Bad Wedding

Bad Wedding
Part 68



Setelah mereka duduk di halaman belakang, Alena menatap Alex dengan bingung. Karena pria itu masih saja diam tanpa mengatakan satu kata pun.


"Alex sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan?"


"Abian Atmajaya—"


"Stop Alex! Bukankah sudah ku katakan, aku tidak ingin mendengar kabar apa pun tentangnya," ucap Alena dengan cepat. Karena memang tidak mau mendengar apa pun yang berkaitan dengan Abian. Karena ia harus menjaga kewarasannya agar tidak semakin merindukan pria itu.


"Tapi kabar yang ingin ku sampaikan ada kaitannya denganmu."


"Maksudmu?"


"Abian Atmajaya sudah setuju untuk bercerai."


Deg.


Alena menatap tak percaya dengan apa yang disampaikan Alex. Setelah sekian lama dia mengajukan perceraian, dan Abian yang selalu menolak dengan alasan akan menyetujui perceraian mereka dengan syarat Alena sendiri yang datang langsung mengurusnya.


Tapi sekarang pria itu setuju untuk bercerai meskipun tanpa kehadirannya. Seharusnya Alena bahagia bukan, mengingat itulah yang diinginkannya selama ini. Lagi pula perceraian diantara mereka pasti akan terjadi cepat atau lambat, tapi kenapa hatinya merasa sakit mendengar berita tersebut.


"Kau baik-baik saja?" tanya Alex saat melihat keterkejutan di wajah Alena.


Dengan perlahan Alena menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum meskipun terpaksa. "Baguslah, dengan begitu statusku menjadi jelas."


Alex menghela napasnya dengan kasar karena tahu Alena tengah berbohong, wanita itu pasti merasa sedih dan hatinya kembali terluka dengan berita yang disampaikannya. Sebenarnya Alex tidak ingin menyampaikan kabar tersebut, tapi dia tidak punya pilihan lain.


"Apa ada lagi yang ingin kau sampaikan?" Alena tidak bisa berlama-lama di tempat tersebut, karena air mata yang entah sejak kapan menggenang di kedua pelupuk matanya tidak bisa ia tahan lagi. "Jika tidak ada, aku akan..."


Bagaikan di sambar petir, itulah yang sedang dirasakan Alena. Ia benar-benar terkejut dengan berita kedua yang disampaikan Alex. Dan bukan hanya terkejut, tapi ia juga merasakan sakit seperti banyak duri yang menancap di hatinya.


Seharusnya Alena tidak perlu merasakan sakit hati, mengingat sudah tiga tahun ini mengubur rapat perasaannya. Tapi nyatanya rasa sakit itu tetap ada, karena rasa cinta yang teramat dalam pada Abian, pada suaminya yang sebentar lagi akan menjadi mantan suami.


"Kalau begitu secepatnya kau urus perceraian kami, aku tidak ingin menghalangi kebahagiannya lagi." Alena berdiri dari tempat duduknya, hendak pergi dari tempat tersebut untuk menyembunyikan air mata yang mulai menetes di kedua pipinya.


"Kau tidak ingin tahu siapa calon istri Abian Atmajaya?"


Langkah kaki Alena terhenti namun itu hanya sesaat, karena ia kembali melanjutkan langkahnya dari pada harus mendengar siapa wanita yang akan menjadi istri Abian. Entah Sekar atau siapa pun, yang jelas Alena belum siap mendengarnya.


"Alana Ricardo..."


Deg.


Seketika itu juga langkah kakinya terhenti saat mendengar nama saudara kembarnya disebut.


"Alana Ricardo nama calon istri Abian Atmajaya."


"Al..." gumamnya dalam hati dengan bibir yang bergetar hebat. Dadanya terasa sesak, dan sakit seperti ada ribuan jarum yang menusuk jantungnya, hingga membuat tubuhnya limbung dan hampir terjatuh kalau saja Alex tidak sigap menangkapnya.


"Alena kau tidak apa-apa?" tanya Alex dengan cemas.


Alena hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan Alex.


"Menangislah jika kau ingin menangis," ucap Alex saat melihat Alena meneteskan air mata, tanpa ada suara tangisan yang keluar dari bibir wanita itu. Keadaan Alena saat ini mengingatkan dirinya, ketika wanita itu begitu terpuruk ketika mengetahui kehamilannya bermasalah. Di saat itu Alena menangis tanpa suara, karena menanggung beban yang begitu berat di masa kehamilannya seorang diri tanpa suami.