Bad Wedding

Bad Wedding
Part 119



Semua perkataan Alena itu, tentu saja semakin membuat Abian terkejut sampai tak bisa berkata-kata, ia hanya mampu menganggukkan kepalanya dengan cepat sembari mengeratkan pelukannya.


"Aku mencintaimu Alena, sangat mencintaimu.." Abian mengecup kening istrinya, menghapus air mata yang menetes di kedua pipi halus itu. "Aku berjanji akan menjaga dan mencintai kalian seumur hidupku. Aku pun berjanji tidak akan menyakiti hatimu lagi."


Alena menganggukkan kepalanya, tersenyum saat semua beban yang menghimpitnya selama hampir satu bulan ini terlepas. Sebuah beban karena menyembunyikan perasaan cintanya, hanya karena takut hatinya kembali terluka.


"Aku pegang janji mu Abian Atmajaya."


Kini Abian yang menganggukkan kepalanya, tersenyum lalu mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir yang selama ini dirindukannya.


"Aku akan memegang janjiku," ia kembali mengecup bibir wanitanya, kecupan yang perlahan dan begitu lembut hingga berubah menjadi ciuman yang begitu menuntut. Sebuah ciuman yang penuh gairah, saling membelit lidah dan bertukar saliva untuk melepaskan dahaga setelah bertahun-tahun lamanya. Mungkin ciuman itu akan berlanjut ke tahap yang lebih panas jika saja tidak ada suara kecil yang menyadarkan keduanya.


"Mom.. Dad..."


"Bian..." Baik Alena maupun Abian mendekat pada putra mereka. "Apa yang kau rasakan Nak? Dimana yang sakit?" tanya Abian dengan cemas sembari menyentuh kening putranya.


Bian menggelengkan kepalanya dengan tersenyum, membuat Abian kini bisa bernapas dengan lega setelah sejak tadi mengkhawatirkan keadaan putranya.


"Aku ingin di cium juga," rajuk Bian meskipun dengan lemah.


Alena dan Abian saling menatap, lalu tertawa sembari mencium putra mereka dengan bergantian.


"Nanti malam kita lanjutkan lagi," bisik Abian sembari mencium pipi Alena dengan cepat.


Sedangkan Alena hanya bisa tersipu malu, layaknya seorang pasangan yang baru menikah saat membayangkan apa yang akan dilakukan mereka nanti malam.


"Lihatlah Bian, Mommy mu begitu cantik saat tersipu malu," goda Abian dengan tertawa.


"Ampun.. ampun sayang.." Abian memeluk Alena dan putranya dengan erat. Kini ia merasa bahagia bisa memiliki kembali kedua cintanya, setelah banyak kehilangan yang mereka rasakan.


Tidak jauh berbeda dengan Abian, Alena pun merasa bahagia karena pada akhirnya bisa mendapatkan cinta pertamanya setelah banyak kesakitan yang dirasakannya.


Baik Alena juga Abian sepakat untuk memulai semuanya dari awal, dengan satu tujuan yaitu hidup bersama saling menyayangi, dan mencintai demi putra mereka yang bernama Bian Atmajaya.


*


*


Satu bulan kemudian.


Sebuah pesta pernikahan yang di selenggarakan di Hotel berbintang lima, tampak begitu megah dan mewah, hingga membuat semua tamu yang hadir menatap dengan penuh kekaguman pada pasangan yang tengah berbahagia bersama putra mereka.


Ya, Abian dan Alena sepakat mengulang pernikahan mereka sekaligus mengadakan sebuah pesta. Karena dulu pernikahan mereka diadakan tertutup bahkan hanya beberapa orang yang hadir.


Dan sekarang kedua keluarga besar berkumpul, menyaksikan kebahagiaan Alena dan Abian setelah sebelumnya saling memaafkan atas kesalahan di masa lalu, baik dari pihak keluarga Ricardo maupun keluarga Atmajaya.


"Kau sangat cantik sayang, aku sudah tidak sabar membuat adik untuk Bian," bisik Abian di sela menyambut para tamu yang datang.


"Abian.." Alena melempar tatapan tajam pada suaminya. "Kau itu mesum sekali..."


Entah sejak kapan pria yang sangat ia cintai itu berubah menjadi pria mesum. Bahkan sudah satu bulan ini, Abian terus menggodanya dengan sentuhan-sentuhan nakal meskipun mereka tidak sampai melakukan percintaan.


Ya, satu bulan yang lalu mereka tidak jadi melakukannya karena Alena ingin mengulang kembali pernikahan mereka, mengingat selama tiga tahun mereka berpisah. Hingga akhirnya Abian pun harus bisa menahan gairahnya setiap kali bertemu dengan Alena.