Bad Wedding

Bad Wedding
Part 93



Setelah mendengar penjelasan dari Alana tentang apa yang terjadi pada Abian selama tiga tahun kebelakang, Alena hanya mampu terdiam dengan wajah tak percaya. Rasanya sangat mustahil pria itu mau mempertaruhkan nyawanya hanya untuk mengetahui dimana dirinya tinggal.


Bahkan Abian sampai berani datang menemui Dad Antoni, tanpa ia ketahui kapan kejadian itu terjadi. Karena selama ini Daddy nya tidak pernah cerita kalau Abian pernah datang untuk meminta maaf. Ah.. mungkin saja karena Alena pernah berkata tidak ingin mendengar berita apa pun tentang Abian, sehingga Dad Antoni tidak menceritakannya.


"Aku tahu semua kesalahan yang diperbuat Abian tak termaafkan, tapi setidaknya pertemukan putramu dengan Daddy kandungnya. Bian berhak mengenal siapa Abian." Alana memang sudah mengetahui apa yang telah dilakukan Abian pada Alena, dari mulut pria itu sendiri dan dari Aluna.


Ya, Aluna menceritakan semua perbuatan kasar Abian pada Alena. Dan jangan tanyakan apakah dirinya marah? Karena yang jelas ia sampai memukul pria itu karena rasa tak terima adiknya di perlakukan dengan kejam. Tapi semua sudah terjadi, dan tidak mungkin bagi mereka untuk kembali ke masa lalu. Yang bisa mereka lakukan saat ini adalah memperbaiki semuanya, meskipun terasa berat.


Alena menatap Bian, memikirkan kembali semua perkataan Alana.


"Oh ya, tadi aku lihat Bian terkejut melihat keberadaan kita. Bukankah seharusnya dia sudah terbiasa, mengingat Aluna pasti sering menemuimu?" Alana sengaja mengalihkan pembicaraan mereka, karena merasa sudah cukup untuk membujuk adiknya itu. Dan untuk keputusan Alena mempertemukan atau tidak Abian dengan putranya, dia tidak akan ikut campur. Tapi setidaknya ia sudah berusaha untuk membantu memperbaiki semuanya.


"Aluna hanya beberapa kali berkunjung, itu pun sudah sangat lama. Jadi Bian tidak ingat kalau Mommy nya memiliki saudara kembar," ucap Alena dengan tertawa.


Alana pun ikut tertawa, meskipun dalam hati merasa miris. Karena diantara semuanya hanya Alona dan dirinya yang benar-benar belum pernah bertemu keponakannya.


"Baiklah aku harus pulang," Alana tidak enak jika berlama-lama di tempat tersebut, karena ingin memberikan ruang bagi Alena dan Abian. Siapa tahu setelah mendengar semua penjelasannya, Alena mau memberikan kesempatan bagi Abian untuk bertemu Bian. "Tapi aku boleh berkunjung lagi kan?"


"Tentu saja selama aku masih tinggal di Jakarta."


"Maksudmu?"


"Aku akan kembali ke tempat selama ini kami tinggal, paling lama setelah putusan pengadilan menetapkan perceraian kami."


Deg.


Untuk kedua kalinya Alena terkejut dengan apa yang diucapkan saudara kembarnya. Setelah kebohongan tentang pernikahan Abian Alana, kini kebenaran tentang perceraiannya pun terkuak. Dan kebohongan kali ini benar-benar membuatnya terkejut, karena setahu dirinya perceraian mereka sudah di urus Alex. Itu artinya pengawal pribadinya terlibat dengan kebohongan yang dilakukan Abian dan Alana.


"Sebenarnya ada berapa banyak kebohongan yang kalian lakukan? Kenapa aku merasa jadi orang yang paling bodoh di sini." Alena menatap tajam pada kembarannya.


"Tidak ada lagi, percayalah kebohongan yang kami buat hanya untuk membuatmu kembali." Alana memeluk saudara kembarnya.


Alena pun membalas pelukan tersebut, meskipun dalam hati masih ragu apakah benar tidak ada lagi kebohongan yang dilakukan saudara kembarnya itu dengan Abian.


"Aku akan mengantarmu," ucap Alena setelah melepas pelukannya. Ia berjalan menuju pintu bersama Alana, setelah menyuruh putranya untuk kembali bermain. "Jaga dirimu!"


Alana menganggukkan kepalanya, lalu keluar dari apartemen yang langsung ditutup kembali oleh Alena. Menyisakan dirinya dan Abian yang terlihat berharap mendapat sebuah kabar baik.


"Sudah berapa lama menunggu diluar?" tanya Alana dengan tersenyum geli, saat melihat penampilan Abian yang terlihat acak-acakan. Jas yang dikenakan pria itu tersampir ditangan, dengan beberapa kancing kemeja yang terbuka.


"Ck, apa perlu aku menjawabnya?" Abian menghela napas dengan panjang, karena bukan hal itu yang ingin dibahasnya saat ini. "Bagaimana? Apa Alena mau memaafkanku? Apa dia mau memberikan satu kesempatan? Apa dia mengijinkan aku untuk bertemu putraku?"


"Bian, nama putramu Bian Atmajaya. Dan seharusnya kau tidak perlu bertanya apa adikku mengijinkannya? Karena sampai sekarang kau masih berada di luar, itu artinya kau tidak diijinkan." Alana kembali tertawa.


Sementara Abian hanya diam dengan bibir melengkung membentuk sebuah senyuman. "Bian Atmajaya, nama putraku Bian Atmajaya," ucapnya berulang-kali dengan penuh kebahagiaan.