Bad Wedding

Bad Wedding
Part 33



Tok.. tok.


Alena yang berada di dalam kamarnya, menatap pada pintu yang diketuk dari luar.


"Siapa?"


"Ini Bibi Non."


Mengetahui yang mengetuk pintu adalah pelayannya, Alena pun berjalan membuka pintu tersebut.


"Ada apa?" tanya Alena sembari menatap sekitar ruangan, berharap tidak melihat Abian ataupun Sekar.


"Em.. itu Non, Tuan menyuruh Nona untuk makan malam bersama," ucap Bi Yanti dengan tidak enak hati.


Alena terdiam sesaat. "Katakan padanya aku tidak mau," Alena lebih memilih tidak ikut makan malam dan kelaparan, dari pada harus bertemu dua orang tersebut. Karena tidak menutup kemungkinan Abian, dan Sekar akan bermesraan di hadapannya, dan Alena tidak sanggup jika harus menyaksikan semua itu.


"Tapi Non, Tuan Bilang harus! Kalau tidak..." Bi Yanti terdiam sambil menundukkan kepalanya.


"Dia akan menyiksaku lagi?" sahut Alena tersenyum sinis. "Aku tidak takut Bi, bukankah Abian sudah sering menyiksaku, jadi..." kini Alena yang terdiam, tidak meneruskan perkataannya saat teringat kondisinya yang sedang hamil muda. Jika Abian menyiksanya lagi, Alena takut terjadi sesuatu pada kandungannya.


"Non mau kemana?" tanya Bi Yanti dengan bingung, karena tiba-tiba saja wanita itu menutup pintu kamar setelah sebelumnya terdiam.


"Bibi bilang aku harus ikut malam bersama mereka bukan? Kalau begitu ayo!" Alena berjalan mendahului pelayannya.


"Siapa yang menyuruhmu duduk di sana?" Abian menatap tajam pada Alena yang hendak duduk di kursi paling ujung jauh dari tempatnya berada.


Tangan Alena yang menarik kursi terhenti, lalu membalas tatapan tajam Abian. "Kau ingin aku berdiri lagi di sampingmu?"


"Bagus kalau kau tahu, cepat kemari!" Abian menunjuk tempat di sisinya.


Dengan menghela napasnya Alena berjalan ke sisi Abian, tangannya terkepal erat menahan emosi yang ada di hatinya atas perlakuan pria itu. Memang ini bukan kali pertama dirinya diperlakukan semena-mena oleh suaminya, tapi saat ini berbeda karena ada Sekar diantara mereka yang melihat untuk kedua kalinya perlakuan kasar Abian.


"Ambilkan makanan untuk kami!" perintah Abian setelah Alena berdiri di sampingnya.


Alena membelalakkan kedua matanya dengan wajah yang terkejut, bisa-bisanya Abian menyuruh dirinya melayani wanita ****** itu. "Kalian punya tangan bukan? Ambil saja sendiri?" ketusnya sambil menatap pada Sekar yang terlihat duduk di samping kanan Abian, tanpa rasa bersalah sedikitpun menempati tempat duduk yang menjadi miliknya.


"Kau—"


"Kenapa? Kau tidak suka dan ingin menghukumku?" potong Alena dengan cepat. "Sejak awal seharusnya aku menolak untuk ikut makan malam bersama kalian, dari pada dijadikan pelayan seperti ini," Alena hendak pergi dari tempat tersebut, namun tangannya ditahan oleh Abian.


"Diam dan duduklah!" Abian mendorong Alena untuk duduk di kursi samping kirinya. Dia terpaksa menahan Alena agar tetap didekatnya, agar bisa makan malam dengan nyaman tanpa harus merasakan pusing dan mual. Karena hanya berada disisi wanita itu saja rasa pusing, dan mual yang di alaminya sejak tadi pagi hilang begitu saja.


Lagi pula ada cara lain yang bisa digunakan untuk menyiksa Alena, yaitu dengan cara memperlihatkan kemesraan nya bersama Sekar. Jadi Abian bisa makan malam dengan tenang, sembari menikmati ekspresi wajah Alena yang terluka melihat kemesraannya bersama wanita lain.