Bad Wedding

Bad Wedding
Part 95



Sungguh lucu bukan, sepertinya alam semesta sedang memutar posisi mereka dengan begitu apiknya. Dulu dia yang tertindas, dan kini pria itu tengah merasakan apa yang dirasakannya dulu.


"Aku sudah memaafkanmu, jadi pergilah!"


"Benarkah?" Abian hendak mendekat dengan raut wajah bahagia, karena akhirnya Alena mau memaafkannya. Namun kebahagiaan itu hanya sesaat, ketika wanitanya mundur beberapa langkah seperti enggan untuk di dekati. "Benarkah kau sudah memaafkanku?"


Alena menjawab dengan anggukan kepala, lalu bergegas pergi dengan menggendong putranya. Ia tidak mau berlama-lama di dekat Abian, di dekat pria yang pernah menorehkan luka di hatinya.


"Tunggu Al!" Abian menahan langkah Alena dengan menarik lengan wanitanya.


"Aku Alena, Alena Ricardo. Dan lepaskan aku!"


"Kau Al ku!" ucap Abian tanpa melepaskan cekalannya.


"Kau salah, aku Alena Ricardo dan Al mu sudah mati. Dia sudah lama mati saat memutuskan untuk pergi. Al mu sudah mati!" teriak Alena dengan menangis histeris. Sungguh luka itu ternyata masih sangat membekas diingatan, dan tanpa sadar membuatnya berteriak dan kembali menangis .


Melihat Mommy nya menangis dan berteriak, Bian pun ikut menangis dengan ketakutan, apalagi posisinya yang berada di tengah-tengah membuatnya bingung harus melakukan apa.


"Bian sayang, maaf..." Alena memeluk putranya, berusaha untuk memenangkan.


Melihat kedua orang yang dikasihinya menangis, Abian pun melepaskan cekalannya. Ia merasa sangat bersalah, karena lagi-lagi sudah membuat mereka menangis.


"Maafkan aku..." dengan memberanikan diri Abian mengusap kepala putranya yang berada di pelukan Alena. Ada desiran hangat yang mengalir di hatinya saat tangan itu berhasil mengusap lembut putra yang sangat dirindukannya. "Kau benar, Al ku memang sudah mati."


Deg.


Isak tangis Alena terhenti mendengar apa yang dikatakan Abian. Karena tidak ingin mendengar hal yang lebih menyakitkan apalagi putranya masih menangis, ia pun memilih pergi dari tempat tersebut.


Apakah Alena tersentuh dengan semua yang diucapkan Abian, jawabnya tentu saja tidak. Baginya cinta hanyalah sebuah omong kosong yang hanya bisa menyakiti.


Sementara Abian yang masih terpaku ditempatnya, segera menyusul Alena saat melihat kedua orang tercintanya menghilang di balik pintu lift. Tidak lupa ia menghubungi orang-orang nya yang ditugaskan berjaga di halaman apartemen, untuk mengikuti Alena kemanapun wanita itu pergi.


Abian tidak akan menyerah dan putus asa untuk mendapatkan kembali hati Alena dan putranya, terlebih tadi saat ia bisa mengusap kepala Bian, semakin memberinya semangat untuk meluluhkan hati Alena.


Ya, hati Alena. Karena memang benar apa yang dikatakan wanitanya, Al nya memang sudah mati. Yang ada dihatinya kini adalah Alena Ricardo. Jika kalian bertanya bagaimana bisa ia yakin mencintai Alena, karena Abian merasa sangat kehilangan wanita itu, dengan kepergiannya saat ia belum mengetahui wanitanya adalah Al.


*


*


"Kau kenapa?" tanya Alana saat adiknya sudah masuk ke dalam mobil. Dapat ia lihat saudara kembarnya itu seperti habis menangis, juga keponakannya yang seperti ketakutan.


"Tidak apa-apa," jawab Alana dengan singkat.


"Apa karena Abian," Alana menunjuk pria yang baru saja keluar dari apartemen.


Alena hanya diam tidak menjawab pertanyaan Alana, dan meminta saudara kembarnya itu untuk menjalankan mobilnya.


Alana pun mengikuti kemauan adiknya tanpa berniat untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Tapi yang jelas, Abian pasti sudah gagal meluluhkan hati saudara kembarnya itu.


"Kau harus berjuang lebih ekstra lagi Abian Atmajaya."