Bad Wedding

Bad Wedding
Part 79



Dengan ditemani Ben, Abian berlari mengejar Alena sembari mengamati dimana lift itu berhenti. Ia tak peduli apa yang dilakukannya itu menjadi pusat perhatian banyak orang, karena berlari dengan cepat tanpa mempedulikan keselamatan diri sendiri.


Namun sayangnya setelah Abian sampai di tempat Alena keluar dari lift, ia tidak menemukan siapa pun. Sosok wanita itu menghilang begitu saja hingga membuatnya cemas, dan takut untuk yang ke-dua kalinya.


"Sial!" umpat Abian sembari menatap sekitarnya untuk mencari keberadaan Alena yang sudah menghilang entah kemana. "Kau tidak boleh pergi lagi, tidak boleh!" Abian kembali berlari mencari ke setiap sudut pusat perbelanjaan, namun hasilnya tetap saja nihil.


"Tuan tenanglah!" Ben mencoba menenangkan tuan Abian yang terlihat frustasi mencari keberadaan Alena, bahkan pria itu sampai berteriak memanggil nama istrinya hingga membuat semua orang menatap mereka dengan tatapan aneh.


"Bagaimana aku bisa tenang? Tadi Alena ku ada di sini, dia bersama..." Abian mengigit tangannya yang terkepal erat, karena tidak bisa menyebut nama anaknya sendiri. "Mereka ada di sini Ben, mereka sudah kembali..."


Ben menganggukkan kepala sembari menepuk bahu tuan Abian yang bergetar hebat, mencoba menenangkan pria itu agar bisa berpikir dengan jernih.


"Mereka pasti masih ada di sekitar sini, aku akan coba mencari ke tempat parkir."


"Aku saja yang mencari kesana, kau pergilah ke bagian informasi dan minta pada petugas keamanan untuk mengecek CCTV!"


"Baik Tuan." Meskipun ragu untuk meninggalkan tuannya yang terlihat kacau, tapi Ben tetap menjalankan perintah tersebut.


Sementara itu Abian yang berlari menuju tempat parkir, langsung mencari ke setiap mobil yang ada di sana terutama pada mobil yang berjalan menuju pintu keluar.


"Alena..." seru Abian saat melihat wanitanya masuk ke salah satu mobil mewah berwarna hitam tak jauh dari tempatnya berdiri.


Dengan nekat dan tanpa pikir panjang, ia pun berdiri tepat di depan mobil tersebut tanpa rasa takut mobil yang ditumpangi Alena menabraknya.


Tin...


"Alena keluarlah! Aku mohon keluar!" Abian berteriak tepat di depan mobil yang ditumpangi Alena, sembari memukul bagian kap mesin mobil.


Melihat apa yang dilakukan Abian, sontak membuat Alena terdiam dengan raut wajah ketakutan. Namun jauh di dalam sudut hatinya ia merasa sedih saat melihat kedua mata Abian, yang memerah dengan bekas air mata yang terlihat di kedua sudut mata tersebut.


"Alena aku mohon keluarlah!" Abian kembali berteriak.


"Bagaimana Nona?" tanya salah satu pengawal yang berada di kursi pengemudi.


"Jalan Pak!" perintah Alena.


"Baik Nona..." ia pun memerintahkan pada pengawal yang berada di mobil belakang, untuk mengatasi seseorang yang menghalangi jalan mereka.


Tanpa menunggu lama kedua pengawal yang diperintahkan itu, sudah berhasil membekuk pria tersebut.


"Lepaskan!" Abian melawan tanpa mau bergeser sedikitpun dari tempatnya berdiri, karena jika dia bergeser maka mobil yang ditumpangi Alena akan pergi. "Alena aku mohon keluarlah!" teriaknya lagi sembari membalas pukulan pada dua orang yang berusaha menyingkirkannya.


Melihat Abian yang adu jotos di depan kedua matanya, membuat hati Alena kembali sedih hingga memilih untuk mengalihkan tatapannya pada Bian yang duduk di samping.


"Mom what happened?"


"Tidak ada apa-apa sayang, close your eyes!" perintah Alena pada sang putra, lalu menatap pada pengawal yang bertugas mengemudikan mobil mereka. "Cepat jalan Pak!"