Truth and Revenge

Truth and Revenge
Bagian 20



Abel sedang menghadiri rapat


komite di sekolah. Selesai rapat wali kelas Laura menghampiri Abel di


ruangannya.


“Selamat siang nyonya, maaf ada


yang ingin saya sampaikan terkait siswa Laura.” Kata wali kelas Laura, sebut


saja Guru Seo.


“Silahkan duduk, ada apa dengan Laura?”


Tanya Abel.


“Sudah tiga hari siswa Laura


tidak masuk sekolah. Apakah dia sedang sakit atau ada masalah? Saya khawatir


dia akan tertinggal, meskipun dia masih duduk di kelas 2 tapi siswa SMA tidak


bisa santai apalagi dia masuk di kelas unggulan.” Kata guru Seo.


“Apa? Dia tidak masuk sekolah.


Maaf sebelumnya karena saya jarang dirumah dan pekerjaan saya sangat banyak


jadi saya kurang memperhatikan dia. Apakah ada kendala dengan belajarnya atau


dikelasnya? Tapi dia masih hadir di kelas vokalnya kan?” Tanya Abel.


“Dia juga tidak hadir dalam kelas


vokalnya nyonya.” Kata guru Seo.


“Baiklah, terima kasih infonya.


Lain kali segera kabari saya atau ke sekretaris saya sekretaris Do.” Kata Abel.


“Baik nyonya, kalau begitu saya


permisi dulu.” Kata guru Seo.


Kemudian Abel menelfon art nya


untuk menanyakan keberadaan Laura.


“Laura dimana?” Tanya Abel.


“Dia sedang pergi ke sekolahnya


nyonya, ada apa?” Tanya art.


“Dia bahkan sudah tiga hari tidak


masuk sekolah, aku membayarmu untuk mengawasinya tapi kenapa aku tidak tau


kalau dia tidak masuk kelas.” Kata Abel sangat marah.


“Tugas saya hanya sebagai art dan


mengawasi apakah nona Laura pergi ke sekolah atau tidak. Jadi bukan urusan saya


nona Laura masuk sekolah atau tidak karena setiap hari dia memakai seragam.”


Kata art, lalu menutup telfonnya.


“Dasar art menyebalkan, berani


sekali dia mematikan telfonku. Lalu Laura pergi kemana, bahkan ponselnya tidak


aktif. Laura-a tolong jangan membuatku cemas dan khawatir seperti ini.” Kata


Abel.


Kemudian Abel menyuruh sekretaris


Do untuk mencari dimana Laura berada.


Abel menemui Lily di tempat


kerjanya.


“Ada apa kamu datang kemari?”


Tanya Lily.


“Dimana kamu sembunyikan Laura?”


Tanya Abel.


“Apa tidak salah kamu bertanya


seperti itu padaku? Bukankah kamu juga yang melarang dia bertemu denganku? Kamu


benar-benar sangat jahat karena telah memisahkan dia denganku maupun ayahnya.


Pantas saja dia melarikan diri, dia tidak pernah menganggapmu sebagai seorang


ibu, jadi sampai kapanpun kamu tidak bisa memilikinya.” Kata Lily.


“Jangan banyak bicara, cepat


katakan dimana Laura?” Tanya Abel sambil membanting semua barang Lily yang ada


di atas meja. Lily pun sedikit ketakutan.


“Aku tidak tau dia ada dimana,


pergi kamu dari sini.” Kata Lily.


“Haruskah aku melakukan kekerasan


kepadamu?” Ancam Abel.


“Aku sama sekali tidak tau dimana


keberadaan Laura, bahkan dia tidak pernah menghubungiku sama sekali.” Kata Lily


sambil ketakutan. Akhirnya Abel kembali pulang.


Dia pun menelfon teman-teman Laura


namun Laura tidak bersama mereka.


Akhirnya Abel kembali pulang ke


rumah. Dan Laura tengah berlatih vokal dikamarnya.


“Laura.” Kata Abel.


“Bisakah kamu mengetuk pintuku


dulu sebelum masuk?” Tanya Laura.


“Maafkan aku, aku hanya khawatir


denganmu sayang.” Kata Abel sambil memeluk Laura.


“Lepaskan aku, aku lelah dan mau


istirahat.” Kata Laura.


“Ada yang ingin aku bicarakan


denganmu tapi lain kali saja, tidurlah kalau begitu. Aku akan mematikan lampu


kamarmu.” Kata Abel.


“Bicara saja sekarang.” Kata Laura.


“Lain kali saja, sekarang


tidurlah. Selamat malam sayang.” Kata Abel sambil mengelus rambut Laura namun


Laura menyingkirkan tangan Abel.