
Jackson membawa Abel ke rumah sakit, setibanya dirumah sakit, dokter segera memeriksa kondisi Abel. Jackson sangat gelisah dan mencemaskan keadaan Abel, di sisi lain Adele berhasil selamat namun dia dijaga oleh pihak kepolisian karena dia ditetapkan sebagai tersangka atas penikaman korban Abel. Tidak lama kemudian dokter yang merawat Abel keluar dari ruang pemeriksaan gawat darurat.
“Bagaimana keadaan istri saya dokter?” Tanya Jackson.
“Pasien berhasil diselamatkan, namun kondisi dia masih sangat lemah karena dia mengeluarkan banyak darah.” Kata dokter.
“Syukurlah kalau begitu, terima kasih banyak dokter.” Kata Jackson.
“Setelah ini pasien akan dipindahkan ke ruang inap.” Kata dokter.
“Baik dokter, tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya.” Kata Jackson.
Keesokan harinya, Abel pun tersadar.
“Sayang, kamu sudah sadar?” Tanya Jackson.
“Bagaimana dengan Adele? Apakah dia selamat atau tidak?” Tanya Abel.
“Dia berhasil selamat.” Kata Jackson.
“Syukurlah dia selamat.” Kata Abel.
“Untuk apa kamu mencemaskan kondisi dia, dia hampir saja membunuhmu sayang.” Kata Jackson.
“Dia harus bertanggungjawab atas semua kesalahannya, tidak adil jika dia tiba-tiba meninggal begitu saja mas, aku ingin dia menderita untuk menebus kesalahannya.” Kata Abel.
“Sekarang lebih baik kamu istirahat kembali, kondisimu masih sangat lemah.” Kata Jackson.
Tiba-tiba datanglah Laura, dia berlari ke pelukan Abel.
“Mama Abel.” Kata Laura sambil menangis.
“Laura, kenapa kamu bisa ada disini sayang? Bukannya kamu kembali ke Korea?” Tanya Abel.
“Maafkan aku ma, ini semua salahku. Maafkan aku, tolong maafkan aku.” Kata Laura.
“Kenapa kamu meminta maaf? Kamu tidak salah sayang, ini semua bukanlah kesalahanmu sayang.” Kata Abel.
“Tidak ini semua salahku, seharusnya mama tidak perlu mengadopsiku dan membawaku kedalam hidupmu. Seharusnya aku tidak tinggal denganmu, dengan begitu Adele dan Jio tidak akan melukaimu. Bahkan aku tidak pantas menjadi anak tirimu, aku penyebab ini semua.” Kata Laura.
“Sejak awal, kamu adalah anakku. Kamu dan Celo adalah anakku, aku tidak peduli meskipun kamu anak tiriku tapi aku sangat menyayangimu dan peduli denganmu.” Kata Abel.
“Tapi akulah penyebab ini semua, orang tuaku yang sangat serakah dan penjahat yang telah menyakiti mama Abel dan juga mama Lily. Aku tidak pantas menjadi anakmu. Setelah ini aku akan tinggal seorang diri, aku tidak pantas menjadi anak mama Abel maupun anak mama Lily, aku bahkan sangat jahat kepadamu.” Kata Laura.
“Ternyata sekarang anakku sudah tumbuh sangat dewasa ya, aku tidak akan membiarkanmu tinggal seorang diri. Kita adalah keluarga jadi kita harus tinggal bersama.” Kata Abel.
“Aku anak durhaka, aku sangat jahat kepadamu.” Kata Laura.
“Mama percaya kamu bisa berubah menjadi anak yang baik dan penyayang.” Kata Abel.
“Mama Lily telah bertemu dengan anak kandungnya, dan anak kandungnya adalah siswi yang dulu satu sekolah denganku dan aku sering membulinya. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi sekarang.” Kata Laura.
“Laura masih punya mama Abel, sampai kapanpun aku adalah ibumu.” Kata Abel sambil memeluk erat Laura.
“Kenapa mama sangat baik kepadaku? Aku akan menjadi putri mama yang baik mulai hari ini, aku juga akan menjaga mama dan menuruti semua keinginan mama, sekalipun jika mama ingin membalas dendam kepada Adele, aku yang akan melakukannya.” Kata Laura.
“Tidak, mama tidak ingin kamu membalas dendam. Jika kamu melakukannya, lalu apa bedanya kamu dengan mereka? Kamu tetaplah anak mereka, dan ibumu kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.” Kata Abel.
“Dia pantas mendapatkannya.” Kata Laura.
“Bisakah aku memaafkan kesalahan dia?” Tanya Laura.
“Tentu saja bisa sayang, putriku kan pemaaf.” Kata Abel sambil tersenyum.
