
"Bukankah sudah pernah aku katakan, jangan pernah mendekati istriku!" ucap Abian dengan penuh penekanan, dan sorot mata yang tajam.
"Hei! Kau jangan salah paham dulu," sahut Sky dengan cepat saat melihat kemarahan di wajah teman baiknya. "Aku mendekatinya tanpa niat buruk sedikitpun, aku hanya ingin—"
"Dengan menggenggam tangan istriku, kau bilang tidak mempunyai niat buruk?" Abian semakin mengetatkan rahangnya, menahan emosi yang siap meledak kapan pun.
"Aku hanya menyentuh tangannya, tidak lebih," sahut Sky dengan membela diri dan emosi yang mulai naik. Jika sudah seperti ini rasanya ingin sekali ia mengulang waktu, dan hal yang ingin diubahnya adalah dengan tidak membantu Abian Atmajaya.
Seharusnya dulu Sky biarkan saja teman baiknya itu terpuruk dengan kebangkrutan, kegagalan, dan tidak akan bersimpati sedikitpun kalau tahu akan jadi seperti ini. Orang yang sudah dibantunya justru tanpa segan memukulnya, dan sekarang dengan berani pria itu berdiri dihadapannya dengan tatapan membunuh.
"Menggenggam tangan istriku kau bilang hanya?" Abian mencengkram kerah kemeja Sky karena sudah tidak bisa menahan amarahnya.
"Hentikan!" sentak Alena saat melihat tangan Abian yang siap memukul lawannya. "Apa kalian tidak malu bertengkar di tempat umum seperti ini?" tanya Alena pada keduanya.
Secara bersamaan baik Abian maupun Sky menatap sekeliling, dimana para pengunjung restaurant tengah menatap mereka dengan saling berbisik. Namun bukannya berhenti setelah mengetahui situasi tersebut, Abian yang merasa masih tidak terima karena istrinya di sentuh, justru semakin mengeratkan cengkramanya.
Melihat kedua pria itu yang kembali mengibarkan permusuhan, Alena pun memutuskan untuk pergi dari tempat tersebut. Ia tidak mau melihat pertengkaran keduanya yang hanya akan membuatnya malu.
"Ale tunggu!" Abian mengejar saat melihat wanitanya pergi, begitupun dengan Sky.
Ia ingin mengetahui hubungan Abian dan Alena saat ini seperti apa, karena yang Sky ketahui dulu teman baiknya itu dibuat hancur oleh keluarga Arbeto karena berkaitan dengan wanita dari keluarga terpandang tersebut, yang tenyata adik dari teman kencan satu malamnya.
"Alena tunggu!" Abian menarik tangan wanitanya tepat di depan restaurant. "Pulanglah bersamaku!"
"Tidak perlu, aku akan memesan taksi saja." Alena mengeluarkan ponselnya hendak memesan. Namun belum sempat ia membukanya, ponsel itu sudah lebih dulu berpindah tangan. "Abian kembalikan!"
"Abian sudah aku katakan aku tidak mau!" Alena yang kesal menghempaskan tangan suaminya.
"Tapi kenapa Ale?" Abian menatap wajah wanitanya dengan sendu, karena sudah satu Minggu ia berusaha meluluhkan hati Alena, namun sampai detik ini wanita itu masih bersikap dingin dan menjaga jarak dengannya.
"Aku tidak ingin terlalu bergantung padamu."
"Tapi kenapa ? Bukankah aku ini suami mu, jadi sudah seharusnya kau bergantung padaku," Abian berkata dengan penuh penekanan.
"Sekarang statusmu memang masih suamiku, tapi itu tidak akan lama lagi. Karena aku sudah mengajukan gugatan ke pengadilan, dan sebentar lagi surat dari pengadilan pasti akan kau terima."
Setelah mengatakan hal tersebut Alena bergegas pergi dari tempat tersebut, meninggalkan Abian yang masih terdiam ditempatnya.
"Kenapa hatimu begitu keras?"
Deg.
Langkah kaki Alena terhenti saat mendengar perkataan pedas Abian.
"Setelah semua yang terjadi, rasa sakit, kehilangan, dan penyesalan. Apa tidak bisa membuat luka hatimu menghilang?"
"Luka itu akan selalu ada Abian, meskipun semua kesalahanmu sudah aku maafkan," ucap Alena namun hanya dalam hati.
"Aku hanya ingin diberi satu kesempatan, untuk memperbaiki hubungan kita. Tapi kenapa hatimu begitu keras? Demi putra kita, aku mohon buka hatimu," pintanya sembari berjalan mendekat, membalik tubuh Alena agar wajah cantik tersebut bisa ia lihat.