Bad Wedding

Bad Wedding
Part 43



Sekar yang baru saja tiba di kediaman Abian, setelah sebelumnya menginap di rumah ke-dua orang tuanya. Menatap pada Alena, Bi Yanti, dan dua orang pengawal tersebut.


"Ada apa ini?" Sekar mengulangi pertanyaannya.


"I-ini.. Non ingin ikut pergi belanja bersama Bibi, tapi mereka melarang," Bi Yanti menunjuk pada dua orang pengawal tuan Abian.


"Tuan memberi perintah pada kami untuk menjaga Nona Alena agar tidak keluar dari rumah, jadi—"


"Sudah aku katakan, Abian memberikan ijin. Kalian saja yang tidak percaya," potong Alena dengan cepat.


Sekar yang diam, menatap dua orang pengawal yang ditugaskan menjaga kediaman Abian. Lalu tatapan matanya kembali menatap pada Alena, pada wanita yang pernah mendorongnya dengan keras hingga terjatuh.


"Dimana Abian?"


"Dia masih tertidur, di kamar ku," ucap Alena dengan setengah berbisik. "Semalam dia sangat kelelahan, jadi —"


"Aku akan bertanya padanya," Sekar yang tidak ingin mendengar omong kosong Alena, hendak masuk ke dalam rumah. Namun langkahnya terhenti saat wanita itu menghalangi.


"Yakin kau ingin bertanya padanya?" Alena mendekat pada Sekar. "Saat ini Abian tidak mengenakan apa pun, jika kau masuk pria itu pasti akan marah besar!" bisiknya.


"Sial!" umpat Sekar dalam hati, mengepalkan kedua tangannya dengan rahang mengeras menahan emosi yang bergejolak di hati, saat membayangkan apa yang sudah terjadi tadi malam diantara Abian dan Alena.


"Biarkan dia pergi! Dan kalian ikut bersama mereka, dan pastikan wanita itu tidak akan berbuat macam-macam!"


"Tapi Nona."


"Kerjakan saja yang aku perintahkan!" ucap Sekar dengan tegas, tanpa mengalihkan tatapannya pada Alena.


"Ayo Bi!" tanpa banyak kata Alena berlalu dari tempat tersebut dengan perasaan cemas dan gelisah. Meskipun dia sudah menebak kedua pengawal Abian akan mengikutinya, tapi tetap saja dia merasa khawatir rencananya akan gagal.


"Alena tunggu!" Sekar berjalan menghampiri wanita itu. "Good luck!" bisiknya dengan senyum penuh arti.


Deg.


Jantung Alena berdebar dengan kencang, menatap pada Sekar yang berjalan menghampiri kedua pengawal.


"Kalian pakai saja mobilku!" Sekar memberikan kunci mobilnya. Karena kebetulan mobil yang tadi dipakainya masih berada di luar gerbang, belum sempat di masukkan.


"Baik Nona!"


Salah satu pengawal mengambil kunci mobil dari tangan Sekar, sementara yang satunya membantu nona Alena dan Bi Yanti masuk ke dalam mobil.


"Apa dia tahu rencana ku?" gumam Alena dalam hati, menatap pada Sekar melalui jendela mobil. Menatap pada wanita yang sebentar lagi akan menikah dengan suaminya, yang semakin tak terlihat karena mobil yang ditumpanginya semakin menjauh. "Stop Alena! Jangan pikirkan wanita itu! Yang harus kau pikirkan sekarang, bagaimana caranya lolos dari kedua pengawal Abian," Alena kembali fokus dengan tujuannya.


*


*


Setelah sampai di supermarket yang dituju, Alena dan Bi Yanti berjalan menuju tempat sayuran & buah. Alena yang membantu memilih sayuran menatap ke belakang beberapa kali untuk memastikan posisi kedua pengawalnya.


"Sial! Mereka begitu dekat," umpatnya dalam hati sembari terus membantu Bi Yanti.


Lama mereka berkeliling mencari barang dan bahan keperluan rumah, sampai Alena dan Bi Yanti dikejutkan dengan bunyi ponsel yang berdering, ponsel yang ternyata milik salah satu pengawalnya. Dan entah mengapa perasaan Alena tiba-tiba menjadi tidak enak, apalagi saat mendengar suara pengawal tersebut yang menyebut kata Tuan.