
Yudi baru saja pulang dari mengantar Jo ke suatu tempat, setibanya dirumah dia segera menemui kedua anaknya.
“Bapak baru saja pulang ya? Ini untuk bapak, bapak harus makan yang banyak.” Kata Yanti sambil memberikan makanan kepada ayahnya.
“Terima kasih sayang, kalian sudah makan belum? Kalau belum, kita makan bersama yuk.” Kata Yudi.
“Kami sudah makan kok pak.” Kata Yanto.
“Yanti merindukan ibu pak, Yanti masih tidak percaya bahwa ibu telah pergi meninggalkan kita.” Kata Yanti.
“Yanto tidak yakin kalau itu ibu pak, Yanto sangat yakin bahwa ibu masih hidup dan berada di suatu tempat.” Kata Yanto.
“Bapak juga berpikir seperti itu, tapi kita tidak bisa melakukan apa-apa saat ini selain bertahan dirumah ini.” Kata Yudi.
“Waktu itu Yanti sempat ke kamar ibu dan Yanti menemukan ini di atas ranjang ibu pak.” Kata Yanti.
“Loh ini kan anting milik ibu?” Tanya Yudi.
“Yanti semakin yakin bahwa ibu masih hidup. kenapa kita tidak mencari ibu saja pak.” Kata Yanti.
“Kita harus sabar dan tidak boleh gegabah. Bapak memiliki rencana, kalian mau kan membantu bapak?” Tanya Yudi.
“Tentu saja, kita hanya punya bapak saat ini.” Kata Yanti.
“Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu rencana bapak?” Tanya Yanto.
“Bapak berniat mencari kebenaran ini, bapak sangat curiga dengan tuan Jo dan nyonya Alin, apa mungkin mereka menyembunyikan ibu.” Kata Yudi.
“Bisa jadi begitu pak.” Kata Yanto.
“Kita pasang saja alat penyadap di barang milik tuan Jo dan nyonya Alin.” Kata Yanti.
“Jangan dulu, bagaimana kalau kita membuat mereka berdua saling bermusuhan. Bukankah bapak dan ibu pernah bilang kalau tuan Jo memiliki sebuah ruang rahasia yang berisi semua harta milik tuan Jo, dan nyonya Alin tidak mengetahuinya.” Kata Yanto.
“Boleh juga ide kamu nak, begini saja besok coba kalian pancing emosi nyonya Alin, kalian bahas tentang keberadaan ruang rahasia tersebut dan pastikan bahwa nyonya Alin mendengarnya. Dengan begitu pasti nyonya Alin akan merasa di bohongi oleh suaminya sendiri.” Kata Yudi.
“Jadi secara tidak langsung mereka berdua akan bertengkar.” Kata Yanti.
“KIta harus selalu kompak dan harus selalu bersama-sama ya. Jika juga harus lebih dahulu menemukan keberadaan ruang rahasia tersebut sebelum nyonya Alin.” Kata Yudi.
“Tentu saja pak, aku sangat ingin mengalahkan dan memberi pelajaran kepada Celine dan kakaknya. Oh tidak cukup Celine saja.” Kata Yanti.
“Jika bapak sudah mendapatkan rahasia besar keluarga ini, bapak akan menghancurkan keluarga ini dengan begitu kita bisa menguasai harta milik mereka. Gara-gara mereka, kita jadi kehilangan orang yang sangat kita sayangi.” Kata Yudi.
“Aku akan menghancurkan Celine.” Kata Yanti.
“Tetap saja dia bagian dari keluarga Jo dan Alin.” Kata Yudi.
“Seandainya keluarga kita sekaya dan sehebat mereka ya pak.” Kata Yanti.
“Tidak, jika suatu saat kita menjadi orang kaya raya maka kits jangan seperti mereka yang suka menindas orang lain.” Kata Yudi.
**
Keesokan harinya.
Yanti sedang memasak di dapur, sedangkan Yanto sedang menjemur pakaian. Kemudian Yanti dan Yanto merencanakan rencana yang mereka sepakati semalam.
“Kak bisa tolong aku sebentar tidak.” Tanya Yanti.
“Ada apa?” Tanya Yanto.
“Tolong bantu aku menuangkan sup ini di mangkuk besar.” Kata Yanti.
“Baiklah, tunggu sebentar.” Kata Yanto.
“Terima kasih banyak kak, oh iya kak ibu pernah bilang bahwa tuan Jo memiliki ruang rahasia yang berisi uang dan tumpukan emas, kira-kira dimana ya?” Bisik Yanti.
Mereka sengaja membicarakan hal itu ketika Alin sedang di ruang yoga yang kebetulan dekat dengan dapur. Dan ternyata Alin diam-diam mendengarkan pembicaraan Yanti dan Yanto.
“Aku juga tidak tau, kok ibu bisa tau ya?” Tanya Yanto.
“Ibu kan orang kepercayaan tuan Jo, mungkin saja tuan Jo sengaja memberitahu kepada ibu.” Kata Yanti.
“Tapi apakah ibu tau keberadaan ruang rahasia itu ya?” Tanya Yanto.
“Seandainya ibu masih disini, aku merindukan ibu kak.” Kata Yanti.
“Sama, kakak juga sangat merindukan ibu. Aku yakin ibu tidak melakukan itu, aku yakin ibu masih hidup.” Kata Yanto.
“Aku akan membalas siapapun yang telah melukai ibu.” Kata Yanti.
“Kita harus ikhlas, tidak baik membalas dendam kepada orang lain.” Kata Yanto.
Alin yang mendengar pembicaraan Yanti dan Yanto menjadi terbakar emosi dan segera pergi menemui suaminya.