
"Masuklah!"
Dengan senang hati Alana masuk ke dalam apartemen. Sementara Alena langsung menutup pintu, saat Abian hendak ikut masuk ke dalam.
"Duduklah Al!"
"Apa dia keponakanku?" Alana tidak mempedulikan perkataan Alena, ia justru berjalan mendekat pada sosok anak laki-laki yang tengah asik bermain tanpa terganggu sama sekali dengan kedatangannya. "Siapa namanya?"
"Bian Atmajaya."
Alana tersenyum, mengusap rambut keponakannya lalu memeluknya dengan air mata yang mulai menetes kembali dikedua pipinya. Sungguh ia merasa bersalah karena menjadi salah satu penyebab keponakannya itu terlahir tanpa kehadiran seorang ayah. Karena keegoisannya yang menutup mata kalau adiknya pun mencintai Abian, sudah membuat banyak hati terluka termasuk keponakannya yang masih kecil.
Bian yang merasa acara bermainnya terganggu, langsung menatap kebelakang. "Mommy—" kini bukan hanya terganggu, tapi Bian bingung saat melihat Mom nya ada dua orang.
Alena yang mengerti putranya kebingungan, berjalan mendekat lalu duduk disamping Alana dan Bian.
"Aunty ini saudara kembar Mommy."
Bian yang masih bingung hanya diam, masih menatap kedua wajah yang begitu mirip bagaikan pinang dibelah dua. Namun saat dia tahu yang memeluknya bukan Mommy nya, Bian pun berontak dan berlari pada Mom yang sesungguhnya.
"Kau benar-benar sangat mencintainya, terbukti dari wajah putramu yang sangat mirip dengan Abian Atmajaya." Alana tersenyum menatap wajah Bian yang terlihat bersembunyi malu-malu menatapnya.
"Al..."
"Dia mencarimu selama tiga tahun ini."
"Al aku tidak mau membicarakannya."
Perbicangan mereka pun mengalir seperti air, bahkan tawa canda mengiringi keduanya saat membicarakan tentang Bian. Hingga di satu titik tawa bahagia itu berganti dengan raut kesedihan saat perlahan Alana membahas masa lalu keduanya yang berkaitan dengan Abian Atmajaya. Pria yang sama-sama mereka cintai, dan pria yang sudah membuat ke-duanya tega melukai satu dan lainnya hanya untuk mendapatkan seorang Abian Atmajaya.
"Aku sangat menyesal Alena, setelah tahu Aluna lah yang sudah menjebak kalian."
"Tapi kejadian malam itu bukan sepenuhnya salah Aluna, aku yang tidak bisa menjaga perasaanku yang ingin memiliki Abian. Aku yang dengan bodohnya menyerahkan diri, hingga membuat hubungan kalian jadi putus." Alena menundukkan kepalanya.
"Kita berdua salah, karena aku pun menutup mata dan hati pada kenyataan kalau kau juga mencintai Abian. Aku yang tidak mau memberitahu lebih jelas pada Abian kalau Al nya adalah kau."
Baik Alena dan Alana saling terdiam setelah sama-sama saling mengakui kesalahan yang telah mereka perbuat. Keduanya kini merasa lega setelah mengungkapkan apa yang menjadi ganjalan selama beberapa tahun belakangan. Kini sudah tidak ada lagi rasa egois, sudah tidak ada lagi rasa dendam, kemarahan, terluka, dan kecewa. Semuanya sudah kembali ketempat semula, dimana mereka saling menyayangi dan mengasihi.
"Oh ya, selamat Al sebentar lagi kau akan menikah dengan Abian." ucap Alena dengan berbesar hati.
"Menikah dengan Abian?" Alana mengerutkan keningnya dengan bingung, namun di detik selanjutnya ia tertawa saat teringat rencana mereka untuk membuat Alana datang ke Jakarta. "Ale sebenarnya kami itu —"
"Tidak perlu menjelaskan apa pun, aku tidak masalah karena perceraian kami tinggal menunggu putusan dari pengadilan. Kau dan Abian berhak bahagia, setelah apa yang kulakukan dengan memisahkan kalian."
Tawa Alana terhenti, berganti dengan senyuman tipis saat melihat masih ada kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka karena seorang Abian Atmajaya.
"Aku dan Abian tidak akan menikah, tidak akan pernah."
Deg.
Kini Alena yang terdiam tanpa bisa berkata-kata, karena begitu terkejut mendengar perkataan Alana. Bagaimana mungkin saudara kembarnya itu mengatakan tidak akan menikah dengan Abian, padahal jelas-jelas wanita itu memberikannya surat, meminta agar dirinya datang di acara pernikahan mereka.