Bad Wedding

Bad Wedding
Part 84



"Sedang apa kau disini?"


Alena yang terkejut, dan ketakutan hanya mampu diam tanpa bisa menjawab pertanyaan pria yang berdiri dihadapannya. Pria yang memakai setelan jas berwarna hitam dengan rambut tertata rapih itu terlihat sangat tampan, dan lebih terlihat matang setelah tiga tahun lamanya mereka tak bertemu.


"Aku tanya apa yang kau lakukan disini?" Abian mendekat, menatap dengan intens wanita didepannya.


"A-aku...." Alena yang semakin gugup menundukkan kepala. Ia tidak berani menatap mata Abian, menatap pria yang mampu menggetarkan hati dan raganya secara bersamaan.


"Alana kau itu kenapa? Kenapa tidak menjawab pertanyaan ku?"


Deg.


Rasa takut yang sedari tadi merajai hatinya, langsung menghilang berganti dengan kekecewaan saat lagi-lagi pria itu tidak bisa mengenali dirinya. "Apa yang kau harapkan Alena? Dari dulu bahkan sampai dengan detik ini, di mata dan hati Abian hanya ada Alana seorang. Ingatlah di mana posisi mu berada!" gumamnya dalam hati mengingatkan pada diri sendiri.


Sementara itu Ben yang sejak tadi diam berdiri dibelakang Abian, juga merasakan kekecewaan yang sama. Karena lagi-lagi tuannya itu tidak bisa membedakan yang mana Alena, dan yang mana Alana. Hanya karena wanita itu menggulung rambutnya, hingga tak terlihat apakah rambut itu panjang atau pendek.


"Kau kenapa?" Abian mengulangi pertanyaannya karena wanita itu diam saja.


"Aku tidak apa-apa," Alena berusaha untuk tidak menunjukkan kekecewaannya, ia bersikap layaknya Alana agar Abian tidak curiga.


"Syukurlah aku pikir kau kenapa-kenapa."


Alena tersenyum getir saat melihat bagaimana Abian yang begitu mengkhawatirkan Alana, karena dulu pria yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya itu, tidak pernah sekalipun mengkhawatirkan keadaannya.


"Abian aku harus pulang," Alena berjalan dengan terburu-buru, karena tidak ingin Abian menyadari kalau dirinya bukan Alana.


Deg.


Reflek Alena menghentikan langkahnya, berbalik menatap Abian dengan hati yang terluka, karena ternyata pria itu masih menyangka Alana adalah Al. Apakah selama ini Alana tidak memberitahukan kebenarannya? Apakah buku catatan harian miliknya yang tertinggal tidak di temukan dan dibaca pria itu.


Kalau memang seperti itu, berarti Abian pun mungkin tidak mengetahui dirinya yang hamil saat melarikan diri. Karena mungkin saja Alana pun tidak menceritakan kehamilannya, dan Ben pasti tidak memberitahu karena telah berjanji padanya. Secara otomatis Abian pasti tidak mengetahui anak kecil yang bersamanya kemarin dipusat perbelanjaan adalah putra mereka.


"Hati-hati di jalan!" Abian mengusap pipi wanita itu, turun hingga menyentuh bibir.


Alena hanya menganggukkan kepala, karena tubuhnya kini bergetar hebat hanya karena sentuhan yang yang dilakukan Abian. Sebuah sentuhan lembut yang tidak pernah Alena rasakan, kecuali pada saat malam perpisahan mereka. Ya, meskipun Alena tahu sentuhan itu bukan untuknya, tapi ia tetap merasa bahagia di saat hatinya terluka dengan kenyataan yang ada.


"Aku pulang," Alena kembali berjalan keluar dari perusahaan Gold.


Abian yang melihat punggung wanitanya yang semakin menjauh, hanya bisa mengepalkan kedua tangannya.


"Tuan, dia itu..."


"Cepat ikuti mobilnya!" perintah Abian dengan tegas.


"Baik Tuan," Ben segera berlari mengejar nona Alena. Kini dia tahu jika tuannya itu berpura-pura tidak mengenali Alena, agar mereka bisa mengikuti, dan mencari tahu dimana keberadaan wanita itu dan putranya.


Sementara itu Abian yang masih diam berdiri ditempatnya, menatap tangan miliknya yang baru saja menyentuh wajah Alena dengan senyum yang terukir di wajah. Sungguh beberapa menit yang mereka lewati tadi membuatnya gila, dan hampir tidak bisa menahan keinginannya untuk memeluk Alena, memeluk Al nya yang sudah menghilang selama tiga tahun lamanya.