
Ya, Ayuning sudah mengetahui semuanya. Kalau putranya itu terluka karena nekat mencari Alena yang melarikan diri ke keluarga besarnya. Dan ia juga mengetahui perusahaan suaminya bangkrut juga disebabkan oleh wanita itu, yang kemungkinan besar mengatakan hal yang tidak-tidak tentang keluarga mereka.
"Lepas! Aku harus mencari Alena," teriak Abian sembari mendorong Ibunya, dan juga dokter yang ingin memasang kembali infus ditangannya.
"Cukup Abian!" Atmajaya yang sejak tadi diam, kini menatap putranya dengan tajam hingga membuat Abian terdiam. "Sudah cukup kau membuat kami semua khawatir! Sudah cukup kau membuat semua kekacauan ini!"
"Pak! Putra kita ini baru saja sadar, jangan menyalahkannya! Yang harus disalahkan di sini itu Alena, dia —"
"Bu!" ucap Abian dan Atmajaya bersamaan, hingga membuat Ayuning terdiam.
Suasana di ruang rawat tersebut menjadi sunyi saat semua orang yang ada di dalam ruangan terdiam. Apalagi saat dokter dan perawat keluar dari ruangan, membuat suasana ditempat tersebut semakin dingin mencekam.
"Kalau kau ingin mencari Alena, tunggu sampai kondisi mu pulih!" Atmajaya mulai bersuara.
"Pak.. kenapa Bapak mengijinkan Abian mencari Alena? Apa Bapak lupa, gara-gara wanita itu Abian masuk rumah sakit?"
"Bu..." geram Abian dengan wajah tak terima, saat ibu nya kembali menyalahkan Alena.
"Apa? Kau tidak terima wanita itu disalahkan? Asal kau tahu, gara-gara wanita itu juga perusahaan keluarga kita bangkrut..." tubuh Ayuning meluruh di atas kursi sambil menangis.
"Ya, perusahaan kita bangkrut karena wanita itu." Tangis Ayuning semakin kencang.
"Semua itu bukan kesalahan Alena, Bu." Atmajaya berusaha untuk sabar menghadapi istrinya.
"Salahku, ini semua salahku..." sahut Abian dengan penuh rasa penyesalan. "Karena perbuatan ku sudah membuat perusahaan kita hancur."
Dengan wajah lelahnya, Atmajaya menatap putranya dengan intens. Walaupun dia sangat kecewa setelah mengetahui dari Ben semua perbuatan kasar yang dilakukan Abian pada Alena, bahkan mengetahui kalau selama ini Sekar tinggal bersama di kediaman putranya. Tapi setidaknya Atmajaya merasa sedikit lega saat Abian mau mengakui semua kesalahan itu
"Kau tidak salah Nak, sudah Ibu katakan berapa kali. Semua itu salah Alena, dia yang—"
"Sudah cukup kau menyalahkan Alena! Dia tidak bersalah, disini kita yang salah terutama aku," Atmajaya menarik napas dengan panjang. "Kita tidak bisa mendidik Abian dengan benar, sampai dia berani menyakiti seorang wanita. Aku juga salah karena bersikap tidak peduli, bahkan sampai memberikan hukuman pada mereka hanya karena kekecewaan atas kesalahan yang mereka perbuat. Aku juga salah karena diam saja saat istriku dengan terang-terangan memusuhi menantunya. Aku yang salah karena tidak bisa melindungi putri dari sahabat ku..."
Atmajaya menunduk sambil menangis, saat membayangkan bagaimana kecewanya Antoni ketika mengetahui putrinya diperlukan tidak baik oleh suami dan keluarganya. Dia bahkan tidak berani bertatap muka atau sekedar meminta maaf jika sahabat itu sudah mengetahui semua yang terjadi.
Abian pun ikut menundukkan kepalanya, saat perasaan bersalah terus menggerogoti hatinya ketika mengingat semua perbuatannya pada Alena. Apalagi saat mengingat semua perkataan Aluna, sebuah kenyataan yang membuat jiwanya begitu terpukul.
"Aku harus bertemu dengan Aluna, untuk memastikan semuanya dan mencari tahu dimana Alena," gumamnya dalam hati dengan tekad yang membara. Ia harus mencari tahu semua kebenarannya, termasuk pada Alana mantan kekasihnya.