Bad Wedding

Bad Wedding
Part 46



"Kalau sampai Alena tidak ditemukan, kau akan tahu akibatnya!" Abian tidak perduli pada Sekar yang terlihat ketakutan, dia terus melampiaskan semua kemarahannya pada wanita itu karena sudah menjadi penyebab Alena melarikan diri.


"Memangnya apa yang akan kau lakukan?" Sekar mencoba melawan dengan mendorong kasar dada bidang Abian.


"Kau..." Abian mengepalkan kedua tangannya.


"Kenapa? Kau ingin memukulku? Sama seperti yang kau lakukan pada Alena?" sindir Sekar dengan tertawa mengejek. "Apa keahlian mu itu memang hanya bisa menyakiti seorang wanita?"


"Jangan keterlaluan Sekar!" Abian masih menahan tangannya untuk tidak melukai wanita itu. Karena sebenarnya pantang bagi Abian menyakiti wanita. Namun pantangan itu tidak berlaku bagi Alena, ia bahkan tidak hanya menyakiti fisik wanita itu tapi juga psikisnya. Karena Abian sangat membenci Alena, yang sudah membuatnya terpisah dengan Alana cinta pertamanya.


"Aku yang keterlaluan atau kau?" Sekar menghela napasnya lalu menatap Abian dengan iba, apalagi saat melihat tangan pria itu yang terluka. "Kenapa kau begitu marah mendengar Alena melarikan diri? Bukankah kau membencinya? Jadi seharusnya kau bahagia jika seorang yang kau benci menghilang dari hidupmu?"


"Aku memang membencinya, tapi Alena tidak boleh pergi sebelum aku yang mengusirnya!"


"Ck.. kau itu aneh. Sekarang atau pun nanti, di usir atau melarikan diri, itu sama saja Abian Atmajaya. Intinya wanita murahan itu sudah pergi bukan?"


"Jangan memanggilnya murahan!" Abian kembali emosi, bahkan hampir membuat Sekar terjatuh kembali keatas lantai.


"Lihat apa yang kau lakukan? Kau marah dan tidak terima saat aku mengatakan Alena wanita murahan?" Sekar tersenyum sinis. "Kau itu sebenarnya membenci Alena, atau membenci dirimu sendiri karena mencintai wanita itu?"


"Apa kau bilang? Aku mencintai Alena..." Abian tertawa dengan keras. "Sampai kapanpun hanya ada kebencian untuk wanita itu. Dan aku marah kau menyebutnya murahan, karena hanya aku yang boleh menghina dan menyakitinya."


"Omong kosong!" Abian memilih tidak menggubris perkataan Sekar. Terlebih saat melihat dua pengawalnya bersama Bi Yanti masuk ke dalam rumah. "Di mana Alena?" tanyanya langsung. Abian masih berharap Alena ditemukan, meskipun harapan itu tipis saat melihat wajah kedua pengawalnya yang babak belur. "Kalian kenapa?"


Kedua pengawal itu menundukkan kepala mereka, tidak berani menjawab pertanyaan tuannya.


"Jawab aku! Kalian kenapa dan dimana Alena?" Abian mengulangi pertanyaannya.


"No-Nona di bawa pergi," jawab salah satu pengawal.


"Dibawa pergi? Kalian bilang Alena melarikan diri?" tanya Abian dengan bingung.


"Nona Alena memang melarikan diri, tapi saat kami menemukannya ada dua orang pria yang membawanya pergi, dan bodyguard yang menjaga mereka memukuli kami."


"Apa?" pekik Abian dengan terkejut. Perasaannya kini tak menentu, marah dan cemas menjadi satu saat mengetahui Alena di bawa pergi oleh dua orang pria. "Bodoh kalian!" ia menghajar satu persatu anak buahnya. "Bisa-bisanya kalian kehilangan Alena, dan membiarkan wanitaku dibawa pergi orang asing." Abian yang marah terus menghajar kedua orang tersebut, hingga membuat kedua orang itu jatuh terkapar tidak berdaya di atas lantai.


"Tuan sudah!" Bi Yanti menahan tuannya untuk tidak memukuli lagi.


"Katakan siapa mereka? Siapa orang yang sudah berani membawa Alena?" tanya Abian tanpa menghiraukan Bi Yanti yang berusaha melerai.


"Ka-kami tidak tahu, mereka pergi tanpa mengatakan apa pun."