“Aku sangat merindukanmu, aku sangat bersyukur karena Tuhan telah mengirimkan ibu sebaik mama Abel.” Kata Laura.
**
Tiga tahun kemudian.
Hari itu Abel mengajak Laura ke lembaga pemasyarakatan (LP) untuk menemui Adele.
“Aku tidak mau masuk.” Kata Laura.
“Temui ibumu, dia sangat merindukanmu.” Kata Abel.
“Aku takut ma.” Kata Laura.
“Mama akan menemanimu kalau begitu.” Kata Abel.
“Aku akan menemuinya sendiri, mama tunggu saja disini ya.” Kata Laura.
Akhirnya Laura menemui Adele sendiri, sedangkan Abel menunggunya di ruang tunggu.
Adele ternyata sedang menjalani perawatan medis di rumah sakit tahanan. Dia menderita penyakit yang cukup parah karena setelah sidang yang memutuskan bahwa dia dipenjara, dia mengalami stres dan tidak makan maupun minum akhirnya Adele menjadi sakit parah. Dia memikirkan putrinya dan juga tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya bersalah, setiap harinya dia hanya memikirkan putrinya dan semua kesalahannya serta selalu menyalahkan dirinya bahkan tak jarang dia melukai dirinya sendiri seperti menjambak rambutnya sendiri, membenturkan kepalanya, berteriak di tengah malam, bahkan yang paling parah adalah dia pernah hampir membunuh dirinya sendiri dengan menusuk lehernya menggunakan garpu.
Laura menemui ibunya yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit dengan tangannya yang diborgol.
“Dia tidak mau makan, dia seperti orang gila.” Kata perawat yang merawat Adele.
“Bisakah aku bicara berdua dengannya?” Tanya Laura.
“Silahkan, dia sangat ingin bertemu dengan putrinya.” Kata perawat tersebut.
Kemudian Laura mendekati Adele, Adele sedang berbaring membelakangi Laura.
“Bu Adele? Aku datang kemari karena ingin bertemu denganmu untuk yang terakhir kalinya. Aku dengar bu Adele tidak makan dan minum, bu Adele harus sembuh dan jalani sisa hidupmu didalam penjara. Dengan begitu aku dan mama Abel bisa memaafkanmu.” Kata Laura.
Adele mendengarnya namun dia tidak ingin melihat putrinya karena dia sedang menangis, dia tidak ingin putrinya melihat dirinya dalam keadaan sedih.
“Aku sangat membencimu, begitu juga dengan ayahku. Aku membenci kalian berdua sebagai orang tuaku, jika aku boleh meminta lebih baik aku tidak dilahirkan. Namun aku bersyukur bisa bertemu dengan mama Abel dan mama Lily yang sangat menyayangiku layaknya ibu kandungku sendiri. Aku ingin marah karena memiliki orang tua seperti kalian, memiliki ibu sepertimu tapi mereka melarangku untuk membencimu. Apakah ibu ingin putrimu hidup bahagia? Kini hidupku sangat bahagia sejak tinggal bersama keluarga baruku, aku kini tinggal bersama mama Abel dan suaminya bapak Jackson. Mulai hari ini jangan memikirkanku lagi, jalani hidupmu dengan baik disini. Ini adalah terakhir kalinya aku bertemu denganmu, karena setelah ini aku akan melanjutkan sekolahku di Paris, begitu juga dengan orang tua angkatku. Jangan memikirkanku lagi karena hidupku sudah bahagia, terima kasih telah melahirkanku ke dunia ini. Aku tetaplah putrimu sampai kapanpun, aku pamit dulu.” Kata Laura. Tiba-tiba Adele memanggil Laura.
“Bisakah aku memelukmu sebagai tanda perpisahan?” Tanya Adele sambil berusaha untuk tetap tegar dan tersenyum didepan putrinya.
Awalnya Laura ragu dan berat untuk memenuhi keinginan ibunya.
“Aku tidak bisa, aku harus pergi.” Kata Laura.
“Sekali saja, kamu bilang kamu adalah putriku sampai kapanpun kan?” Tanya Adele.
Akhirnya Laura mendekati Adele dan memeluknya. Adele menahan dirinya agar tidak menangis namun tiba-tiba penyakitnya kambuh lagi dan dadanya sangat sesak.
“Maafkan ibu karena tidak bisa menjadi ibu yang baik untukmu, hiduplah bahagia dan jangan hidup seperti ibu. Ibu sangat mencintaimu, terima kasih telah lahir menjadi putri ibu. Satu hal yang sangat ibu inginkan yaitu mendengarmu memanggilku dengan sebutan ibu untuk yang terakhir kalinya.” Kata Adele, lalu dia menghembuskan nafasnya yang terakhir di pelukan putrinya.
THE END