
Setelah melepas rasa rindu dengan putranya yang baru bisa dipeluk dan diciumnya, Abian pun berinisiatif untuk mengantar Alena yang ingin berkunjung ke mansion utama. Awalnya Alena menolak, tapi pada akhirnya wanita itu mau menerima ajakannya saat Alana mengatakan tidak bisa mengantar Alena karena harus segera ke rumah sakit.
Dan disinilah mereka berada, di dalam mobil dengan keheningan yang melanda karena keduanya saling diam, sibuk dengan segala pemikirannya masing-masing. Hanya ada suara Bian yang sesekali bertanya sesuatu pada Alena, atau mengajaknya berbicara yang membuat suasana di dalam mobil yang kaku menjadi sedikit hangat.
"Besok apa boleh aku membawa putra kita ke kediaman Atmajaya?" tanya Abian pada akhirnya, berinisiatif untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu.
Alena menatap pada pria di sampingnya yang tengah fokus mengemudi. "Bagaimana kabar Ayah dan Ibu?" bukannya menjawab permintaan Abian, Alena justru balik bertanya saat teringat kedua mertuanya. Ya, meskipun dulu ia tidak terlalu dekat dengan kedua orang tua Abian terutama ibu mertuanya. Tapi tak dapat dipungkiri hati kecilnya merindukan mereka, terutama pada Tia adik perempuan Abian yang memang dekat dengannya.
"Ibu dan Tia sehat," ucap Abian dengan lirih.
"Ayah? Bagaimana kabarnya?" Alena mengulangi pertanyaannya, karena Abian hanya menjawab kabar Ibu dan Tia. Entah mengapa perasaannya mulai tidak enak, apalagi saat mendengar suara Abian yang terdengar sedih.
"Ayah sudah tiada..."
"Sudah tiada bagaimana? Apa maksudmu?" tanya Alena dengan jantung yang berdetak dengan cepat. Ia takut membayangkan apa yang ada di pikirannya saat ini menjadi nyata saat mendengar kata tiada.
"Lima bulan yang lalu Ayah sudah kembali kepangkuan sang pencipta, setelah berjuang melawan penyakit jantung yang di deritanya." Abian meneruskan perkataannya tanpa menatap Alena. Ia tidak ingin wanitanya melihat kesedihan yang tengah dirasakannya.
"Innalillahi Wainnailahi Rajiun, tapi Abian bagaimana bisa? Bukankah dulu ayah tidak memiliki penyakit jantung?" tanya Alena dengan tak percaya. Apalagi saat mengetahui ayah mertuanya itu sudah tiada, karena selama ini Daddy nya yang nota bene teman baik ayah Atmajaya tidak pernah memberitahu kabar duka tersebut.
Abian yang ditanya hanya diam saja, pandangannya lurus ke depan tanpa tahu harus menjawab apa.
"Sebenarnya Ayah sudah lama memiliki penyakit jantung, hanya saja beliau tidak pernah memberitahukan penyakitnya itu pada kami. Dan sakit yang di deritanya kambuh saat Perusahaan Atmajaya dinyatakan collapse."
Deg.
Alena lagi-lagi terkejut, ia bahkan sampai tidak bisa berkata-kata saat mengetahui penyebab ayah mertuanya meninggal.
"Aku turut berduka cita Abian, maaf karena permasalahan kita..." Alena tidak bisa meneruskan perkataannya. Hanya air mata yang menetes di kedua pipinya, karena perasaan bersalah dengan apa yang menimpa Ayah mertuanya.
Melihat Alena yang menangis, Abian segera menepikan kendaraannya. "Jangan menangis dan jangan meminta maaf, kau tidak bersalah Alena."
"Tapi Abian, karena aku pergi dan B yang marah hingga membuat perusahaan Atmajaya bangkrut, dan Ayah..."
Ya, Alena memang mengetahui kabar bangkrutnya perusahaan Atmajaya yang dilakukan Boy Arbeto dari Alex. Namun hanya sebatas kabar tersebut, tentang kabar selanjutnya Alena tidak mengetahui apa pun lagi tentang keluarga besar Atmajaya.
Abian menggelengkan kepalanya. "Sebenarnya perusahaan Atmajaya memang sedang tidak baik, sebelum Boy Arbeto membuatnya collapse. Itu sebabnya dengan mudah sepupumu itu membuat perusahaan Atmajaya bangkrut. Tapi yakinlah bukan karena itu Ayah tiada."
"Tapi Abian... "
"Sebelum perusahaan Atmajaya kembali bangkit, dan aku yang berhasil membangun Gold. Keadaan Ayah sudah sangat sehat, apalagi saat mengetahui kau pergi dengan membawa keturunan Atmajaya. Ayah bahkan bersemangat menjalani hidup agar bisa bertemu dengan cucunya. Tapi yang diatas berkehendak lain, Ayah lebih dulu dipanggil tanpa sempat melihat cucunya... " Abian menatap putranya yang duduk dipangkuan Alena dengan mata berkaca-kaca.