Bad Wedding

Bad Wedding
Part 64



Begitu banyak goresan tinta kesedihan yang ditulis Alena, hingga pada tulisan terakhir yang dibuat wanita itu.


...Dear Bian....


...Akhirnya apa yang kuinginkan selama ini terwujud, ada bagian darimu yang kini menyatu di diriku. Dan sekarang saat nya aku harus pergi! Pergi dari sisimu dan pergi dari hidupmu....


...Aku mohon jangan lagi membenciku, hiduplah dengan bahagia dan maafkan aku yang sudah membuatmu terpisah dengan wanita yang paling kau cintai....


...Terima kasih atas semua yang pernah kau berikan selama kita bersama. Terima kasih sudah menjadi cinta pertama dalam hidupku, dan terima kasih sudah mau mencintai seorang Al, walaupun Al yang ada di hatimu kini adalah Alana....


...Tapi aku tetap akan menjadi Al mu yang akan selalu mencintaimu, Al mu yang hanya bisa mencintaimu dalam diam ,dan Al mu yang hanya bisa menjadi bayangan masa lalu....


Abian mencengkram kuat buku catatan Alena dengan air mata yang menetes dari kedua sudut matanya. Kini ia benar-benar yakin apa yang dikatakan Aluna tempo hari bukanlah sebuah kebohongan. Alena tidak pernah menjebaknya karena yang melakukan semua itu adalah Aluna, dan Al nya adalah Alena bukan Alana.


"Alena..." teriak Abian dengan menangis tergugu.


Sementara Ibu Ayuning yang ada di samping putranya, tidak bisa berbuat apa-apa karena dirinya juga terkejut dengan apa yang ditulis Alena mengenai darah yang mengalir ditubuhnya.


"Tidak.. tidak mungkin Alena yang mendonorkan darah untukku," Ayuning menggelengkan kepala. Namun jika diingat-ingat olehnya, memang pada saat itu wanita yang ia kira Alana, hanya diam saja ketika dirinya mengucapkan terima kasih dengan menyebut nama Alana.


"Bu apa yang sudah aku lakukan? Aku sudah membenci wanita yang menyelamatkanku dulu, aku sudah membenci dan bersikap kasar pada wanita yang tenyata cinta pertama ku," ucap Abian dengan penuh rasa bersalah. "Sekarang dia pergi, Alena pergi tanpa sempat aku meminta maaf, Alena pergi setelah mendapatkan..." Abian terdiam saat mengingat tulisan Alena yang mengatakan ada bagian darinya yang kini menyatu di tubuh Alena. Pikirannya mulai menerka-nerka apa yang dibawa Alena, hingga membuat wanita itu meninggalkannya.


"Bi Yanti!"


Dengan terburu-buru Abian keluar dari kamar setelah mengusap air matanya. Ia mencari pelayan itu untuk menanyakan dimana tas Alena berada, karena yakin di dalam tas tersebut ada sesuatu yang bisa menjawab pertanyaannya.


Sementara Ayuning yang sempat shock dengan kenyataan yang baru diketahuinya, ikut menyusul Abian karena masih khawatir dengan keadaan putranya.


"Dimana tas Alena?"


"Tas Nona..." Bi Yanti meremas kedua tangannya karena merasa takut.


"Ya, tas Alena yang waktu itu terjatuh saat dia pergi!" bentak Abian karena sudah tidak sabar ingin memeriksanya.


"Tasnya.. tas Nona tidak ada," jawab Bi Yanti dengan menundukkan kepalanya.


"Tidak ada?" Abian mengerutkan keningnya dengan wajah yang bingung. "Bagaimana bisa tidak ada, bukankah waktu itu aku taruh di atas meja?"


"Iya Tuan, tapi tas Nona Alena diambil oleh orang-orang yang waktu itu mendatangi rumah ini?"


"Orang-orang siapa?" sentak Abian dengan emosi.


"Abian sabar Nak," Ayuning mencoba menenangkan putranya karena kasihan melihat Bi Yanti yang ketakutan.


"Bibi tidak tahu Tuan, orang-orang itu datang dan menggeledah semua isi ruangan di rumah ini. Setelah mengambil tas Nona Alena, mereka semua pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun."


"Sial!" umpat Abian. Ia pun segera mengambil kunci mobil dan ponselnya.


"Kau mau kemana?" tanya Ayuning dengan cemas saat melihat putranya hendak pergi.


"Aku harus pergi Bu. Aku harus mencari Alena, dan menemui Alana..." Abian ingin bertanya pada wanita itu, apa selama ini Alana tahu apa yang sebenarnya terjadi. Karena seingatnya dia pernah mengatakan pada Alana tentang masa lalu mereka.


Ayuning yang melihat putranya pergi, hanya bisa diam tidak berusaha untuk melarang. Karena dia tahu Abian saat ini sedang diliputi oleh kemarahan dan penyesalan. Sama seperti dirinya yang menyesal setelah mengetahui, menantu yang selama ini dibencinya adalah wanita yang pernah menyelamatkan Abian dan nyawanya.