Bad Wedding

Bad Wedding
Part 22



"Tapi kenapa Nona? Bukankah lebih baik jika Tuan Abian mengetahui kehamilan Anda, agar sikap Tuan tidak lagi..."


"Abian tidak akan pernah berubah," potong Alena dengan cepat. "Dia justru akan melenyapkan anak ini."


"Maksud Anda apa?" tanya Ben dengan bingung.


"Abian pernah mengatakan tidak ingin memiliki keturunan dariku, dia juga bilang akan menggugurkan kandunganku jika sampai aku hamil," ucap Alena dengan sedikit berbohong. Agar Ben percaya dan mau merahasiakan kehamilannya.


"Aku rasa Tuan Abian tidak akan sekejam itu, dia —"


"Dia sering menyiksaku kalau kau lupa itu! Dan tadi kau dengar sendiri bukan? Abian akan menikah lagi dengan mantan kekasihnya. Jadi menurutmu apa yang akan dilakukan Abian saat tahu aku sedang mengandung anaknya?"


Ben terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Karena walaupun Ben sangat tahu bagaimana sifat Abian, tapi apa yang dikatakan Alena semuanya benar. Abian sering menyiksa wanita itu, dan juga akan menikah lagi dengan mantan kekasihnya yang bernama Sekar.


"Berjanjilah Ben, jangan pernah memberitahu kehamilan ini pada Abian. Setidaknya sampai aku berani untuk mengatakannya sendiri, saat kandunganku sudah cukup kuat," pinta Alena dengan memohon.


"Baiklah aku berjanji tidak akan memberitahu Tuan Abian," putus Ben pada akhirnya.


"Terima kasih Ben," Alena reflek memeluk asisten suaminya itu, membuat Ben terdiam tanpa berani membalas pelukan tersebut.


"Lebih baik sekarang aku antar Anda pulang."


"Aku tidak mau pulang, aku ingin pergi jalan-jalan dulu menikmati kebahagiaan ini."


Di satu sisi Alena bahagia dengan situasinya saat ini, karena akan memudahkan dirinya saat melarikan diri nanti. Tapi di satu sisi lainnya dia merasa sedih, karena mungkin di saat Alena pergi tidak akan sempat melihat wajah Abian.


"Baiklah aku akan mengantar kemana pun yang Anda inginkan," ucap Ben dengan tersenyum.


"Sekali lagi terima kasih Ben."


Alena dan Ben pun jalan bersisian masuk ke dalam mobil, menuju tempat yang diinginkan Alena tanpa menyadari ada mobil hitam yang berhenti tepat tidak jauh dari tempat tersebut. Dengan penumpang di dalamnya yang menatap kepergian mobil yang ditumpangi Alena, dalam diam dan kening yang berkerut.


"Bagaimana menurutmu?" tanya pria yang duduk di sampingnya.


Yang ditanya hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahunya, serta wajah tak terbaca.


"Jadi kau tidak mau membantunya? Kau tidak lihat laporan yang kita dapat? Alena sepertinya tersiksa, bahkan bajingan itu tidak segan menyakiti Alena di tempat umum." Pria itu melemparkan foto-foto Alena yang dijambak rambutnya di tempat parkiran.


"Bukan aku tidak mau, tapi jika kita membantu Alena akan ada hati yang terluka," menarik napasnya dengan panjang. "Alana.. kau lupa padanya? Jika kita ikut campur tanpa tahu kebenarannya, Alana pasti akan sakit hati karena menganggap kita lebih membela Alena." Boy menatap Agam yang duduk di sampingnya.


Ya, pria itu adalah Boy Arbeto dan Agam Mateo. Dua pria yang berstatus sebagai sepupu Alena dan Alana, yang sejak beberapa Minggu yang lalu menyelidiki apa pun yang terjadi pada Alena.


"Kita sudah menyelidiki kejadian yang mereka Alami, dan dari semua CCTV yang ada Alena terbukti melakukannya bersama Abian tanpa pemaksaan sama sekali," ujar Boy yang lagi-lagi menghela napasnya. "Jadi aku akan membantu Alena, jika wanita itu sudah menyerah dengan semuanya," ucap Boy dengan tegas.


Dia teringat kembali pada kejadian beberapa Minggu yang lalu, saat mobilnya keluar dari mansion utama dan melihat taksi yang berhenti tidak jauh dari mansion nya. Boy yang memiliki intuisi yang sangat kuat, menyuruh anak buahnya mencari informasi siapa penumpang taksi itu dan berhenti dimana. Betapa terkejutnya Boy saat mengetahui Alena lah penumpang taksi itu, dan lebih terkejut lagi saat mendapatkan laporan bagaimana Abian memperlakukan Alena di tempat umum.