Truth and Revenge

Truth and Revenge
Episode 30 (From Visual to Devil)



Jo tidak meminum obat pemberian istrinya karena dia sudah mengetahui manfaat obat tersebut. Hampir satu minggu Jo tidak meminum obatnya, namun Marcella cukup cerdas karena dia memasang kamera cctv didalam kamarnya tanpa sepengetahuan Jo. Akhirnya Marcella mulai merencanakan sesuatu untuk membuat Jo tidak kunjung sembuh.


Marcella pun menyuruh suaminya untuk meminum obat dan dia mengamatinya.


“Mas waktunya minum obat.” Kata Marcella memberikan obat kepada suaminya.


“Nanti saja aku minum. Berangkatlah ke kantor sayang, nanti kamu terlambat loh.” Kata Jo.


“Pasti dia mengulur waktu, kamu pikir aku tidak tau apa yang terjadi.” Kata Marcella dalam hati.


“Aku akan berangkat ke kantor setelah melihatmu minum obat sayang.” Kata Marcella.


“Memangnya aku anak kecil, aku pasti akan meminumnya kok. Cepat pergilah nanti terlambat loh.” Kata Jo.


“Baiklah aku akan menyuapimu kalau begitu, kalau kamu sudah minum obat pasti aku bisa pergi dengan tenang.” Kata Marcella. Marcella menyodorkan obat kepada suaminya, tentu saja Jo menjadi ketakutan setengah mati namun dia tidak ingin istrinya tau, akhirnya Jo dengan terpaksa meminum obat tersebut.


“Cepat buka mulutnya sayang.” Kata Marcella.


“Bagaimana ini, obat ini akan membuatku sakit tapi aku tidak ingin dia tau.” Kata Jo dalam hati.


“Mas tunggu apalagi? Buka mulutnya sayang.” Kata Marcella.


Saat Jo akan meminum obatnya tiba-tiba Rafa masuk kedalam kamar Jo tanpa mengetuk pintu. Sehingga Jo segera mengambil obat tersebut dan meminumnya. Saat Marcella mengalihkan perhatiannya ke Rafa, Jo segera mengambil obat didalam mulutnya lalu menggenggamnya.


“Kamu bisa mengetuk pintu dulu tidak sebelum masuk kamar orang tua?” Kata Marcella.


“Ada apa Rafa?” Tanya Jo.


“Pa Celine tidak ada didalam kamarnya.” Kata Rafa.


“Apa? Coba kamu telfon dia.” Kata Jo.


“Biar aku yang mencarinya sekalian pergi ke kantor. Kamu jangan khawatir mas, pasti aku bisa menemukannya.” Kata Marcella.


“Tolong temukan Celine ya.” Kata Jo.


“Pasti, aku pergi dulu.” Kata Marcella, lalu dia pergi. Rafa menghampiri ayahnya.


“Celine benar-benar tidak ada didalam kamarnya?” Tanya Jo kepada Rafa.


“Tidak ada pa, aku bahkan tidak bisa menelfon Celine, sepertinya dia mematikan ponselnya. Aduh kamu dimana sih Celine, dia selalu bertingkah ceroboh.” Kata Rafa.


“Apa dia sudah pergi ke sekolah ya?” Tanya Jo.


“Rafa juga tidak tau pa, Rafa pergi ke sekolah dulu ya pa.” Kata Rafa.


“Baiklah, hati-hati ya.” Kata Jo.


**


Di sebuah rumah kosong.


Alexa dan Axelo sedang menyandera Celine. Axelo mengikat tangan dan kaki Celine di kursi lalu giliran Alexa yang beraksi.


“Lepaskan aku, aku mohon. Aku akan penuhi permintaan kalian tapi tolong lepaskan aku.” Kata Celine.


“Aku tidak ingin menyakitimu kok jadi jangan khawatir.” Kata Alexa.


“Sebenarnya kalian ada dendam apa sih denganku sampai kalian memperlakukanku seperti ini?” Tanya Celine.


“Aku mendengar banyak cerita dari teman-teman di sekolah kita kalau kamu itu ketua geng di sekolah dan sering membuli para siswa terutama siswa baru, kamu dengan seenaknya melecehkan mereka yang tidak bersalah, dan aku dengar dari salah satu siswa kalau dulu ada siswa kembar bernama Yanti dan Yanto yang juga merupakan korban buly dan kamu adalah ketuanya. Aku disini hanya ingin melampiaskan amarah teman-teman di sekolah kita yang selama ini takut padamu. Kamu pasti kenal kan dengan Yanti dan Yanto?” Tanya Alexa.


“Mereka pindah sekolah dan itu bukan gara-gara aku, aku juga tidak tau kabarnya. Aku tidak membulinya, aku hanya memberi peringatan kepadanya saja.” Kata Celine.


