Bad Wedding

Bad Wedding
Part 66



Deg.


Mendengar penuturan Alana, membuat Abian terdiam tanpa bisa menyalahkan tindakan wanita itu. Karena Alana melakukannya atas dasar mencintai dan takut kehilangannya. Sama seperti perasaannya yang sangat mencintai Alana, karena mengira wanita itu adalah Al nya.


"Setelah mengetahui kebenarannya, aku mencoba bertanya pada Alena apakah adikku itu mencintaimu. Tapi pada saat itu Alena mengatakan dia tidak mencintaimu, dan hanya menganggap sebagai sahabat. Itu sebabnya aku semakin yakin untuk tidak memberitahu, dan meluruskan kesalahpahaman mu yang mengira aku adalah Al. Hingga kejadian malam itu menyadarkan aku, kalau Alena pun mencintaimu sampai nekat melakukan hal kotor demi bisa mendapatkanmu," jelas Alana panjang lebar dengan sedikit emosi saat mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu, saat adiknya tanpa rasa bersalah sedikitpun tidur bersama kekasihnya.


"Tapi seharusnya kau memberitahu kebenarannya, setelah aku menikah dengan Alena."


"Ck.. kau pikir aku punya waktu mengurusi hal seperti itu, di saat hatiku sendiri sedang sakit melihat pria yang sangat aku cintai tidur dengan adikku sendiri sampai akhirnya kalian menikah? Pikir pakai akal dan hatimu Abian Atmajaya!" ucap Alana dengan menggebu. Lagi pula Alana pikir saudara kembarnya itu pasti sudah mengatakan semuanya, karena hubungan Alena dan Abian berjalan dengan baik. Terbukti dengan Alena yang kini tengah mengandung anak dari mantan kekasihnya itu.


"Tapi dengan diam nya kau, sudah membuat aku melakukan kesalahan yang sangat besar Alana."


"Apa maksudmu?" Alana mengerutkan keningnya dengan wajah yang bingung.


"Aku menyakiti Alena, aku menyakiti fisik dan batinnya karena sudah memisahkan cinta kita."


"Abian kau—" Alana menutup mulut dengan kedua tangannya. Dia tidak bodoh untuk mengerti arti perkataan Abian, tapi Alana tidak tahu sampai sejauh mana mantan kekasihnya itu menyakiti Alena.


"Sekarang aku tidak tahu dimana Alena berada, karena kedua sepupumu sudah menyembunyikannya," jelas Abian dengan lirih sembari berdiri dari tempat duduknya. Ia ingin mencari keberadaan Alena, dari pada duduk diam dengan menyalahkan orang lain dan dirinya sendiri.


"Abian tunggu!" Alana menarik tangan mantan kekasihnya itu. "Setelah kau mengetahui semuanya, kini siapa yang ada di hatimu? Aku atau Alena?"


Abian terdiam. Ia menatap wajah cantik Alana yang serupa dengan wajah Alena, karena kedua nya adalah saudara kembar identik.


*


*


Tiga tahun kemudian.


Di sebuah taman kota yang dipenuhi oleh anak kecil yang tengah bermain bola, terlihat sosok wanita cantik yang tengah duduk, dengan rambut panjangnya yang bergerak seiring tiupan angin. Padangan mata wanita itu hanya tertuju pada satu anak kecil berwajah tampan, yang sedang bermain dengan seorang pria dewasa.


"Bian..." Alena berlari saat melihat putranya terjatuh.


Ya, wanita cantik itu adalah Alena Ricardo. Wanita rapuh yang selalu menangis setiap malamnya, kini menjelma menjadi sosok yang kuat dan dewasa. Sebuah perubahan yang tidak mudah, mengingat keadaan Alena dulu yang tengah mengandung tanpa di dampingi suami. Jika bukan karena kehadiran putranya yang kini berusia dua tahun lebih, mungkin Alena tidak akan bisa sekuat sekarang.


"Sudah Mom katakan jangan lari-lari!" Alena mengangkat putranya yang tengah menangis sambil bergumam memanggilnya mommy.


"Alena.. anak laki-laki jatuh itu sudah biasa, jangan terlalu dimanja supaya Bian menjadi anak yang tangguh dan tidak cengeng."


"Alexander...! Tahu apa kau tentang anak-anak? Kau itu belum mempunyai anak, jadi dengan mudahnya mengatakan jika terjatuh adalah hal yang biasa," ucap Alena dengan emosi.


Alex terdiam saat melihat kemarahan di wajah Alena. "Maaf jika aku salah bicara."


Alena yang tersadar dengan ucapannya yang keterlaluan, menatap pada Alex dengan wajah penuh penyesalan. Ia merasa bersalah sudah memuntahkan emosinya pada pria itu, pada Alex yang sudah tiga tahun ini menjaganya dan selalu ada di sampingnya, menemani Alena dalam suka dan duka.