
Melihat Abian yang sampai bersujud di kakinya, hanya untuk bisa menjalin hubungan dengan putranya tentu saja membuat hati Alena terenyuh.
"Abian berdirilah! Jangan seperti ini," Alena yang memang sejak dulu tidak bisa mendendam pada pria yang sangat dicintainya itu, ikut berjongkok di hadapan pria tersebut.
"Aku mohon Alena, sudah lama sekali aku menantikan saat-saat dimana bisa berkumpul dengan putraku, darah daging yang selama tiga tahun ini tidak bisa aku temui. Dan tadi pagi aku hanya sempat mengusap kepalanya tanpa bisa merengkuh tubuh mungil itu." Abian menyentuh wajah Alena dengan kedua tangannya. "Aku mohon Ale, aku ingin memberikan kasih sayang untuk putraku."
Alena terdiam sesaat, menatap kedua mata Abian yang memancarkan sebuah penyesalan dan kerinduan yang teramat dalam melalui air mata yang mengalir di kedua pipi pria itu. Air mata yang sama yang pernah ia tumpahkan saat merindukan sosok Abian selama bertahun-tahun lamanya.
"Aku akan memberikan kesempatan pada kalian," putus Alena pada akhirnya.
Ya, dirinya tidak boleh bersikap egois dengan mengorbankan hak yang seharusnya didapatkan oleh putranya, yaitu hak untuk mendapatkan kasih sayang dari ayah kandungnya sendiri. Walaupun terasa begitu berat, namun Alena harus bersikap bijak untuk mengatasi semua masalahnya yang selama tiga tahun ini menggantung begitu saja.
Alena harus berani menghadapi semuanya, dengan tidak melarikan diri lagi seperti yang sudah dilakukannya tiga tahun yang lalu. Sudah waktunya ia mengubur semua kenangan pahit itu dan berdamai dengan masa lalu demi kebahagiaan putra semata wayangnya. Karena kebahagiaan Bian lah yang paling utama, dan ia akan melakukan apa pun termasuk memaafkan semua kesalahan Abian Atmajaya demi kebahagiaan putranya.
"Benarkah? Kau serius?" Abian ingin memastikan yang didengarnya itu tidak salah. Alena nya memberikan sebuah kesempatan bagi hubungannya dengan sang putra.
"Ya, tapi ingat hanya untuk hubungan kalian. Bukan untuk hubungan kita."
Abian menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Tapi aku akan tetap mengejar cintamu Alena Atmajaya," gumamnya dalam hati dengan tekad membara. Kini waktunya ia memperjuangkan cintanya, setelah sebelumnya Alena lah yang memperjuangkan cinta mereka sampai hidup menderita karena perlakuan kejamnya.
Dengan cepat Abian berdiri, mengejar langkah Alena yang sudah lebih dulu masuk ke dalam pintu lift. Di dalam lift tersebut Abian tersenyum bahagia karena sebentar lagi akan bertemu, dan memeluk putra kandungannya.
Namun sayang, rasa bahagia itu berganti dengan amarah saat pintu lift terbuka, menampilkan sosok pria yang berjalan kearah mereka. Sosok pria yang sudah membuat wanitanya menangis dan ketakutan.
"Abian..." lirih Alena dengan ketakutan saat melihat tuan Sky. Ia merasa takut karena tidak ingin dilecehkan untuk kedua kalinya.
"Jangan takut, ada aku!" Abian menggenggam tangan Alena dengan erat.
Sementara itu dari arah yang berlawanan, Sky menatap pada sosok wanita yang berjalan di samping Abian. Menatap dengan senyum tipis dibibir, saat dugaannya benar jika wanita tersebut memiliki kembaran. Terbukti dengan pakaian yang dikenakan wanita itu, berbeda dengan wanita yang baru saja dikejarnya.
"Abian apa kau..." belum sempat meneruskan ucapannya, tubuh Sky terjatuh kebelakang dengan keras saat mendapatkan pukulan yang begitu telak di wajah dan perutnya.
"Sekali lagi kau menyentuh istriku, habis kau!" ancam Abian dengan penuh amarah.
Berlalu dari tempat tersebut tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Alena. Meninggalkan Sky yang masih terduduk di atas lantai, dengan beberapa karyawan yang menatap ngeri pada kedua atasan mereka yang baru saja berkelahi.