
Mendengar sindiran Abian. Alena yang masih menunduk hanya bisa mengepalkan tangan pada Album foto yang diambilnya. "Ya, itu memang sudah menjadi hobi ku." Alena berusaha tersenyum. "Jadi kau pasti tahu, aku akan tetap membuka album ini meski tanpa ijin mu!" tadinya Alena hendak mengembalikan album foto tersebut, tapi setelah mendapatkan sindiran pedas dari suaminya, membuat Alena marah dan memberanikan diri melawan pria itu.
"Ck.. terserah kau saja," Abian kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa peduli Alena membuka album tersebut, lagi pula album tersebut berisi kenangannya bersama Alana. Dan bukankah bagus, jika wanita itu melihat bagaimana dirinya yang begitu mencintai Alana.
Sementara itu Alena yang sudah kembali duduk di atas sofa, mulai membuka satu persatu album foto tersebut. Hatinya terluka bercampur rasa bersalah saat melihat foto-foto kemesraan Alana bersama Abian. Walaupun Alena tidak pernah menyesali apa yang terjadi, tapi rasa bersalah itu selalu ada di dalam hatinya termasuk rasa iri pada saudara kembarnya itu. Dia merasa iri karena Alana bisa mendapatkan cinta Abian begitu mudahnya, hingga membuat pria itu tidak peduli apapun termasuk kenyataan yang selama ini disimpan rapat olehnya.
...Aku mencintai Alana sejak dulu, saat dia menolongku ketika terjatuh di kolam renang mansion kalian....
...Benarkah? Itu artinya yang kau cintai adalah wanita yang menolongmu saat itu?...
...Ya, dia Alana....
...Seandainya yang menolongmu waktu itu bukan Alana? Misalkan aku, apa kau akan mencintaiku? Sama seperti mencintai Alana....
...Kau itu bicara apa? Sudahlah tidak perlu membasah sesuatu yang tidak mungkin, karena aku tahu jelas wanita itu Alana....
...Tidak akan! Karena hatiku sepenuhnya milik Alana, sekalipun yang menolong ku pada saat itu adalah kau....
Semua perbicangan mereka kala itu masih membekas di ingatan Alena, saat Abian mengakui cinta pertamanya adalah orang yang menolongnya, dan orang itu adalah dirinya bukan Alana.
Semenjak kejadian itulah Alena memutuskan untuk tidak mengungkapkan kenyataan yang sebenarnya, karena Abian jelas-jelas mengatakan tetap mencintai Alana meskipun saudara kembarnya itu bukan orang yang menolongnya. Walaupun itu artinya dia harus memendam rasa cintanya, karena Alena pun mencintai Abian sama seperti yang pria itu rasakan saat pertama kali mereka bertemu. Cinta pertamanya yang jatuh pada seorang anak laki-laki yang terlihat lemah di matanya saat itu, hanya karena laki-laki itu tidak bisa berenang.
"Foto ini..." Alena yang tengah melamun, mengusap foto yang memperlihatkan Abian dan dirinya yang berada di taman belakang kediaman Atmajaya. Alena tertawa saat teringat bagaimana Abian tidak mau difoto berdua dengannya, hingga akhir terpaksa mau di foto karena ayah Atmajaya menatap pria itu dengan tajam.
"Apa yang kau tertawakan?" Abian yang tengah fokus pada pekerjaannya, menatap pada Alena yang tengah tertawa sembari menatap Album foto miliknya.
"Tidak ada," Alena menahan diri untuk tertawa saat teringat kejadian beberapa tahun yang lalu, di mana Abian sampai terjatuh karena berlari setelah selesai di foto.
Ya, sejak kejadian di kolam renang itu. Abian tampak enggak berada di dekatnya. Padahal Alena sering berkunjung ke kediaman Atmajaya bersama Dad Antoni. Tadinya Alena berpikir Abian marah, karena sudah membentak pria itu dengan mengatainya laki-laki lemah karena tidak bisa berenang, tapi kenyataannya anak laki-laki itu menghindarinya karena jatuh cinta padanya.