Bad Wedding

Bad Wedding
Part 103



Mendengar ungkapan kekhawatiran yang dilontarkan wanitanya, tentu saja membuat rasa amarah di hati Abian pada Sky menguar begitu saja berganti dengan rasa bahagia. Bahagia karena secara tidak langsung Alena masih memiliki rasa perhatian yang cukup besar untuknya, dan otomatis masih ada cinta di hati wanita itu.


"Kau takut aku terluka?" tanya Abian untuk memastikan apa yang didengarnya tidak salah.


Alena hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Abian. Sorot matanya sendu bercampur dengan kilatan amarah, karena pria nya itu baru menyadari kekhawatiran yang dirasakannya sejak mereka berada di ruang kerja Sky.


"Jawab Ale?" Abian menyentuh ke-dua bahu Alena, menariknya untuk mendekat.


"Siapa bilang aku mengkhawatirkan mu? Aku hanya—"


Cup


Dengan penuh keberanian Abian mengecup bibir Alena, bibir yang sering berkata ketus yang sudah tiga tahun ini tidak dirasakannya.


"Kau...!" Alena hendak memukul Abian yang dengan lancang mengecup bibirnya. Namun yang terjadi tangannya justru di tahan pria itu dan bibir mereka kembali beradu. Bukan sebuah kecupan singkat seperti yang dirasakannya tadi, tapi sebuah lumayan yang menuntut.


"Kau kurang ajar!" Alena menampar pipi Abian saat ciuman itu berakhir.


"Ya, dan orang kurang ajar ini suami mu."


"Mantan suami, karena secepatnya aku akan mengurus perceraian kita!"


"Tidak akan pernah ada kata perceraian, Ale! Jika pun ada, hanya kematian yang akan membuat kita berpisah," ucap Abian dengan tegas tak terbantahkan.


Mata keduanya kini saling menatap dengan tajam, tak ada yang mau mengalah untuk mengakhiri pertengkaran tersebut. Hingga akhirnya Abian yang lebih dulu menurunkan ego nya dengan menatap lembut wanitanya.


"Bukankah kau bilang sudah memaafkan ku, jadi tidak ada salahnya kita memperbaiki dan memulai semuanya dari awal?"


"Memulai dari awal?" Alena tertawa mengejek. "Aku memang sudah memaafkan, tapi bukan berarti melupakan semua yang telah terjadi. Semua rasa sakit itu masih terpatri jelas diingatan ku, jadi bagaimana mungkin aku bisa memulai semuanya dari awal? Bagaimana caranya?" tanyanya sembari berlalu meninggalkan Abian yang masih terpaku ditempatnya.


Hingga membuat langkah Alena terhenti, meski tak menoleh kebelakang.


"Aku mohon percaya padaku untuk sekali ini saja," lirih Abian dengan semua kesakitan yang ia rasakan.


Karena sejatinya bukan hanya Alena yang terluka, ia pun terluka bahkan mungkin berkali-kali lipat dari yang dirasakan wanita itu. Terluka karena rasa bersalah dan penyesalan, saat mengetahui wanita yang selama ini disakitinya ternyata cinta pertamanya. Dan luka itu semakin bertambah saat mengetahui wanita nya pergi dalam keadaan mengandung.


Abian bahkan tidak bisa berada di samping putranya, saat anak itu lahir ke dunia. Tidak bisa melihat bagaimana wajah putranya itu, dan kehilangan momen berharga dalam tumbuh kembang anak tersebut. Bahkan sampai detik ini Abian belum pernah memeluk dan mencium anaknya itu. Jadi apakah semua kesakitan yang ia rasakan selama tiga tahun ini, belum cukup untuk membuat Alena nya mau memberikan kesempatan.


"Percaya padamu hanya akan membuat hatiku kembali sakit, jadi lupakan saja.."


"Oke, mungkin hatimu masih belum bisa memberikan kesempatan bagi hubungan kita. Tapi aku mohon beri kesempatan bagi hubungan ku dengan anak kita. Aku Daddy-nya, aku berhak untuk bertemu, memeluk, dan mencium putraku."


Deg.


Alena reflek menatap kebelakang, menatap pada Abian yang dengan beraninya mengatakan sebuah hak pada putranya.


"Kau tidak punya hak sedikitpun pada Bian! Dia putraku, karena aku yang mengandung dan melahirkannya."


"Dia juga putraku, karena tanpa aku mana mungkin kau bisa hamil."


"Kau..!"


"Aku tidak akan merebut Bian, jika itu yang kau takutkan. Aku hanya ingin membayar apa yang telah hilang selama ini, dengan memberikan kasih sayang pada putraku. Apa itu salah?" tanyanya sembari menekuk kedua lututnya tepat dihadapan Alena. "Aku mohon..."


Melihat bagaimana Abian berlutut, hanya agar diberikan kesempatan untuk hubungannya dengan putra mereka, tentu saja membuat Alena terkejut dan juga bingung. Apa ia harus memberi kesempatan itu atau tidak bagi pria yang bernama Abian Atmajaya.