
Setelah keadaannya membaik dan diijinkan keluar dari rumah sakit, Abian yang tadinya hendak menemui Alana juga Aluna untuk mencari tahu kebenaran yang selama ini tidak diketahuinya, terpaksa mengurungkan niat tersebut karena Ibu Ayuning memaksanya untuk pulang ke rumah terlebih dahulu.
Abian pun mau tidak mau mengikuti kemauan Ibu nya, karena ada hal yang harus dilakukan di rumahnya. Ia ingin mengambil tas Alena karena beberapa hari yang lalu belum sempat memeriksa semua isi tas tersebut.
Setelah sampai dikediamannya Abian langsung masuk ke dalam kamar Alena. Ibu Ayuning pun mengikuti putranya, karena masih khawatir dengan keadaan Abian.
"Di mana Bi Yanti menaruhnya?" Abian mencari keseluruh ruangan tanpa memperdulikan Ibu Ayuning yang bertanya apa yang sedang dilakukannya di kamar Alena. Ia terus mencari dengan membuka seluruh isi nakas, karena merasa yakin Bi Yanti pasti menaruh tas milik Alena di dalam kamar. "Apa ini?" Abian menatap sebuah buku berwarna biru yang bertuliskan Alena Ricardo, tepat di laci nakas paling bawah. Ia pun mengambil dan membuka buku tersebut sembari duduk ditepi ranjang.
Ayuning yang melihat putranya fokus pada buku yang dipegangnya, ikut duduk di samping Abian. Ia pun ikut membaca isi buku tersebut, di mana di dalamnya terdapat goresan tinta berwarna hitam dengan tulisan yang begitu rapih.
...Dear Bian...
...Apa kau tahu? Hari ini adalah hari yang paling bahagia sekaligus hari yang paling menyedihkan untuk ku. Bahagia karena tepat di hari ini statusku sudah resmi menjadi seorang Nyonya Abian Atmaja, menjadi istri dari pria yang sangat aku cintai....
...Tapi dihari ini juga aku merasa sedih, karena namaku sudah dicoret dari keluarga besar Ricardo. Mom dan Dad tidak mau mengakui ku sebagai putri mereka. Tapi tak mengapa, asalkan kau ada disisi ku, kehilangan semua yang kumiliki aku rela....
...Dear Bian...
...Kau bahkan dengan teganya memperlakukan aku seperti wanita bayaran setelah kita bercinta. Sedangkan aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena tahu kau marah dan membenciku atas semua yang terjadi pada malam itu. Tapi aku berani bersumpah tidak melakukan apa yang kau tuduhkan selama ini....
...Aku tidak pernah menjebakmu Abian, tapi aku juga tidak bisa memberitahumu siapa yang melakukannya. Biarlah aku saja yang kau salahkan, dan biarlah aku saja yang kau benci. Lagi pula namaku sudah jelek di mata semua orang, termasuk dimata Ibu Ayuning. Ibu mertua yang aku pikir bisa memberikan kasih sayangnya, karena ada darahku yang mengalir di tubuhnya. Tapi aku salah lagi, karena semua orang ternyata sangat membenciku....
...Jika kau bertanya apa aku menyesali kejadian malam itu, maka jawabannya tidak. Karena dengan kejadian malam itu akhirnya aku bisa memilikimu. Aku tidak peduli semua orang menganggap ku egois, dan tidak berperasaan karena merebut tunangan saudara kembarnya sendiri. Tapi apa aku salah memperjuangkan cintaku? Apa aku salah ingin memiliki cinta pertama ku? Apa aku salah begitu mencintaimu sejak dulu hingga detik ini....
...Dear Bian...
...Apa kau tahu hatiku sangat sakit saat kau membuang semua masakan yang kubuat dengan susah payah. Tidak bisakah kau menghargai sedikit saja yang kulakukan? Tidak bisakah kau melihatku sedetik saja tanpa rasa kebencian di hatimu?...
...Dear Bian...
...Hari ini kau membawa wanita itu ke dalam rumah kita, kau membawanya tanpa peduli perasaanku. Aku sangat membencimu Bian, sangat membencimu....