
Setelah sampai di apartemen, dan Alex yang langsung pergi karena dipanggil sepupunya ke mansion utama. Alena memilih untuk menenangkan diri di dalam kamar, tidur di samping putranya sembari mengingat kembali pertemuannya dengan Abian, juga kebodohannya yang masih saja mencintai pria itu.
Seharusnya Alena membenci Abian, membenci pria tersebut yang sudah menyakiti hatinya berulang-ulang kali, sampai harus melarikan diri dalam keadaan hamil. Bahkan tadi saja Abian kembali menyakitinya, dengan tidak bisa mengenalinya sebagai Alena.
"Bian sayang, apa lebih baik kita kembali saja? Mom tidak sanggup kalau harus bertemu kembali dengan Daddy mu." Lirih Alena sembari mengusap rambut putranya yang tengah tertidur lelap.
Dalam keheningan Alena terus berpikir, hingga akhirnya mengambil keputusan untuk secepatnya kembali ke New York. Masalah pekerjaan, ia akan mengirimkan hasil rancangannya melalui Email seperti yang sudah disepakati dengan pihak Gold, dan akan datang ke Jakarta jika ada pertemuan penting.
Sedangkan untuk acara pernikahan Abian dan Alana, ia memilih untuk tidak jadi datang demi menjaga kewarasannya. Mengingat bertemu Abian saja sudah mampu membuat hatinya tidak karuan, apalagi melihat pria itu menikah dengan saudaranya, entah akan jadi apa hatinya itu.
Tet.. tet.
Mendengar suara bel yang berbunyi, membuat lamunannya buyar berganti dengan kebingungan. Karena tidak biasanya ada seseorang yang datang ke apartemen, mengingat hanya Alex dan Boy yang mengetahui keberadaannya ditempat tersebut. Dan jika Alex yang datang karena ada sesuatu yang tertinggal, pria itu pasti akan langsung masuk karena mengetahui nomer sandinya.
"Siapa ya? Apa mungkin pelayan yang dikirim B?" tanyanya dalam hati sembari berjalan keluar dari kamar menuju pintu depan. Tanpa melihat dulu siapa yang datang, Alena membuka pintu tersebut dan langsung terkejut saat melihat sosok yang berdiri dihadapannya. "A-Abian kau..."
"Alena..." Abian langsung memeluk tubuh wanitanya, tubuh yang selama tiga tahun ini sangat ia rindukan.
Sementara itu Alena yang masih terkejut dengan kedatangan Abian, hanya diam mematung ditempatnya.
Alena yang semula hanya diam saja kini mulai tersadar, dan langsung meronta berusaha melepaskan diri dari dekapan Abian. "Lepaskan aku! Dan bagaimana bisa kau mengetahui tempat tinggalku?" sentak nya sembari terus mendorong tubuh Abian
"Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu lagi," Abian semakin mengeratkan pelukannya. "Aku mohon maafkan aku Alena, maafkan semua kesalahanku."
"Abian lepas!" Alena memukul punggung Abian sekuat tenaga, berusaha agar pria itu melepaskannya. Karena jika mereka terus berpelukan seperti itu, maka dirinya akan ikut hanyut terbawa perasaan.
"Aku mohon maafkan semua perbuatanku selama ini," lirih Abian tanpa peduli punggungnya dipukuli secara membabi buta, bahkan air mata mulai menetes di kedua sudut matanya tanpa dapat ia tahan.
Alena yang masih terluka dengan semua perbuatan yang pernah dilakukan Abian, tidak mempedulikan semua kata maaf yang diucapkan pria itu. Namun saat merasakan pundaknya basah, apalagi tubuh yang memeluknya bergetar hebat dengan suara isakan tertahan, Alena pun terdiam mematung ditempatnya.
"Maafkan aku Alena, maafkan atas semua kesalahan yang ku perbuat. Maafkan si bodoh ini yang tidak bisa mengenali siapa Al nya..."
"Al?"
"Ya, aku sudah tahu kau lah Al ku. Wanita yang sejak dulu aku cintai, cinta pertamaku." Abian mengurai pelukannya, merangkum wajah cantik Alena dengan kedua tangannya.