Graham. Jadi dia tidak suka dengan sesuatu yang berhubungan dengan keluarga besar tersebut. Entah apakah pria itu berkata jujur atau berbohong, tapi yang jelas perusahaan gold yang didirikan oleh keduanya, kini berada di bawah kendali tuan Abian yang memiliki saham lebih banyak dari tuan Sky Dwight.


"Apa ada perkembangan baru?" tanya Abian saat mengingat kembali sosok Alena dan anaknya.


"Kenapa sulit sekali menemukannya?" desah Abian dengan frustasi. Karena selain menunggu kedatangan Alena seperti yang sudah direncanakannya, ia masih terus berusaha mencari keberadaan wanitanya dengan mengerahkan semua orang keseluruh kota bahkan sampai keluar negeri.


"Sepertinya Nona Alena sangat pandai bersembunyi," Ben tersenyum saat mengingat sosok Alena. Sosok wanita cantik yang tangguh, namun berubah menyedihkan setelah menikah dengan tuannya.


"Ya, dia sangat pandai bersembunyi..." Abian tersenyum sinis saat mengingat bagaimana hebatnya Alena menyembunyikan identitas Al selama bertahun-tahun lamanya. Dan sekarang wanita itu bersembunyi dengan membawa sebagian dari dirinya, darah dagingnya yang tidak pernah ia ketahui. "Bagaimana keadaan anakku? Seperti apa rupanya? Apa jenis kelaminnya? Apakah laki-laki atau perempuan?" tanyanya pada diri sendiri.


Ben yang melihat kesedihan di mata tuannya, hanya bisa diam tanpa tahu harus berbuat apa. Ia mengerti bagaimana perasaan Abian Atmajaya yang begitu merindukan sosok Alena, terlebih pada sosok anak yang tidak pernah diketahui keberadaannya.


"Tuan seandainya..." Ben kembali terdiam, karena ragu untuk menanyakan apa yang menjadi ganjalannya selama ini, sebuah pertanyaan yang sejak dulu selalu mengusik ketenangannya berkaitan dengan keadaan anak tuan Abian. Apakah anak itu lahir dengan selamat ataukah sebaliknya, mengingat keadaan Alena yang pergi dengan kurang baik pada saat itu.


"Seandainya apa?" Abian menatap tajam pada asisten pribadinya.


"Tidak jadi Tuan," Ben memilih untuk tidak melanjutkan pertanyaannya, karena tidak ingin membuat keadaan tuannya kembali terpuruk oleh pertanyaan konyolnya.