
Setelah sampai ditempat yang dituju, Abian berjalan menuju ruang praktek milik mantan kekasihnya. Seorang wanita yang sangat ia cintai, yang ternyata bukanlah orang yang ia kira selama ini.
"Tuan Anda mau kemana?"
Perawat yang bertugas di depan ruang praktek Alana, menghalangi langkahnya.
"Minggir!" sentak Abian.
"Tapi Tuan, Anda tidak boleh masuk jika belum membuat janji."
"Aku bilang minggir! Kau tuli ya?" Abian yang tengah emosi hampir saja meluapkan amarahnya pada perawat tersebut. Untung saja Alana keluar dari ruang prakteknya, hingga tidak terjadi keributan.
"Abian apa yang kau lakukan di sini?" tanya Alana dengan raut wajah yang kesal, setelah mengetahui orang yang membuat keributan di depan ruangannya, tenyata suami Alena sekaligus mantan kekasihnya dulu. "Bukankah sudah aku katakan, jika kau berani mendekatiku lagi maka—"
"Ada yang ingin aku bicarakan," potong Abian dengan cepat.
"Aku tidak bisa, aku sibuk." Alana hendak masuk kembali kedalam ruangannya.
"Kau bukan Al ku," ucap Abian dengan suara menahan amarah.
"Apa...?" Alana yang tidak mengerti maksud perkataan Abian, sampai membalik badannya menatap pria itu.
"Kau bukan Al! Karena Al ku Alena Ricardo. Dan kau pasti tahu itu!" tuduh Abian dengan penuh penekanan disetiap katanya, mencengkram tangan Alana dengan kuat tanpa peduli saat ini dia berada di rumah sakit, dan para pasien Alana kini menatap mereka dengan berbisik.
"Kau itu sedang bicara apa? Aku tidak mengerti!" Alana mencoba melepaskan cengkraman ditangannya, sembari menutupi keterkejutannya. "Lepas Abian! Atau aku akan memanggil petugas keamanan untuk mengusirmu dari tempat ini."
"Kau gila Abian!" Alana memberi kode pada perawat untuk memanggil petugas keamanan.
"Ya aku gila! Gila karena kalian yang sudah mempermainkan perasaanku!" ucap Abian dengan mata yang berkaca-kaca dan kilatan penuh amarah.
Ia marah pada situasi yang dihadapinya. Marah pada Alena yang tidak mau mengatakan yang sebenarnya, saat dia dan Alana belum menjalin kasih. Abian juga marah pada Alana, yang pastinya mengetahui sesuatu tapi diam saja. Terlebih Abian marah pada dirinya sendiri, yang tidak bisa mengenali siapa cinta pertamanya.
Alana yang belum pernah melihat kemarahan, dan kekecewaan yang teramat dalam di wajah Abian. Akhirnya memilih untuk berbicara baik-baik dengan mantan kekasihnya itu di dalam ruang kerjanya.
"Sekarang katakan apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Alana setelah mereka duduk saling berhadapan. Sejujurnya dia tahu arti perkataan Abian tentang sosok Al, tapi Alana ingin tahu sampai sejauh mana Abian mengetahui semuanya.
"Kau bukan Al ku..."
"Ya, aku bukan Al mu," jawab Alana dengan singkat dan jelas.
Abian menatap tak percaya dengan jawaban yang diberikan Alana, wanita itu mengakuinya tanpa rasa beban sedikitpun.
"Kenapa? Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku?"
Alana menghela napasnya dengan tersenyum sinis. "Kau lupa, aku sudah pernah mengatakan kalau aku tidak ingat apapun tentang kebersamaan kita dimasa lalu."
Abian terdiam, karena apa yang dikatakan Alana memang benar.
"Lagi pula kau menceritakan sosok Al yang menyelamatkan mu ketika tenggelam, saat kita sudah menjalin kasih," ucap Alana kembali sembari mengingat kejadian di masa lalu. "Saat itu aku baru sadar sosok yang selama ini kau bicarakan adalah Alena. Jika kau bertanya kenapa aku diam saja setelah mengetahui semua itu, jawabannya hanya satu. Karena aku mencintaimu, sangat mencintaimu Abian sampai takut kehilanganmu."