Bad Wedding

Bad Wedding
Part 55



Boy menyanggupi keinginan Alena. Dia segera menghubungi Alex, untuk menugaskan pria itu menjadi pengawal pribadi Alena. Karena hanya Alex, orang yang paling di percaya untuk menjaga sepupunya itu.


"Alex akan membawamu ketempat yang aman untuk kalian!" ucap Boy setelah menutup ponselnya.


"Kalian?" Aluna mengerutkan keningnya dengan bingung, karena dia belum mengatakan apa pun untuk ikut bersama Alena. "Aku diijinkan ikut?" tanyanya dengan penuh semangat.


"Bukan kau."


"Bukan aku? Lalu Alena akan pergi bersama siapa? Tidak mungkin dengan A bukan?"


Boy tidak menjawab pertanyaan Aluna, dia hanya tersenyum penuh arti pada Alena.


"Jaga keponakanku! Dan mulai hari ini aku ada bersama kalian!"


Deg.


Alena yang terkejut, langsung tersenyum sembari mengusap perutnya yang masih datar. Dia kagum pada Boy dan Agam, yang berhasil mengetahui kalau dirinya sedang mengandung. Entah siapa yang memberitahu berita kehamilannya itu, dan kemungkinan besar mungkin Alana yang sudah memberitahu mereka.


"Keponakan? Keponakan siapa? Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?" tanya Aluna dengan bingung saat melihat Boy, Agam, dan Alena tersenyum. Tapi ralat, hanya Boy dan Alena. Karena Agam seperti biasanya datar tanpa ekspresi apapun.


"Nanti akan aku ceritakan," jelas Alena.


"Baiklah semua sudah selesai, dan untuk urusan suamimu kami akan memberikan hadiah yang setimpal dengan perbuatannya selama ini. Bukankah sudah lama kita tidak berolahraga A?"


Agam yang ditanya hanya menarik satu sudut bibirnya dengan tersenyum sinis.


"Jangan B! Aku mohon jangan sakiti Abian, dan jangan membuat keluarga Atmajaya hancur," pinta Alena dengan memohon. Walau bagaimanapun Abian adalah ayah dari janin yang sedang dikandungnya, dan Alena tidak akan tega melihat pria yang sangat dicintainya terluka, terlepas dari semua perlakuan Abian selama ini.


Alena juga tidak mau sampai keluarga Atmajaya hancur, karena keluarga Atmajaya adalah teman baik Dad Antoni. Jika sampai bisnis keluarga Atmajaya hancur pasti Daddy nya akan tahu apa yang terjadi dengannya. Dan Alena tidak mau sampai itu terjadi. Sudah cukup satu kesalahan yang diperbuatnya sampai membuat Dad Antoni dan Mom Daisy bersedih, dia tidak mau Mom dan Dad nya tambah bersedih ketika mengetahui apa yang terjadi selama ini padanya.


"Ck.. kau masih membela pria brengsek itu? Pria yang berani main tangan dengan seorang wanita bukanlah pria yang baik Alena Ricardo!" Agam sangat membenci seorang pria yang tidak bisa menghormati, bahkan sampai berani melukai wanita.


"Aku bukan membelanya. Tapi Abian melakukan semua itu karena aku yang menyakitinya lebih dulu, jadi wajar dia membenciku dan—"


"Sudah cukup!" Boy memotong pembicaraan tersebut. "Lebih baik sekarang bersiaplah! Alex sebentar lagi akan datang!" Boy mengajak Agam untuk keluar dari ruangan tersebut.


"Tapi B.. " Alena berdiri dari tempat duduknya, berjalan menghampiri Boy dan Agam. "Aku mohon jangan sampai menyakitinya terlalu parah," pintanya.


Boy dan Agam saling menatap, tersenyum penuh arti lalu berjalan kembali.


"Tunggu!" Alena kembali menahan langkah kedua sepupunya. "Jika selama ini kalian tahu apa yang terjadi denganku, kenapa baru sekarang kalian datang?"


"Pertanyaan yang sama yang ingin aku tanyakan. Kenapa baru sekarang kau menyerah dan melarikan diri?" Boy menjawab pertanyaan Alena dengan pertanyaan lainnya, hingga membuat Alena terdiam.


