
Abian berjalan menuju mobilnya untuk pergi ke mansion utama. Ia akan menjemput Alena dengan segala resiko yang ada, karena tahu dengan jelas siapa yang menjadi lawannya. Namun belum sempat ia masuk ke dalam mobil, beberapa pria berpakaian hitam dengan tubuh kekar menghampirinya.
"Tuan Abian Atmajaya, silahkan ikut kami!"
"Siapa kalian?" Tanya Abian dengan tegas. Meskipun orang-orang yang berdiri di hadapannya bukanlah orang sembarangan karena terlihat dari fisik mereka, namun dia tidak gentar sedikitpun. Apalagi saat menyadari kemungkinan besar orang-orang tersebut adalah para pengawal pribadi keluarga Arbeto atau Mateo.
"Kami diperintahkan oleh Tuan Boy Arbeto untuk membawa Anda."
Abian tersenyum sinis, karena tebakannya benar bahwa orang-orang tersebut adalah para pengawal keluarga Arbeto. Jika sudah seperti ini, maka dapat dipastikan Alena sudah menceritakan semua yang terjadi pada kedua sepupunya. Tapi Abian tidak perduli, karena yang terpenting saat ini adalah membawa Alena pulang, walaupun entah untuk apa dia melakukan semua itu.
"Katakan pada Tuan kalian, aku tidak punya waktu untuk meladeninya," Abian hendak masuk ke dalam mobil, namun dengan cepat orang-orang tersebut menariknya dengan paksa. Ia pun tidak tinggal diam, melawan dengan menjatuhkan beberapa dari mereka.
"Lepaskan dia!" Ben berjalan dengan cepat bersama anak buahnya untuk membantu tuan Abian.
Para pengawal yang diperintahkan tuan Arbeto, menatap dengan tajam ke semua lawannya. Jika dilihat tentu saja kekuatan mereka akan dengan mudah mengalahkan anak buah tuan Abian Atmajaya. Namun tugas mereka saat ini adalah membawa tuan Abian, tanpa menimbulkan kerusuhan.
"Anda ingin ikut bersama kami ke mansion utama dengan baik-baik, atau terpaksa kami—"
"Aku akan ikut," ucap Abian dengan cepat saat mendengar nama mansion utama disebut, karena itu artinya dia akan bertemu dengan Alena.
"Dengar Ben! Jika dalam waktu dua jam aku tidak kembali, bawa anak buah kita bersama petugas kepolisian ke mansion utama!"
"Tapi Tuan," Ben merasa khawatir dengan keputusan yang diambil tuannya.
"Aku percayakan semuanya padamu!" Abian menepuk pundak Ben sebelum masuk ke dalam mobil. Ia tahu apa yang akan dihadapinya tidak lah mudah, tapi Abian tidak punya pilihan lain selain mengikuti permainan mereka. Karena hanya dengan cara itulah, dia bisa masuk ke dalam mansion utama dan bertemu dengan Alena.
Sementara itu Ben yang masih berdiri di tempatnya, hanya bisa menatap dengan cemas saat mobil yang dinaiki tuan Abian semakin menjauh. Ia menatap jam yang melingkar dipergelangan tangannya, untuk memastikan waktu yang tepat bagi mereka untuk mendatangi mansion utama. Karena seperti yang diperintahkan tuannya, jika dalam waktu dua jam tidak kembali maka mereka akan mendatangi mansion utama.
Drt.. drt.
Ben menatap layar ponselnya yang berdering, lalu mengangkatnya. "Ada apa?"
"Gawat Tuan, para investor menjual saham mereka secara serentak karena ada isu yang berhembus kalau perusahaan kita akan bangkrut. Jika terus seperti ini perusahaan Atmajaya benar-benar akan bangkrut."
Ben menghela napasnya dengan kasar, ia sudah memprediksi hal itu akan terjadi, apalagi setelah melihat secara langsung tuan Abian dibawa pergi oleh para pengawal keluarga Arbeto.
"Kekejaman dan keegoisan Anda, kini mulai menuai hasilnya..." gumam Ben sambil menutup sambungan teleponnya. Ia harus bergerak cepat dengan menemui tuan Atmajaya, berharap tuan besarnya itu bisa mengatasi semua masalah yang terjadi.