
Setelah mengetahui kabar pernikahan Abian dan Alana yang akan diselenggarakan setelah perceraiannya selesai, hari-hari yang di jalani Alena tetaplah sama, yaitu kembali fokus pada kehidupannya bersama sang putra Bian Atmajaya.
Ya, Alena masih mencantumkan nama keluarga Atmajaya dibelakang nama putranya karena tidak ingin memutus hubungan darah yang mengalir di tubuh Bian. Karena walau bagaimanapun putranya tetaplah keturunan dari keluarga Atmajaya.
"Alex menurutmu bagaimana?" Alena memberikan berkas yang sudah dibacanya, pada pria yang memiliki status sebagai pengawal pribadi, asisten pribadi, sahabat, sekaligus sosok teman bagi Bian putranya.
"Sepertinya kau tidak punya pilihan lain, kau harus ke Jakarta," ucap Alex setelah membaca berkas tersebut, karena di dalamnya tertulis bahwa Alena diminta datang secara langsung untuk menandatangani kerjasama dengan pihak Gold, yaitu sebuah perusahaan perhiasan terbesar yang ada di Asia dan Eropa. Jika Alena bisa bekerjasama dengan perusahaan tersebut, maka nama Alena sebagai Jewelry designer akan dikenal oleh banyak orang.
"Jakarta..." Alena menghela napasnya dengan kasar. Hanya dengan menyebut nama kota itu saja, sudah membuatnya mengingat pada sosok Abian Atmajaya. Sosok yang entah mengapa sampai detik ini masih bersemayam di dalam hatinya, padahal sebentar lagi mereka akan bercerai.
"Kenapa Alena? Apa kau masih tidak ingin menginjakkan kakimu di sana?" tanya Alex saat melihat Alena melamun.
"Tidak, hanya saja..."
"Apa kau takut akan bertemu dengan Tuan Abian Atmajaya?" tebak Alex.
Alena menggelengkan kepalanya. "Aku tidak takut bertemu dengannya, lagi pula sebentar lagi kami akan segera bercerai, jadi sudah tidak ada urusan apa pun lagi diantara kami. Tapi.. tapi bagaimana dengan Bian? Aku tidak mungkin membawanya ke Jakarta."
Alex terdiam, dia tahu kenapa Alena tidak bisa membawa Bian ke Jakarta, karena selama ini wanita itu menyembunyikan keberadaan putranya dari Abian Atmajaya.
"Tidak Alex, Bian tidak boleh bertemu dengan Ayah kandungannya." Alena meng-gelengkan kepalanya dengan cepat.
"Kenapa tidak boleh? Apa yang kau takutkan?"
Alena terdiam tanpa mau menjawab pertanyaan Alex, kalau yang ditakutkannya hanya satu yaitu Abian tidak mau mengakui keberadaan putranya jika mereka bertemu. Karena Alena ingat betul, Abian tidak ingin mempunyai anak dari rahimnya, atau yang lebih tepat dari wanita seperti dirinya.
"Apa kau takut Tuan Abian Atmajaya akan merebut Bian darimu? Jika ya, aku pastikan dia tidak akan berhasil melakukan hal itu."
Alena tersenyum sinis. "Jangankan merebut, aku bahkan tidak yakin Abian akan mengakui Bian sebagai putranya."
"Dia mengakuinya Alena, bahkan pria itu mempertaruhkan nyawanya hanya untuk bisa bertemu dengan kalian," ucap Alex namun hanya dalam hati. Ia tahu betul apa yang terjadi pada Abian Atmajaya dalam tiga tahun belakangan ini. Bagaimana perjuangan pria itu untuk bisa berhasil di tempatnya yang sekarang, hanya untuk bisa membuktikan pantas mendapatkan maaf dari seluruh keluarga besar Alena.
"Sungguh konyol bukan? Aku begitu takut Abian menolak keberadaan putraku."
"Ya, kau begitu konyol!" sahut Alex dengan penuh penekanan disetiap katanya. "Sudah cukup kau bersembunyi dari semua orang, hanya karena Abian Atmajaya. Kini saatnya kau memperjuangkan masa depanmu dengan Bian, kerjasama kali ini akan membuat namamu terkenal Alena, lagi pula cepat atau lambat kau akan kembali ke Jakarta, karena—"