"Aku..."


*


*


"Bagaimana?" tanya Abian pada asisten pribadinya. Karena saat ini dia sudah berada di ruang kerjanya, bersama dengan Ben yang sedang menerima laporan dari para anak buah mereka yang ditugaskan mengawasi kediaman Arbeto dan Mateo.


"Nona Alena berada di kediaman Arbeto," jawab Ben setelah menutup ponselnya.


"Bagus, sekarang juga aku akan menjemputnya." Dengan cepat Abian mengambil kunci mobilnya.


"Untuk apa Tuan?" tanya Ben, yang berhasil membuat Abian menghentikan langkahnya. "Untuk apa Anda menjemputnya?"


"Kau itu bodoh ya? Tentu saja untuk membawanya pulang."


"Membawanya pulang untuk menyakitinya lagi?" tanya Ben, tanpa peduli tuan nya itu akan marah.


"Itu bukan urusanmu! Dan asal kau tahu Alena itu masih istriku, dan tidak boleh ada satu orang pun yang membawanya tanpa seijin ku!"


"Anda sangat egois!"


"Apa kau bilang?" Abian mencengkram kerah kemeja Ben.


"Anda egois dan tidak berperasaan!" Ben mengulangi ucapannya, bahkan menambahkannya. "Anda sangat membenci Nona Alena, jadi untuk apa menjemputnya jika hanya ingin menyiksanya lagi. Sudah cukup selama ini Anda melukai batin dan raganya, jadi aku mohon biarkan dia pergi."


"Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah membiarkan dia pergi, sebelum rasa sakit ini hilang!" Abian menghempaskan Ben dengan kasar hingga membuat asistennya itu hampir terjatuh.


"Mau sampai kapan Tuan membencinya? Bahkan Nona Alana saja sudah bisa merelakan Anda bersama adiknya, lalu kapan Anda akan menerima takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan?"


"Apa maksudmu?" Abian menggeram dengan penuh emosi, saat Ben menyebut nama Alana, menyebut nama wanita yang sangat dicintainya.


"Anda dan Nona Alana tidak berjodoh, itu sebabnya kalian tidak bisa bersama. Dan mungkin Tuhan sudah menggariskan Anda berjodoh dengan Nona Alena, meskipun diawali dengan cara yang salah. Bukankah jodoh, rejeki, dan maut sudah menjadi ketetapannya? Jadi tidak sepantasnya Anda terus berlarut dalam kesedihan dan kebencian."


"Takdir Tuhan? Jodoh?" Abian tertawa sinis. "Tahu apa kau tentang semuanya? Kau bahkan tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan wanita yang sangat kau cintai, wanita yang sejak lama berada di hatimu dan menjadi cinta pertamamu, tiba-tiba saja tidak bisa kau miliki. Rasanya sangat sakit Ben," lirih Abian dengan mata berkaca-kaca.


Ben menghela napasnya dengan kasar. "Setidaknya lepaskan Nona Alena, agar rasa sakit Anda berkurang."


Abian terdiam, logikanya berpikir untuk melepaskan Alena karena dia pun ingin berdamai dengan masa lalunya. Namun entah mengapa disudut hatinya yang terdalam, ia merasa tidak rela jika istrinya pergi. Abian seperti hilang arah dan hilang tujuan jika Alena pergi darinya, karena entah sejak kapan wanita itu menjadi tujuan dalam hidupnya, meskipun entah tujuan balas dendam atau apapun.


"Tidak bisa!" Abian menggelengkan kepalanya. "Aku harus membawa Alena kembali!" ia bergegas keluar dari ruangan.


"Tunggu Tuan!" Ben mengejar tuannya. Dia harus menggagalkan rencana tuan Abian yang ingin membawa Alena pulang, karena demi kebaikan keduanya.


Ben tidak mau Alena sampai disakiti lagi oleh Abian, dan dia pun tidak ingin melihat tuannya dihabisi oleh Boy Arbeto dan Agam Mateo, yang pastinya sudah mengetahui apa yang terjadi selama ini pada sepupu perempuan mereka.