“Yanti dan Yanto sudah tiada, aku tidak tau penyebabnya tapi yang jelas keduanya telah tiada, aku dengar ibunya bekerja dirumahmu ya lalu ibumu juga yang membunuh ibu mereka. Wah sekolah kita ada anaknya narapidana nih.” Kata Alexa.


“Jangan bicara sembarangan, Yanti dan Yanto tidak mungkin sudah tiada. Kalau memang mereka sudah pergi itu bukanlah salahku, dan satu hal lagi ibuku tidak ada kaitannya dengan kepergian ibunya Yanti dan Yanto.” Kata Celine.


“Lihat aku baik-baik, aku punya buku diary milik Yanti dan Yanto dimana dibuku itu tertulis semua kejahatanmu kepada mereka.” Kata Alexa.


“Aku adalah teman dekat Yanti dan Yanto, tapi keluargaku tinggal di luar negeri, saat aku pindah kesini ternyata dia memberiku buku diary miliknya dan dia ingin aku membalasnya, tidak lama kemudian aku mendengar kabar kepergian mereka untuk selamanya. Memang aku bukan asli dari kampung Yanti dan Yanto, tapi nenekku asli sana, nenekku satu kampung dengan Yanti dan Yanto, dulu aku sering pergi bermain bersama mereka lalu aku pindah ke luar negeri, dan saat aku pindah lagi kesini aku tidak menyangka mereka mengalami hal yang menyedihkan dan itu disebabkan olehmu, tentu saja aku harus membalas dendam kepadamu karena itu keinginan mereka berdua.” Kata Alexa.


“Mereka ditemukan tewas di rumah kosong ini.” Kata Axelo.


“Apa?” Tanya Celine yang kaget dan juga ketakutan.


“Haruskah aku memanggil mereka untuk datang kesini menemanimu?” Tanya Axelo.


“Jangan jangan, apa yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahanku kepada Yanti dan Yanto?” Tanya Celine.


“Kamu harus tunduk kepadaku dan lakukan apapun yang aku perintahkan kepadamu.” Kata Alexa.


“Cepat berlutut.” Kata Axelo sambil mendorong Celine agar Celine mau berlutut didepan mereka.


“Ba baik baiklah.” Kata Celine.


“Kita berhasil juga membuat seorang putri cantik kaya raya menjadi luluh kepada kita hahahaha.” Kata Alexa sambil tertawa.


“Kasihan sekali hahahaha.” Kata Axelo.


“Oh iya aku sudah punya nomor telfon orang tuamu, sebentar lagi ibumu akan datang menjemputmu. Awas kalau kamu berani mengadukan hal ini kepada orang tuamu, aku akan membongkar kelakuanmu kepada sekolah dan juga aku bisa melaporkanmu ke polisi lalu kamu bisa dipenjara.” Ancam Alexa.


“Ayo kita pergi.” Ajak Axelo.


Alexa dan Axelo pergi, ternyata didepan rumah kosong tersebut sudah ada Rahardian dan Marcella.


“Papa mama.” Kata Alexa.


“Bagaimana?” Tanya Marcella.


“Dia menangis ketakutan didalam ma.” Kata Alexa.


“Baguslah kalau begitu.” Kata Marcella.


“Dia masih syok dan kebingungan ma tapi sepertinya dia percaya.” Kata Axelo.


“Kita berpisah dulu ya, sampai jumpa besok di apartemen. Mama akan membuatkan kalian makanan yang paling enak.” Kata Marcella.


“Aku pergi dulu ya mengantar anak-anak ke sekolah.” Kata Rahardian.


“Iya sayang, sampai jumpa besok ya.” Kata Marcella.


Akhirnya Rahardian, Axelo dan Alexa pergi sedangkan Marcella masuk kedalam rumah kosong tersebut.


Marcella masuk kedalam rumah kosong lalu memanggil Celine.


“Celine Celine apakah kamu didalam?” Teriak Marcella.


“Ehm mmmmmmm.” Teriak Celine yang dibungkam mulutnya dengan lakban.


Marcella segera masuk kedalam rumah dan menemukan Celine dalam keadaan terikat.


“Celine.” Panggil Marcella.


Marcella segera melepas ikatan dan lakban Celine.


“Aku takut, bawa aku pergi dari sini.” Kata Celine sambil menangis.


“Apa yang terjadi denganmu memangnya? Aku mendapat pesan dari salah satu temanmu kalau kamu sedang disini.” Kata Marcella.


“Siapa yang mengirim pesan?” Tanya Celine.


“Dia tidak menyebutkan nama, aku langsung pergi kesini.” Kata Marcella.


Lalu Marcella membawa Celine kembali ke rumah.